Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Muhammad Fauzan, Pemuda Difabel yang Karyanya Diakui Nasional

Damianus Bram • Kamis, 11 November 2021 | 15:15 WIB
TEKAD BAJA: Muhammad Fauzan menerima penghargaan dari Kemenpora di Jakarta. (ISTIMEWA)
TEKAD BAJA: Muhammad Fauzan menerima penghargaan dari Kemenpora di Jakarta. (ISTIMEWA)
RADARSOLO.ID - Jangan menganggap kalau kecacatan itu adalah halanganmu, jadikan kecacatan itu sebagai keunikanmu sendiri. Jika menemukan sesuatu yang menarik dalam diri, ikuti saja dan raihlah passion itu. Jangan dengarkan omongan miring dari orang lain. Itu prinsip yang dipegang oleh Muhammad Fauzan, pemuda difabel berprestasi nasional.

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo. 

Sejak kecil, Muhammad Fauzan tidak bisa mendengar. Ada gangguan dalam pendengarannya sejak lahir. Alhasil membuatnya sulit berkomunikasi lantaran dia juga mengalami gangguan bicara. Namun keterbatasan yang dia miliki justru diyakini menjadi sebuah keunikan. Fauzan, baru saja terpilih menjadi Pemuda Difabel Berprestasi Nasional 2021.

Ini membuktikan bahwa menjadi seorang difabel tidak membatasi ruang geraknya dalam berkarya. Sejak kecil, Fauzan terus menggali potensinya menekuni dunia seni. Kegemarannya menggambar membuat orang-orang di sekelilingnya mendorong Fauzan untuk mengikuti berbagai kompetisi.

"Menginjak SMP, saya mengirimkan hasil karya. Saat itu, saya sama sekali tidak terpikir akan menjadi juara. Tapi ternyata karyaku malah diterimanya. Karya pertama itu berhasil jadi juara tiga. Ini yang memacu saya menekuni dunia gambar,” ujar mahasiswa desain komunikasi visual Universitas Sebelas Maret ini.

Prestasi yang diraih Fauzan semakin hari semakin bertambah. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, sampai saat ini dia telah mengumpulkan lebih dari 10 karya yang dinyatakan sebagai juara. Hingga pada suatu kali, dia mendapat kabar dari kerabat terdekat bahwa Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) akan memberikan penghargaan bagi pemuda difabel yang memiliki segudang prestasi pada perayaan Hari Sumpah Pemuda.

"Jadi, aku disuruh buat curriculum vitae (CV) tentang diri sama prestasi-prestasinya, terus dikirim ke Kemenpora. Akhirnya lolos dan diundang ke Jakarta," ujarnya.

Disaksikan oleh jutaan pasang mata masyarakat di Indonesia, Muhammad Fauzan dinobatkan sebagai Pemuda Difabel Berprestasi Nasional 2021.

"Sebenarnya ketertarikan saya terhadap dunia menggambar sudah sejak kecil. Dan sekarang menui hasilnya. Prestasi ini bukan ambisi belaka. Tapi juga pembuktian bagi diri sendiri dan orang lain bahwa saya bisa berkarya melampaui keterbatasan," bebernya.

Fauzan menggemari aktivitas menggambar sejak masih di taman kanak-kanak (TK). Dia mengaku, aktivitas tersebut menghadirkan keteduhan dalam jiwa. Saat menggambar rasanya enak dan bisa santai. Bahkan tak hanya menciptakan keteduhan, menggambar juga dapat memperluas daya imajinasi. Melalui goresan ilustrasi itu, jutaan angan dalam daya pikirnya tercipta.

"Saya terus menggambar dan mulai betul-betul menekuni dunia tersebut saat duduk di bangku SD. Saya mulai serius gambarnya itu saat kelas 5 SD," sambungnya.

Awalnya, saat masih di TK, Fauzan menggambar menggunakan krayon. Namun, daya kreativitas itu terus bertumbuh hingga sekarang. Kini, dia juga menggunakan cat air. Bahkan di era serba teknologi ini, Fauzan juga terus mengasah kemampuan menggambarnya menggunakan alat digital.

