Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Pentas di Masa Pandemi Dibatasi, Eko Suryo Broto Hadirkan Mini Seri Komedi

Damianus Bram • Senin, 24 Januari 2022 | 15:15 WIB
KREATIF: Para pemain mini seri komedi Mie Sabendino. (A. CHRISTIAN/RADAR SOLO)
KREATIF: Para pemain mini seri komedi Mie Sabendino. (A. CHRISTIAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Pandemi virus Covid-19 membuat aktivitas panggung teater dibatasi. Para seniman pun mulai rindu menampilkan karya mereka kepada khalayak umum. Nah, untuk mengobati rindu ini, Eko Suryo Broto mengagas seri komedi situasi (sitkom) untuk menghibur masyarakat.

A CHRISTIAN, SoloRadar Solo

Mini seri yang nantinya akan ditayangkan melalui channel YouTube pada Senin (6/2) depan ini diberi judul Mie Sabendino. Eko sendiri berperan sebagai tokoh utama, yaitu seorang pedagang mi ayam keliling bernama Pakde Sri.

“Sri itu nama bapak saya. Kenapa pedagang mi ayam, karena itu merupakan usaha keluarga besar saya. Termasuk bapak saya adalah penjual mi ayam,” katanya.

Semasa sekolah Eko sering membantu bapaknya jualan mi ayam. Nah, dari jualan itu banyak cerita yang sebenarnya bisa dikembangkan dan riil sekali dengan kehidupan masyarakat.

“Polah tingkah antar penjual, kemudian dengan pembeli, lucu-lucu semua. Banyolan ini yang coba saya angkat, namun tetap ada pesan moralnya yang akan saya sampaikan ke penonton,” ujarnya.

Dijelaskan eko, komedi berseri Mie Sabendino ini menceritakan tentang kisah seorang pedagang mi ayam gerobak keliling yaitu Pakde Sri. Sebagai seorang pedagang dengan penghasilan pas-pasan tinggal di sebuah kontrakan kecil, kehidupan Pakde Sri yang sederhana beserta lingkungan sekitarnya ditampilkan untuk menggambarkan situasi masyarakat pinggiran kota.

Pakde Sri seorang bujang lapuk, memimpikan memiliki seorang istri seperti artis dangdut, berparas cantik dan bodi aduhai. Setiap ada perempuan yang masuk dalam kriteria Pakde Sri tidak pernah luput dari incarannya.

Photo
Photo
Eko Broto dalam salah satu adegan Mie Sabendino. (A. CHRISTIAN/RADAR SOLO)

“Dalam perjalanan mengejar cinta, dengan penghasilan pas-pasan dan profesi yang kurang mentereng, cukup sulit mendapatkan istri yang diharapkan, sehingga banyak kisah cidra asmara,” katanya.

Untuk pemain sendiri, Eko menggandeng beberapa teman-teman teater asal Solo, Klaten dan Jogjakarta. Ada sekitar 30 seniman yang tergabung. Namun ada enam pemain tetap termasuk Eko.

“Itu ada Mbak Viana sebagai Susi, ini sosok yang direbutkan orang sekampung. Ada mas Ojing yang berperan sebagai pak RW. Terus ada Mas Heru, berperan sebagai hansip. Bertiga ini saingan merebutkan Mbak Susi. Dan ada Mbak Titut senior teater Solo juga sebagai ibu kos,” ujar dia mengenalkan satu-persatu tokoh mini seri Mie Sabendino.

Untuk lokasi shooting mengambil sekitar Solo, khususnya kawasan Jagalan, Jebres. Alasan memilih lokasi itu cocok dengan cerita yang diangkat yang benar-benar menggambarkan kisah riil seperti di masyarakat.

Kesulitan berpindah konsep dari panggung ke film itu melepaskan ekspresinya. Karena dibagi menjadi beberapa frame terkadang sulit untuk mengulang ekspresi yang sama.

Frame pertama ekspresinya dapat, tapi taping frame kedua ekspresinya kurang kena, jadi terpaksa diulang lagi, seperti itu,” ujarnya.

Untuk proses shooting, sudah dilakukan sejak dua bulan terakhir dengan menghasilkan 12 episode yang akan tayang perdana bulan depan. Eko menargetkan setahun bisa membuat 36 episode dan dua film pendek. Dengan durasi 10 sampai 15 menit per episode. “Tayangnya dua minggu sekali, setiap Sabtu pukul 17.00 sore,” ujarnya.

Soal anggaran, Eko mengakui sejauh ini masih ditanggung pribadi dan sumbangan para teman-teman teater yang lain. “Kalau sekali produksi kami tidak terlalu besar, cuma Rp 5 juta. Karena alat punya sendiri, jadi anggaran disengkuyung bareng untuk bayar talent dan konsumsi,” ujar dia. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#Sitkom Mie Sabendino #Eko Suryo Broto #Mie Sabendino #Sitkom