Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Made by Order, Eksistensi Kerajinan Rajut di Desa Kuwiran, Banyudono

Damianus Bram • Minggu, 5 Desember 2021 | 23:00 WIB
FOKUS: Istiqlaliyah Astriningrum tengah menyelesaikan hasil karya rajun buatannya. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
FOKUS: Istiqlaliyah Astriningrum tengah menyelesaikan hasil karya rajun buatannya. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Seni rajut, jadi salah satu seni kerajinan yang memiliki potensi besar dilirik para penikmat seni. Jika dikembangkan dengan baik, tentu bisa jadi bisnis yang menggiurkan. Hal inilah yang dikembangkan Istiqlaliyah Astriningrum saat ini.

Jari jemari Istiqlaliyah Astriningrum, warga asal Dusun Surolayan Rt 4 Rw 1, Desa Kuwiran, Banyudono, Boyolali tampak lihai. Ibu rumah tangga ini tengah membuat boneka rajut jerapah kuning untuk anak lelakinya. Jarum songket mampu menarik benang nilon dengan rapih. Tanpa perlu menghitung jumlah benang yang digulung dalam songket, secara otomatis tangannya sudah menghafalnya.

"Usaha merajut ini saya rintis sejak 2016. Awalnya hanya untuk mengisi waktu luas sebari mengurus anak. Tapi sempat berhenti saat hamil anak kedua. Karena pas hamil itu moody, baru lanjut lagi saat anak kedua sudah agak besar," jelasnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (3/12).

Kemampuan merajutnya ini ternyata diturunkan dari sang ibu. Disela waktu istirahat, ibunya akan mengajari Isti (sapaan akrab Istiqlaliyah Astriningrum) merajut dan menjahit. Hanya pola-pola simpel dan mudah seperti single crochet. Dia mulai merajut syal, outer, dan lainnya. Hobi merajutnya ini sempat berhenti ketika dia mulai bekerja. Baru setelah anak pertamanya lahir, hobi ini ditekuninya kembali.

Dia mulai memasarkan lewat story WhatsApp dan Instagram pribadinya. Nirmala Crochet, kini menjadi lapak sambilan, sembari menemani sang anak di rumah. Isti menghabiskan waktu untuk mengisi waktu luang dengan merajut. Terutama saat pagi hari dan siang hari ketika pekerjaan rumah telah selesai. Ataupun kala anak-anaknya sudah tidur.

"Saya hobi merajut, ini hobi saja. Pemasaran juga saya posting ada yang pesen. Sampai sekarang made by order. Semua proses merajut, pemasangan furing sampai jahit saya lakukan sendiri," imbuhnya.

Dia mulai mempelajari pola rajut yang rumit secara otodidak. Seperti pola sisik buaya, kipas timbuh, batu bata, dan lainnya. Sedangkan pola yang disuakai customer lebih pada pola granny, sisik buaya, kipas, dan lainnya. Dalam sehari dia bisa menghasilkan satu produk. Baik berupa tas kecil, dan konektor masker. Sedangkan rajutan besar seperti tas dan rajutan pola rumit bisa memakan waktu lama. Bahkan lebih dari seminggu.

Proses merajut tidak semudah yang dibayangkan. Selain harus menghafal jumlah benang yang akan disongket, dia juga harus membagi waktu dengan menjaga anak-anak. Tak jarang ketika hilang fokus, dia keliru menghitung benang yang akan disongket. Alhasil rajutan menjadi bolong. Hal itu pernah dialaminya saat membuat rajutan topi bayi dan tas dengan pola rumit.

"Mau tidak mau ya harus diurai sampai bagian kelirunya. Setiap proyek pernah keliru, bisa langsung dibenerin. Makanya saat membuat harus fokus dan konsentrasi. Lalu saya mulai kembangkan tidak hanya tas dan dompet, tapi juga boneka. Untuk dalamnya saya isi dengan dakron. Selain itu banyak juga pesanan baju, sarung tangan dan kaos kaki bayi," katanya.

Untuk bahannya, dia menyediakan berbagai macam benang. Mulai dari benang nilon seharga Rp 50 ribu pergulung dan benang poli yang lebih murah seharga Rp 11 ribu hingga Rp 15 ribu. Namun, kedua benang tersebut memiliki ciri khas berbeda. Benang nilon cenderung lebih kuat, warnanya mengkilat serta tidak mudah memudar. Sedangkan benang poli cenderung lebih mudah luntur.

Sedangkan harga jual kerajinan rajut berkisar dari Rp 35 ribu untuk dompet sampai Rp 250 ribu untuk tas. Kemudian untuk kerajinan rajut bonek dibanderol Rp 50 ribu. Saat ini pemasaran dilakukan secara online. Terjauh dia pernah menjual sampai Kalimantan. Dalam sebulan dia bisa menerima 4-7 pesanan rajut dan bisa meraup untung hingga Rp 1,5 juta.

"Lumayan untuk jajan anak-anak. Apalagi bikinnya juga gak menghabiskan banyak tenaga. Kalau untuk perawatannya cukup mudah. Ketika dicuci hanya direndam pakai air sabun. Jangan dicuci pakai mesin apalagi disikat, nanti benangnya lepas. Lalu saat penjemuran jangan kena sinar matahari langsung. Cukup diangin-anginkan saja," pungkasnya. (rgl/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#Kerajinan Rajut di Desa Kuwiran #Kerajinan Rajut #Seni Rajut #Istiqlaliyah Astriningrum