Keistimewaan Desa Pranan semakin bersinar dengan sentuhan tangan dingin “Jigong” Sarjanto. Menjabat kepala desa (kades) sejak 26 Desember 2018, pria murah senyum ini berusaha ekstrakeras menjadikan Pranan sebagai desa berdaya saing, khususnya dalam bidang agrowisata.
https://youtu.be/2uWscPUNttI
Memang, saat ini, banyak bermunculan desa agrowisata. Tapi, di Pranan beda. Jigong membuat kekhasan dengan fokus pada buah-buahan. Di antaranya jambu wulung.
Tak salah lulusan Fisip UNS ini memilih buah sebagai andalan. Sebab, 80 persen Desa Pranan bekerja sebagai pedagang buah. Sudah turun-temurun hingga empat generasi.
“Sudah dari zaman simbah (kakek-nenek) saya, warga Desa Pranan berjualan buah," ungkapnya.
Lokasi desa yang strategis mempermudah warganya memasarkan produk buah ke Kota Solo, yakni ke Pasar Legi, Pasar Gede, dan Pasar Harjodaksino. Termasuk ke Klaten, Boyolali, Klaten, Karanganyar, dan Wonogiri. Tidak sedikit pula menyasar pasar di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
"Dulu, banyak yang berjualan ke Wonogiri sampai Baturetno. Waktu itu, kereta api Purwosari-Baturetno masih jalan, belum ada waduk. Jadi jualan naik kereta api. Kalau ada pedagang buah, tanya saja pasti wong Pranan," beber Jigong.
Selama ini, warga Pranan berjualan buah sesuai dengan musimnya. Jika musim semangka, maka jualan semangka. Begitu pula saat musim mangga. Meski tidak menutup kemungkinan berjualan buah lain dalam satu lapak.
Untuk mendapatkan buah, para saudagar buah Pranan nebas alias memborong semua buah di pohon. Mereka lihai memperkirakan banyaknya buah dibandingkan pemilik atau petani buah.
Sekitar 25 tahun lalu, tidak hanya nebas, mereka mulai menanam buah. Pernah suatu waktu, hampir semua kepala keluarga menanam kedondong dan merasakan manisnya panen raya.
Seiring berjalannya waktu, harga kedondong kalah dengan mangga. Sebab itu, warga berbondong-bondong mengganti kedondong dengan menanam mangga.
Kali ini beda lagi. Saat memasuki Desa Pranan, berjejer pohon jambu wulung di halaman rumah warga. Jambu ini berwarna merah tua. Ketika siap panen, besarnya nyaris sekepal orang dewasa. Rasanya manis. Komoditas ini menjadi salah satu andalan dan penyokong perekonomian warga Pranan.
"Awalnya nebas jambu wulung di daerah Jogjakarta. Tapi petani di sana tidak mau lagi ditebas. Akhirnya (warga Pranan) mencari bibitnya dan dikembangkan sendiri hingga menjadi banyak," ungkap Jigong.
Diperkirakan, di Desa Pranan terdapat 2.000 pohon jambu wulung. Jambu dengan kandungan air cukup banyak ini biasa panen saat kemarau dan langka buah.
Melihat potensi luar biasa itu, Jigong didukung seluruh perangkat desa dan masyarakat menyiapkan tanah kas desa seluas 4 hektare untuk agrowisata jambu wulung. Pohon jambu wulung telah berjajar rapi dan sebentar lagi siap panen.
"Kami siapkan infrastrukturnya. Jalan menuju lahan kas desa yang ditanami jambu wulung sudah ditalut," terang Jigong.
Tak hanya itu, memastikan kecukupan air, Pemerintah Desa Pranan membangun embung di dekat kebun buah. Selain untuk irigasi, embung juga sebagai salah satu magnet wisatawan mengunjung agrowisata jambu wulung. (kwl/wa/dam) Editor : Damianus Bram