A. CHRISTIAN, Solo, Radar Solo
Kecintaan Sigit dengan janur sudah dimulai sejak 2016. Awalnya pria ini suka dengan seni lipat asal jepang origami. Bentuk origami yang beragam, mulai dari yang tradisional hingga pola-pola rumit memberi inspirasi bagi dia untuk membuat kerajinan dengan bahan lokal.
"Dari situ cari-cari, kira-kira apa ya, yang asli negara kita, tapi bisa dibentuk seperti origami itu. Munculah ide buat kerajinan dari janur. Selama ini kan ada yang dibuat kembar mayang, atau di Bali untuk kelengkapan ibadah," ujarnya.
Dari ide inilah muncul gagasan membuat seni lipat asli dari Indonesia. Sigit awalnya tak berniat menjadi perajin kerajinan janur. Awalnya hanya untuk konten YouTube. Memperkenalkan kerajinan janur kepada anak-anak agar mereka tidak melupakan seni dari negara sendiri.
"Pertama itu saya bikin bentuk-bentuk hewan. Seperti kepiting, kancil dan sebagainya. Kemudian bentuk bunga. Sampai sekarang bentuk yang rumit seperti wayang, terus payung, keranjang, tas dan lain-lain," ujarnya.
Untuk menuat kerajinan janur ini, tidak sulit asal kita telaten dan sabar. Kesulitan ini muncul bila hendak membuat pola-pola baru. Dia mencontohkan wayang. Dia memiliki ide sejak 2016, namun baru bisa membuat janur berbentuk wayang sesuai harapannya pada 2018.
"Memang seperti itu, harus diulang-ulang terus sampai bisa. Nanti kalau sudah paham polanya, tidak sampai sehari biasanya jadi. Jadi ada tiga tingkatan pola, mulai dari dasar, memengah, sampai sulit," katanya.
Untuk bahan sendiri, lanjut Sigit, ada beberapa bahan yang biasa dia pakai, mulai dari daun kelapa, lontar serta siwalan. Tergantung akan membentuk kerajinan apa.
"Kalau untuk hiasan biasanya pakai daun kelapa, tapi kalau untuk kerjainan seperti payung, saya pilih siwalan lebih awet," paparnya.
Dari channel YouTube ini pula, pesanan mulai datang. Para pembeli suka dengan kreasinya karena tergolong unik. Untuk harga dibandrol mulai ribuan hingga ratusan ribu, tergantung kerumintan.
"Ada juga paket dekorasi, saya patok paling minim Rp 1,5 juta. Biasanya untuk dekorasi kafe. Semua saya kerjakan sendiri. Tapi kalau pesanan banyak minta bantuan," ujarnya.
Tak hanya mendatangkan rupiah, karena keahlian membuat kerajinan janur, Sigit juga kerap diundang dalam acara pameran kerajinan tangan. Terakhir saat event Pasar Seni Balekambang pekan lalu. Tak hanya dalam negeri, dua kali dia ke Thailand untuk mengikuti pameran pada 2019 dan awal 2020.
Sigit punya cerita menarik, di mana ada warga negara asing (WNA) sengaja datang ke Indonesia untuk belajar kerajinan janur kepada dia. WNA asal Jepang dan India itu menghubungi dia via email. Intinya keduanya ingin belajar membuat kerajinan janur setelah melihat unggahan video YouTube.
Setelah berhubungan via email, berangkatlah mereka berdua September 2019. Selama seminggu dua WNA ini belajar membuat kerajinan janur di rumah Sigit yang beralamat di Trangsan RT 02 RW 01, Desa Toriyo, Kecamaram Bendosari Sukoharjo.
"Sebenarnya awal 2020 mereka mau datang lagi, malah bawa rombongan. Tapi karena awal 2020 saya pameran ke Thailand itu, akhirnya saya bilang sekitar Maret. Eh, malah ada wabah korona. Akhirnya batal sampai sekarang belum kesampaian lagi," pungkasnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram