A CHRISTIAN, Solo Radar Solo.
Sejak pandemi Covid-19 mewabah, banyak penerbangan yang dibatalkan. Ini membuat Anna Silvia berpikir untuk membagikan kisah hidupnya lewat tulisan. Dia menceritakan seluruh perjalan hidupnya dari gadis biasa asal Kota Bengawan hingga akhirnya bisa berkeliling dunia.
“Jadi dari dulu memang suka nulis. Awalnya cuma share tentang law of attraction saja lewat akun media sosial. Lalu merambah membahas soal segala hal tentang pelajaran hidup, seperti self love, bagaimana cara bersyukur, cara menyembuhkan trauma, hingga mengatasi overthinking,” ujar gadis asal Menangan, Serengan, Solo ini.
Menurut dia, law of attraction merupakan cara untuk meraih mimpi. Salah satunya keliling dunia dan dibayar dalam status pramugari internasional, selebgram di Dubai, bahkan menerbitkan buku oleh penerbit besar di Indonesia.
“Di buku ini aku berbagi cara melakukan law of attraction ini. Mungkin ada yang pernah mendengar menulis cita-cita di dinding lalu terkabul. Itu salah satu teknik law of attraction. Saya berbagi teknik lengkap dan sederhana,” kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) ini.
Mantan finalis Putri Solo 2021 itu mengatakan, hingga saat ini telah ada ratusan testimoni member yang bergabung di betterme.indo yang menyatakan kehidupan mereka berubah setelah membaca buku itu.
“Semua perempuan punya kesempatan, tinggal bagaimana mendorong kemauan mereka saja,” jelasnya.
Lewat buku ini pula Anna sedikit bercerita, bagaimana dia bisa mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Sebelum menggapai menjadi Miss Elite Asia, proses panjang dan menguras air mata harus dialami Anna.
Dia mengatakan, sejak duduk di bangku SMA, dia memiliki cita-cita keliling dunia. Ada tiga yang menjadi tujuan dia, yakni Napoli, Istanbul, dan Dubai. Tapi waktu itu tidak banyak yang mendukung.
“Akhirnya saya wujudkan mimpi itu. Saya menabung sedikit demi sedikit, terus berhasil berangkat ke luar negeri. Waktu itu negara yang pertama saya datangi Malaysia,” kata Anna.
Saat di kampus, lanjut Anna, dia bergabung dengan organisasi pertukaran pelajar atau AISEC. Melalui organisasi tersebut, mimpinya bertandang ke Italia berhasil terealisasi. Saat berada di Italia semakin memantapkan hatinya untuk berkeliling dunia. Setelah lulus dia lantas mengikutika program work away.
Lewat program itu lagi-lagi berhasil membawa Anna ke negeri impianya yang kedua yaitu Turki. Di istabul, dia magang di berbagai pekerjaan.
“Kunjungan ke dua ke negara impian semakin mendorong saya untuk berkeliling dunia. Saya akhirnya mendaftar pramugari Qatar Airways di Singapura pada 2017. Akhirnya diterima dan saya bekerja di Qatar,” papar dia.
Dia pun mencari peluang lain saat menerima informasi ada maskapai asal negara cita-citanya ketiga UEA, Emirates Airline. Saat itu open recruitment di Jakarta. Da cukup terkejut dengan jumlah peserta yang mencapai 2.000-an orang dari seluruh dunia, hanya empat orang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan yang berhasil diterima Emirates Airline. Dia pun termasuk dalam dua perempuan yang berangkat ke Dubai.
Anna tak menyangka bisa diterima di Emirates Airline dalam percobaan pertama. Padahal saat berusia 18 tahun dia pernah mendaftar sebagai pramugari di maskapai besar Indonesia namun ditolak.
Menurut dia, cita-citanya berkeliling dunia harus diwujudkan dengan jalan apapun. Pramugari, menjadi profesi yang dapat mewujudkan cita-citanya berkeliling dunia.
“Mimpi itu dari nyata, seringkali saya disepelekan. Saya berangkat dari Solo, dan merasakan mimpi itu,” papar dia.
Dia telah tiga tahun terbang bersama dua maskapai Internasional itu. Sebelum pandemi dalam sebulan dia bisa terbang 80 jam hingga 100 jam. Namun, selama pandemi ini hanya sekitar 40 jam setiap bulan ke berbagai negara tujuan termasuk ke Indonesia.
Selama tiga bulan sekali, dia terbang menuju Jakarta, Indonesia. Tugasnya memberikan informasi dalam Bahasa Indonesia kepada penumpang dari Indonesia. Dia berpesan kepada generasi muda agar selalu optimistis dalam bermimpi.
“Bermimpilah setinggi mungkin dan pastikan ambil seluruh kesempatan tidak peduli betapa ketakutanmu. Mungkin dan tidak mungkin itu tugas Tuhan, tugas manusia menjalankan sebaik mungkin,” imbuh Anna. (*/bun) Editor : Damianus Bram