Hermawanto, 46 warga Kecamatan Kartasura, menjalankan bisnis industri kayu olahan sudah cukup lama. Selama 20 tahun menekuni dunia perkayuan, pasang surut menjalankan usaha itu bisa menjadi pembelajaran.
Hermawanto yang lebih dikenal dengan panggilan Wawan Cilik, kini menjalankan perusahaanya di Nogosari, Boyolali. Sebuah pabrik seluas 6000 m² lebih berdiri megah sejak awal 2019. Dengan bendera Woodvolio Hamiluhur, Wawan kini mempekerjakan kurang lebih 45 orang.
"Kami kerjakan produksi dua bagian. Ada proyek dan reguler. Kalau proyek, kami mengisi interior-interior villa, hotel, dan kafe. Seperti mengisi kamar dengan tempat tidurnya, almari, meja kursi kamar, sofa, dan sekaligus interiornya. Termasuk kitchen, baik kitchen komersial untuk restoran atau kitchen rumahan
“Kalau reguler, kami produksi garden furniture dan saat ini akan ke Belanda dan Kanada," kata Wawan.
Nyaris semua pekerjaan dilakukan dengan full machinery (mesin), dan tidak handmade. Dengan operator yang sudah berpengalaman dan tukang assembling yang mumpuni. Proses dengan mesin-mesin membuat pengerjaan material kayu lebih halus dan presisi.
Saat ini, perusahaannya tengah menyelesaikan projek villa dengan delapan kamar di Jogja. Kemudian untuk reguler, tengah menyelesaikan order 2-3 kontainer garden furniture ke Belanda.
"Kami banyak gunakan mesin, supaya lebih presisi dan pekerjaan yang cepat. Sehingga kapasitas produksi bisa lebih banyak dan kualitasnya akan sangat baik. Ini seperti moto kita the quality is our patience (kualitas adalah kesabaran kami)," kata Direktur berambut gondrong ini.
Wawan lebih percaya diri mengerjakan order dilakukan di perusahaannya sendiri, dan tidak digarapkan kepada tukang lain di luar perusahaan. Bukan tanpa alasan, dia pernah jatuh bangun saat menerima order, yang pengerjaannya diserahkan kepada perusahaan lain atau tukang lain.
"Saat ini saya tidak berani sub ke yang lain, karena punya pengalaman buruk. Order saya kasih, tapi barang gak jadi. Pernah rugi juga karena kontainer sudah terlanjur datang, tapi barangnya gak ada. Yang saya order lari, gak ada kabar," keluhnya.
Sementara itu Wawan telah memulai usaha di perkayuan sejak tahun 2000 lalu. Sudah 20 tahun lebih menekuni dunia perkayuan, banyak gagal jatuh bangun berulang kali yang sempat dia rasakan. Beberapa kali keluar masuk perusahaan, dan beberapa kali pula mendirikan perusahaan.
"Saya memulai terjun jadi drafter, desainer juga. Lalu coba-coba jadi agency. Sekarang, dengan modal yang ada, kibarkan bendera sendiri. Beruntung, masih banyak buyer waktu di agency yang masih percaya dengan garapannya," ungkapnya.
Terkait material kayu, Wawan menggunakan kayu jati resmi dari Perhutani. Menggunakan kayu resmi, legal membuat perusahaannya lebih dipercaya buyer.
"Kami pakai jati perhutani. Resmi semua. Carinya juga lebih mudah, tinggal ikut lelang," katanya.
Selama pandemi, roda perusahaan tidak berpengaruh. Order sebenarnya terus berdatangan, namun Wawan sadar kapasitas produksi belum bisa banyak, sehingga beberapa order ditunda dulu.
"Kapasitas produksi baru dua sampai empat kontainer perbulan. Saat ini baru bikin oven dengan kapasitas 2-3 kontainer dan rencana tambah mesin, supaya lebih banyak kapasitas produksinya," tuturnya.
Wawan berpesan, untuk yang akan memulai usaha perkayuan, jangan takut untuk berkarya, semakin banyak karya, produknya bisa lebih terlihat dan akhirnya dipercaya oleh buyer dari luar negeri. (kwl/nik/dam) Editor : Damianus Bram