ANGGA PURENDA, Solo, Radar Solo
Kiprah dr R. Soeharto yang lahir pada 24 Desember 1908 ini sudah tidak diragukan lagi. Perjuangannya pada masa pergerakan nasional hingga pasca kemerdekaan mendampingi dua tokoh proklamator ini menjadi bukti pengabdiannnya kepada negara. Melihat jejaknya itu, ada usulan dari elemen masyarakat yang mengusulkan dia mendapat gelar pahlawan nasional.
Untuk menyakinkan jasa dr R. Soeharto kepada bangsa Indonesia, Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jawa Tengah kemarin menggelar seminar pengusulan R Soeharto sebagai pahlawan nasional di Pendapa Pemkab Klaten.
"Secara akademik memang layak untuk diusulkan jadi pahlawan nasional. Apalagi ibu bupati selaku pemerintah daerah mendukung pengusulan ini," jelas Ketua MSI Jawa Tengah Wasino.
Wasino mengungkapkan, ada dua momen yang membuat R. Soeharto layak untuk diusulkan jadi pahlawan nasional. Pertama saat memastikan kesehatan Soekarno beberapa jam sebelum membacakan teks proklamasi. Tepat pada 17 Agustus 1945, R. Soeharto sempat memeriksa dan mengobati Soekarno yang diketahui sakit malaria.
Kemudian momen kedua saat memfasilitasi pertemuan antara Soekarno dengan Tan Malaka pada 9 September 1945. Saat itu R. Soeharto diminta untuk menyiapkan ruangan yang merupakan klinik pratiknya. Termasuk mendapatkan pesan agar merahasikan pertemuan itu untuk menghindari intaian dari mata-mata Jepang.
"Dua poin besar itu menjadikan R. Soeharto layak diusulkan jadi pahlawan nasional. Apalagi memfasilitasi pertemuan dua tokoh nasional," tambahnya.
Sementara itu, putri kedua dari Soeharto yang hadir dalam acara seminar, Dewi Kamaratih mengungkapkan, pengusulan R. Soeharto menjadi pahlawan nasional ketika hendak menyusun biografi ayahnya. Apalagi usulan ini mendapatkan restu dari anak tokoh proklamator sekaligus Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri.
"Romo (R. Soeharto) merupakan kelahiran dari Tegalgondo yang pada awalnya kami ketahui masuk di wilayah Solo. Ternyata masuk di wilayah Klaten. Hal ini menjadikan Romo orang pertama asal Klaten yang diusulkan menjadi pahlawan nasional," ucapnya.
Dewi mengungkapkan, semasa hidupnya, ada banyak hal yang patut diteladani dari sosok R Soeharto. Terutama keterlibatannya dari masa pergerakan nasional yang membuat dia tidak hanya melaksanakan tugasnya sebagai seorang dokter semata. Tetapi perjuangannya pada masa kemerdekaan semakin membuktikan jika R. Soeharto berjuang untuk mempertahankan NKRI.
Sebagai dokter pribadi Soekarno dan Mohammad Hatta, R. Soeharto juga dikenal sebagai ketua Fonds Kemerdekaan yang bertugas mengumpulkan, menyimpan dan membagi uang untuk perjuangan bangsa Indonesia. Termasuk menyediakan modal untuk pembentukan bank pertama yang didirikan dan dimiliki pemerintah Indonesia.
Sosok R. Soeharto juga dikenal dalam perjuangan sebagai ketua Administrasi Militer Pusat (AMP) yang saat itu ditunjuk Mohammad Hatta. Begitu juga perjuangan dalam mendirikan Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja. Termasuk tokoh yang mendirikan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).
"Seminar ini memang salah syarat untuk pengusulan menjadi pahlawan nasional. Pada akhir Januari tahun depan juga akan digelar seminar nasional yang dilaksanakan di Jakarta. Ada beberapa narasumber nasional yang akan kita hadirkan dalam seminar itu," ucapnya.
Bupati Klaten Sri Mulyani mendukung penuh atas pengusulan R. Soeharto sebagai pahlawan nasional. Apalagi sang tokoh berasal dari Klaten. Perjuangan dia sebagai seorang dokter dari masa pergerakan nasional hingga pasca kemerdekaan menjadi bukti pengabdian dia kepada NKRI.
"Begitu banyak jasa dan pengorbanan yang dilakukan beliau dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Memang pantas jika diusulkan untuk mendapatkan gelar sebagai pahlawan nasional. Tentu masyarakat Klaten turut bangga ada pahlawan nasional yang merupakan putra daerah Klaten," ucapnya.
Sri Mulyani memastikan pemkab juga akan memperjuangkan R. Soeharto untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional. Dia berharap perjuangan yang dilakukan R Soeharto bisa terus diteladani oleh keluarga dan generasi muda. (*/bun) Editor : Damianus Bram