Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Bahan Berlimpah, Kerajinan Bambu Terus Berkembang

Damianus Bram • Minggu, 7 November 2021 | 23:00 WIB
KREATIF: Anton Eko Wahyudi dengan berbagai hasil karya kerajinan bambu buatannya. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)
KREATIF: Anton Eko Wahyudi dengan berbagai hasil karya kerajinan bambu buatannya. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Bambu jika dimaksimalkan dengan baik ternyata menjadi sebuah media kreativitas yang bernilai jual tinggi. Bahkan dengan balutan seni, akan menghasilkan karya menarik yang bisa menghasilkan cuan.

Jika banyak yang bilang bambu hanya bisa dimaksimalkan untuk dijadikan pagar atau kandang hewan, tentu pengertian tersebut salah besar. Bambu ternyata juga memiliki daya tarik yang luar biasa. Bahkan bisa jadi bisnis menjanjikan bagi perajinnya.

Di tangan Anton Eko Wahyudi, 35, pria asal Dusun Winong, Desa Pendem, Kecamatan Mojogedang tersebut, menjadikan bambu lebih artistik. Dia bisa mengubah berbagai potongan bambu menjadi beberapa alat rumah tangga yang bisa digunakan sehari-hari.

Kreasi kerajinan bambu yang dia namakan Project Bambu tersebut, ternyata karya kerajinan bambu buatannya sudah bisa tembus hingga ke luar negeri. Seperti di Singapura, hingga Amerika. Projek tersebut, dia mulai kembangkan sejak 2018 silam. Anton mengaku sebelumnya hanya belajar melalui media sosial dan Youtube. Awalnya dia melihat banyaknya bambu yang ada di lingkungannya tidak terawat. Bahkan banyak yang sudah lapuk, dan hanya digunakan warga sekitar untuk kayu bakar saja.

“Awalnya, saya eman-eman dengan adanya kayu bambu itu. Mosok cuma untuk kayu bakar terus. Akhirnya coba membuat dijadikan kursi atau pagar saja. Kemudian saya mencoba belajar dari Youtube, dan akhirnya alhamdulillah, sedikit demi sedikit, saya bisa melakukan kreasi dari bambu itu lebih luas lagi,” kata Anton.

Di awal percobaan, Anton mengaku membuat kreasi kayu bambu dengan membuat lokomotif kereta api. Yang mana dibuatnya untuk dijadikan sebagai bahan mainan anaknya. Setelah percobaan tersebut berhasil, kemudian Anton mulai berpikir untuk mengembangkan beberapa bentuk lainnya dari bahan bambu juga. Tidak hanya lokomotif, bentuk-bentuk lain seperti gelas, termos, hiasan dinding, hingga lampu belajar berhasil dibuatnya. Bahkan saat ini dia mencoba merakit sepeda dari rangka berbahan dasar bambu.

“Mulai dari situlah, kemudian ada yang melirik. Beberapa teman dari Bali, Bandung, kemudian Jakarta.  Beberapa kota besar lainnya yang ada di Indonesia akhirnya mulai mengenal karya saya. Saya coba pasarkan lewat online biar lebih luas jangkauannya, Alhamdulillah banyak yang tertarik,” ucapnya.

Dalam mengembangkan usahanya, Anton mengaku merangkul sejumlah pemuda yang ada di wilayahnya. Khususnya untuk membantu menyelesaikan pemesanan dari sejumlah pemesan. Dia mengakui produk yang paling diminati dari karya tangan Anton, yakni gelas, cangkir dan termos.

“Rata-rata, pemesan terbanyak itu cangkir atau gelas. Kemudian kalau yang instansi itu biasanya termos dengan ukiran nama instansi mereka masing-masing yang memesan. Kalau untuk yang lokomotif kemudian lampu hias ataupun lampu belajar masih jarang peminatnya,” ungkapnya.

Dalam sehari, Anton mengaku bisa menyelesaikan paling tidak 5-10 cangkir atau termos. Sedangkan untuk bahan baku yang dia gunakan, Anton mengaku tidak merasa kesusahan. Lantaran semua bahan yang ia butuhkan sampai saat ini masih ada di lingkunganya. Bahkan di pekarangan rumahnya saat ini masih tumbuh pohon bambu yang bisa dibentuk untuk mendukung usahanya tersebut.

“Kalau untuk bahan ya alhamdulillah tidak kurang. Karena di kampung masih banyak warga yang menanam atau memiliki bambu, jadi saya tidak khawatir. Jika ada pesanan banyak pun juga tidak masalah,” teranganya.

Ditanya terkait dengan harga, Anton menjelaskan, masing-masing harga untuk kreasi bambu yang dia buat dari tangannya tersebut bervariasi. Untuk kerajinan cangkir atau gelar berkisar mulai dari harga Rp 10.000 hingga Rp 100.000 ribu.

“Ya tergantung pesannya sulit atau gampangnya. Kalau hanya bentuk cangkir saja itu murah, tapi kalau plus dengan ukiran atau nama instansi ya harganya berbeda,” bebernya.

Dalam sebulan, sejak dia merintis usahanya tersebut, Anton mengaku bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp 1,5 juta perbulannya. Bahkan dalam situasi pandemi yang terjadi sebelumnya. Anton juga mengungkapkan, kondisi tersebut tidak mempengaruhi penghasilan yang dia buat dari hasil dari kerajinannya tersebut.

“Pandemi kemarin ya alhamdulillah tidak pengaruh. Jualnya kan modelnya dikirim. Jadi kalau ada yang pesan, kemudian saya kirim hasilnya,” pungkas pria yang saat ini tinggal hanya bersama anaknya, Axelle, lantaran sang istrinya Sumarsih tengah bekerja di luar negeri tersebut. (rud/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#Project Bambu #Kerajinan Bambu Terus Berkembang #Anton Eko Wahyudi #Kreasi Kerajinan Bambu #Bambu Artistik