Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Demi Ekonomi Keluarga, Penambang Kali Apu Nekat Beraktivitas

Damianus Bram • Rabu, 8 Desember 2021 | 14:00 WIB
TAK MENYERAH: Sukani dan dua rekannya Sami dan Tumini tetap beraktivitas menambang pasir di Kali Apu, Boyolali, meski Merapi bersatus siaga. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
TAK MENYERAH: Sukani dan dua rekannya Sami dan Tumini tetap beraktivitas menambang pasir di Kali Apu, Boyolali, meski Merapi bersatus siaga. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Status siaga Merapi dan hujan deras tak membuat penambang pasir manual berhenti beraktivitas di Kali Apu. Berbekal peralatan seadanya mereka nekat mengeruk pasir di kali itu. Mereka sadar bahaya sewaktu-waktu bisa mengancam. Namun ada sisi lain yang harus mereka penuhi.

RAGIL LISTIYO, Boyolali, Radar Solo

Mendung menggelayut di langit sore kemarin. Namun Sukani belum beranjak dari Kali Apu di Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali. Menggunakan linggis dia menyingkirkan batu-batu kecil agar pasir di bawahnya bisa diambil. Sukani tidak sendiri. Dua rekannya sesama perempuan membantu menyaring pasir yang masih bercampur batu-batu kecil itu agar lebih lembut lagi.

Kali Apu memang menjadi salah satu sungai aliran lahar Gunung Merapi. Meski ditetapkan siaga sejak November tahun lalu, para penambang pasir manual tetap menjalankan aktivitas biasa. Ada belasan penambang manual yang mengandalkan hidup lewat pasir Merapi. Termasuk Sukani, 60, warga Dusun Takeran, Desa Tlogolele, Selo.

"Kalau batu begini gak laku. Yang laku pasirnya yang halus,” ujar Sukani sambil menunjukkan pasir yang masih bercampir batu-batu kecil ditemui di Kali Apu Selasa kemarin (7/12).

Sebenarnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo telah meminta semua aktivitas penambangan pasir manual itu dihentikan. Namun, mereka terpaksa tetap nekat melakukan pekerjaaan ini demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

“Kami tahu Merapi masih status siaga dan sekarang musim hujan. Tapi kalau nggak cari pasir mau makan apa?," ujarnya.

Mereka sadar ancaman lahar dingin dan tebing longsor sewaktu-waktu bisa terjadi dan mengancam keselamatan mereka. Namun karena tidak ada pilihan lain maka mereka hanya mengandalkan tanda-tanda alam bila bencana itu akan datang.

Meski sudah berusia senja, Sukani bersama dua temannya, Sami dan Tumini tidak menyerah. Sebab, bagi mereka, kegiatan menambang pasir sudah menjadi aktivitas sehari-hari. Sebelum fajar mereka akan melewati jalan setapak di pinggir jurang Kali Apu. Mereka membawa alat-alat menambang seperti alat pengeruk, linggis, dan pengayak berukunan 50 meter persegi. Ditemani sebotol minuman teh dan bekal untuk mengisi tenaga.

Mereka akan mencari pasir di sela bebatuan yang dipisahkan dengan diayak. Meski menambang dari pukul 06.00 sampai 17.30, baru dua hingga tiga hari pasir terkumpul satu rit. Itupun hanya laku Rp 100 ribu per rit dan dibagi tiga orang. Namun mereka juga harus siap-siap merana bila banjir lahar dingin turun dan menyapu pasir yang telah mereka dikumpulkan. “Kalau seperti itu ya kami hanya bisa pasrah,” ujarnya.

Bagaimana mereka mengetahui akan datangnya banjir lahir dingin. Sukani mengatakan, ada tanda-tanda alam yang mereka jadikan patokan.

"Kalau bagian lereng yang hujan, biasanya air sungai berubah keruh dan makin lama makin banyak airnya. Kalau sudah begitu kami pulang," jelasnya.

Tak hanya ancaman air bah, tanah longsor juga rawan terjadi. Terlihat di sisi kanan area penambangan Sukani, ada bekas tanah longsor di tebing setinggi 20 meter. Meski terdapat tanah, mereka enggan mengambil. Khawatir terjadi longsor susulan dan mengancam keselamatan. Mereka memilih menambang di tengah-tengah Kali Apu selebar 15 meter.

Penambang pasir lainnya, Sami, 70, mengaku nekat menambang pasir lantaran menjadi sumber pendapatan utama. Dia sendiri memiliki lima cucu. Jika tak membawa uang, dia merasa susah dan tak enak hati. Apalagi saat cucunya meminta uang jajan. Padahal dia hanya mendapat uang Rp 30 ribu saat pasir hasil tambangnya laku.

"Sudah nggak takut lagi (lahar dingin, Red). Kalau nggak nambang gak dapat uang. Dari dulu kerjanya seperti ini. Meski hujan kami tetap cari pasier. Kalau banjir baru pulang. Biasanya sudah ada yang mengambil pasirnya pakai mobil atau truk," katanya. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#kali apu #Tambang Pasir Merapi #Penambang Pasir Lereng Merapi #Penambang Pasir di Kali Apu