Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Ingatkan Staf Muslim saat Tiba Waktu Salat, Rutin Beri Cuti Lebaran

Damianus Bram • Senin, 8 November 2021 | 13:45 WIB
SALING MENGHORMATI: Romo Supranowo dengan Muji dan Suparji di halaman Gereja Santa Perawan Bunda Kristus Wedi kemarin. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
SALING MENGHORMATI: Romo Supranowo dengan Muji dan Suparji di halaman Gereja Santa Perawan Bunda Kristus Wedi kemarin. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Dua di antara enam karyawan di Gereja Santa Perawan Bunda Kristus di Kecamatan Wedi, Klaten adalah muslim. Mereka adalah Mujiono, 60, dan Suparji, 51, yang bekerja sebagai pembantu umum gereja. Lantas bagaimana mereka merawat toleransi dalam kehidupan sehari-hari?

ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo

Seorang pria mengenakan baju batik bewarna cokelat dan berpeci menghampiri Jawa Pos Radar Solo yang baru sampai di halaman Gereja Santa Perawan Bunda Kristus Wedi. Dia adalah Mujiono, 60, atau yang akrab dipanggil Muji. Dalam kesehariannya memiliki tanggungjawab atas kebersihan di sekitar lingkungan gereja.

Dalam perbincangan diketahui Muji sebenarnya sudah pensiun sebagai pembantu umum gereja pada dua tahun lalu. Tetapi dia mengajukan kembali agar dapat bekerja di gereja itu daripada tidak ada kegiatan di rumahnya di Desa Sawit, Kecamatan Gantiwarno.

Muji sebenarnya sudah bekerja di gereja itu sejak 1984. Selama 37 tahun dia merasakan kehangatan toleransi beragama di gereja Katolik ini. Mengingat dia seorang muslim yang taat dengan tetap menjalankan keyakinannya tanpa khawatir kehilangan prinsip beragama. Dari mulai bekerja hingga kini sudah memiliki lima anak dia masih setia bekerja di gereja itu tanpa harus pindah agama.

Awal Mula Muji bisa bekerja di gereja itu dimulai saat dia bekerja di Sendang Sriningsih, Kecamatan Prambanan, Sleman. Sekitar sebulan bekerja di tempat itu dia mendapatkan tawaran dari seorang romo untuk bekerja menjadi petugas kebersihan gereja. Tetapi saat itu dia belum mengiyakan karena harus berdiskusi terlebih dahulu dengan keluarganya.

Usai mendapatkan persetujuan dari keluarga, Muji lantas mulai bekerja sebagai petugas kebersihan gereja di Wedi. Dia pun tak menyangka saat hari pertama bekerja itu diterima hangat oleh pengurus gereja. Bahkan Muji menerima sajadah dan peci untuk sarana beribadah sesuai keyakinannya.

Menariknya, setiap kali azan berkumandang, Muji kerap dingatkan romo untuk menjalankan salat. Dia pun langsung bergegas ke masjid yang berdekatan dengan gereja. Bahkan tak jarang Muji mengumandangkan azan di masjid itu. Sekalipun romo di Gereja Santa Perawan Bunda Kristus berganti berulang kali, tetapi dia selalu mengingatkan Muji untuk taat beribadah sesuai keyakinannya.

“Sambutan dan sikap romo kepada saya sebagai seorang muslim justru mendukung saya untuk tetap menjalankan ibadah sesuai keyakinan. Terlebih lagi tidak pernah mendiskriminasi saya. Justru yang ada sikap saling menghargai,” ucap Muji.

Saat Ramadan tiba, Muji tetap bisa menjalankan kewajibannya berpuasa sebulan penuh. Bahkan ketika Hari Raya Idul Fitri, Muji dan karyawan gereja yang muslim lainnya mendapatkan jatah untuk libur. Romo bersama pengurus gereja pun sering kali bersilaturahmi ke rumah Muji saat momen hari besar agama Islam itu.

“Ketika Lebaran saya pernah masuk untuk bekerja. Tetapi justu saya dimarahi dan diminta pulang untuk merayakan Lebaran,” kenang Muji.

Muji bekerja dari pukul 08.00-15.30 dengan membersihkan halaman gereja hingga mengantarkan makanan untuk romo yang telah disiapkan oleh umat gereja sebelumnya. Muji memilih libur setiap Jumat agar fokus menjalankan ibadah salat Jumat.

“Tak masalah (bekerja di rumah ibadah umat yang berbeda keyakinan dengannya, Red). Apalagi tidak pernah ada pertentangan dari berbagai pihak. Prinsip saya selama bisa membina pertemanan, siapa pun bisa diterima meski berada di lingkungan berbeda keyakinan,” ucapnya.

Sementara itu, karyawan muslim lainnya, Suparji, 51, mengaku tak pernah menerima diskriminasi dari umat gereja sejak bekerja pada 2014. Dia juga menegaskan hingga saat ini tdak pernah ada yang memengaruhi dirinya untuk berpindah keyakinan.

Pria yang tinggal di Desa Tanjungan, Kecamatan Wedi ini memang awalnya sempat ragu-ragu sebelum akhirnya mendapatkan persetujuan dari keluarga untuk bekerja di gereja. Dia pun tak menyangka tetap bisa menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.

“Ada rasa trenyuh bisa bekerja di sini. Tetap bisa menjalankan ibadah sesuai keyakinan saya. Sampai saat ini saya betah bekerja di sini,” ucap Suparji dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

Vikaris Parokial Paroki Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi Romo Emanuel Maria Supranowo Pr mengungkapkan, Muji dan Suparji diterima dengan hangat oleh gereja meski berbeda keyakinan. Dia pun menegaskan tak pernah ada umat maupun romo gereja setempat yang berpikiran maupun mencoba memengaruhi keyakinan kedua karyawan muslim itu.

“Ini sebagai bentuk implementasi toleransi. Hal itu pula yang diajarkan pada agama Katolik untuk hidup rukun, saling menghargai dan berdampingan umat bergama atau berkeyakinan lain,” ujarnya. (*) Editor : Damianus Bram
#Toleransi Beragama di Gereja #Pekerja Muslim di Gereja Katolik #Gereja Santa Perawan Bunda Kristus Wedi #Toleransi Beragama di Gereja Santa Perawan Bunda Kristus Wedi