Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Eddy Roostopo, Mantan Atlet Panahan Tekuni Bisnis Busur dan Anak Panah

Damianus Bram • Selasa, 26 Oktober 2021 | 14:30 WIB
BERPRESTASI: Medali yang pernah diraih Eddy Roostopo saat menjadi atlet panahan. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
BERPRESTASI: Medali yang pernah diraih Eddy Roostopo saat menjadi atlet panahan. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Mencintai sesuatu harus sepenuh hati jangan setengah-setengah. Inilah yang terus menjadi pedoman hidup bagi Eddy Roostopo yang telaten menjekuni produksi busur dan anak panah. Meski usahanya nyaris gulung tikar karena terdampak pandemi, namun tidak membuat semangat mantan atlet panah nasional ini surut.

A. CHRISTIAN, Solo, Radar Solo

USIANYA tak lagi muda. Tahun ini menginjak 66 tahun. Namun tangan keriputnya masih cekatan membuat busur dan anak panah. Dengan cekatan, pria ini mampu mengolah kayu jenis sonokeling, sawo, dan tekik menjadi pegangan busur.

Jenis kayu ini lantas dipadukan dengan bambu jenis petung yang sudah tua di bagian atas dan bawah untuk dikaitkan dengan tali pelontar anak panah. Setelah itu, barulah tali pelontar dipasang. Sebelum dipasarkan, dia mencoba terlebih dahulu tiap busur panah. Bila sudah sesuai standar, barulah dilakukan finishing.

Eddy Roostopo mengatakan, semua orang bisa membuat busur panah. Namun, membuat busur panah yang sesuai dengan karakter pemakainya bukanlah pekerjaan mudah.

“Karakter orang dan karakter busur harus sesuai. Istilahnya busur ini melambangkan diri kita seperti apa,” kata warga Kelurahan Sriwedari, Laweyan ini.

Eddy awalnya tak pernah berencana menjadi perajin panah. Saat itu dia hanya diminta bantuan oleh beebrapa rekannya untuk membuatkan busur dan anak panah. Salah satu keahlian yang dimiliki keluarganya secara turun temurun.

“Waktu itu, setelah selesai membuat panah dikasih rokok sudah senang,” katanya.

Lalu dari mana pengahasillanya? Eddy mengatakan, sebelum fokus pada kerajinan panah tradisional, dia membuka usaha jual beli tanaman. Namun usaha itu gulung tikar pada 1998 karena terkena dampak krisis monenter (krismon) saat itu.

Photo
Photo
ISTIKAMAH: Eddy Roostopo membuat busur dan anak panah. (M. IHSAN/RADAR SOLO)

Eddy mencoba peruntungun dengan membuka jasa tata panggung, namun berhenti setelah berjalan hampir 8 tahun. Tak punya penghasilan tetap, 2008 dia fokus kembali membuat kerajinan tersebut. “Namun saat ini sudah fokus untuk usaha. Kalau dulu untuk selingan saja,” jelasnya.

Usaha zaman dulu tak semudah saat ini yang tinggal posting di media sosial kemudian pembeli bisa datang. Di awal merintis usaha kerajinan ini, dia promosi dari mulut ke mulut menjadi cara memasarkan produknya. Lambat laun pesanan mulai berdatangan. Ketika pemesan mulai banyak, dia memberiankan diri mengajukan utang di bank sebagai modal.

“Saya ingat betul. Waktu itu pinjam Rp 15 juta di bank untuk beli bahan baku dan peralatan. Alhamdulillah, pesanan semakin banyak. Bisa untuk kebutuhan harian dan nyicil bayar utang di bank,” katanya.

Karena terus menjaga kulitas, pesanan datang silih berganti. Dia telah mendapat pesanan dari hampir seluruh daerah di Tanah Air. Lalu berapa seperangkat lengkap busur dan anak panah dijual? Eddy menjelaskan, untuk satu set lengkap dijual antara Rp 1 juta hingga 5 juta, tergantung spesifikasi dan bahan. “Itu dapat busur satu dan 12 anak panah,” ujarnya.

Sebelum badai pandemi korona menyerang, dia bisa mendapat pesanan 40 hingga 50 busur dalam sebulan. Namun permintaan ini menurun di tengah pandemi. Paling banyak dia hanya mendapat 10 pesanan dalam sebulan.

“Pernah sebulan sama sekali tidak dapat pesanan. Saya ingat pesan bapak, yang namanya cobaan harus dijalani. Apapun kendalanya, dijalani dengan ikhlas,” ujarnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#Mantan Atlet Panahan Nasional #Mantan Atlet Panahan Tekuni Bisnis Busur dan Anak Panah #Kisah Mantan Atlet Panah Eddy Roostopo #Eddy Roostopo