Pemuda yang bercita-cita sebagai illustrator itu menceritakan bahwa bakat yang dimilikinya berawal dari perasaan enjoy saat dia melakukan aktivitas kegemarannya, yaitu menggambar. Ini yang mendorong dia terus mendalami dunia menggambar dan mengasah kemampuannya.

Tanpa ada sedikitpun rasa terpaksa, dia dengan senang hati terus mempelajari berbagai macam style menggambar. Ibarat gayung bersambut, kegemarannya tersebut ternyata mendukung impiannya sebagai illustrator dan aminator.

"Ada banyak objek yang tercipta di dalam imajinasi saya yang berhasil lahir dalam bentuk gambar. Mulai dari style anime hingga realis," sambungnya.

Meski harus menggambar dengan berbagai macam style, Fauzan mengaku bahwa dia tak pernah kehabisan inspirasi. Sebab, dia selalu melakukan riset sebelum menggambar suatu objek. Melalui riset itu, Fauzan bisa memperdalam makna gambar yang dia ciptakan sehingga pesan di dalam karya tersebut dapat tersampaikan. Riset juga membantu Fauzan menemukan detail-detail kecil yang bisa membuat hasil karyanya terlihat lebih unik. Salah satunya gambar maskot acara pada salah satu karya yang dibuatnya.

"Selain memperdalam makna gambar, riset juga membantu saya untuk mengenali selera juri dalam kompetisi yang saya ikuti. Sebelum ikut lomba itu, saya cari tau acaranya itu lebih pengin seperti gimana gambarnya. Dan juga lihat-lihat karya juri biar nanti tahu jurinya lebih pengen kayak gimana gambarnya," imbuhnya.

Riset membuat Fauzan lebih percaya diri saat mengirimkan hasil karyanya. Begitupun dengan hasil karya bergaya realisme yang berhasil dinobatkan sebagai pemenang perak kategori mahasiswa pada lomba siapfest. Karyayanya Pusaka Elok Tak Sirna ini juga merupakan hasil riset untuk menemukan perbedaan dari beberapa karya yang sebelumnya pernah dia buat.

Tak hanya memikirkan soal objek apa saja yang akan digambar, Fauzan juga menentukan judul yang sesuai dengan karya yang dibuatnya. Contohnya, Pusaka Elok Tak Sirna memiliki pesan bahwa budaya Indonesia tidak akan hilang meskipun berada di peradaban yang semakin modern.

Baginya, kedua orang tuanya memiliki peran yang sangat besar dalam mendukung bakat dia menggambar. Awalnya, dia hanya menyukai aktivitas menggambar dan melakukan untuk menghabiskan waktu luang. Di saat-saat seperti itulah, Fauzan menyadari bahwa kedua orang tuanya tidak pernah melarangnya melakukan kegiatan menggambar.

"Motivasi saya itu karena orangtua memang mendukung, tidak ada larangan buat berkarya. Jadi, bisa menang penghargaan juga masuk ke motivasi saya buat berkarya lebih lanjut," katanya.

Dukungan penuh yang diperoleh dari kedua orang tuanya juga membentuk rasa percaya diri Fauzan. Dia tidak pernah menganggap keterbatasannya sebagai kelemahan melainkan sebagai keunikan. Kesadaran itu juga diperoleh dari idolanya yaitu Surya Sahetapy yang kebetulan memiliki keterbatasan yang sama.

"Sejatinya, manusia memiliki banyak potensii. Satu keterbatasan tidak berarti menghentikan pontensi lainnya. Sebagai makhluk yang sempurna dan diberi kelengkapan berupa akal dan hati, manusia bisa memaksimalkan daya di dalam dirinya agar terus tumbuh dan senantiasa bermanfaat bagi sesama," pungkasnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#Muhammad Fauzan yang Karyanya Diakui Nasional #Muhammad Fauzan #Pemuda Difabel yang Karyanya Diakui Nasional #Pemuda Difabel Berprestasi Nasional 2021