Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Kisah Korban Longsor Rumah Bantaran Kali Jenes, Kampung Wonorejo

Damianus Bram • Rabu, 26 Januari 2022 | 15:00 WIB
BERTAHAN: Rumah bagian belakang Surono yang ambrol. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)
BERTAHAN: Rumah bagian belakang Surono yang ambrol. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Sedih. Itulah kata muncul dari Surono, 47, warga korban longsor bantaran Kali Jenes, Pajang, Laweyan. Di momen hari ulang tahun dia justru mendapat kado pahit karena rumahnya ambrol tergerus banjir.

SILVESTER KURNIWAN, Solo, Radar Solo

Selamat ulang tahun. Kalimat sederhana yang datang dari istri dan dua anaknya itu seakan memberikan kekuatan bagi Surono. Sambil bersalaman secara bergantian pria asli Kampung Wonorejo RT 02 RW 02 Pajang, Laweyan itu memeluk keluarga kecilnya sembari mengenang perjuangan hidup dalam setahun terakhir.

“Iya, 25 Januari ini hari ulang tahun saya. Rasanya bahagia karena kami masih bisa berkumpul bersama meski sebagian rumah kami ambrol Minggu lalu (23/1). Kalau dulu biasanya ada acara sederhana sekarang tidak ada karena kondisi,” kata dia.

Photo
Photo
KEBERSAMAAN: Surono saat mendapat ucapan selamat ultah dari istri dan anaknya. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)

Kesedihan Surono bukan hanya karena tak bisa merayakan ulang tahun. Namun karena dia tidak bisa berbuat banyak karena istri dan anaknya tidak bisa tidur nyenyak pasca sebagian rumahnya ambrol.

“Setelah kejadian ambrol itu saya dan keluarga sempat menumpang di rumah tetangga. Sebetulnya dari tetangga tidak masalah dan selalu membantu saat dibutuhkan. Namun saya merasa sungkan dan takut merepotkan. Karena itu saya putuskan mulai Senin (24/1) kami mulai tidur di rumah yang tidak ambrol,” jelas dia.

Di rumah sederhana itu Surono meminta istri dan anaknya untuk tidur di ruang tengah yang terpisah dengan bagian yang ambrol beberapa waktu lalu. Sementara dia mengalah tidur di emper teras. Meski jauh dari rasa nyaman, tidur di rumah sendiri dirasa lebih enak daripada menumpang terlalu lama di rumah tetangga.

“Istri dan anak tidur di tengah, saya tidur di depan teras rumah. Hanya kalau turun hujan saya minta istri dan anak menumpang tidur di rumah tetangga lagi, saya yang mengalah tidur di rumah,” papar Surono.

Sejauh ini, bantuan dari pemerintah maupun dari para tetangga dan relawan membuat dia dan korban longsor lainnya tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

“Kalau untuk kebutuhan makan cukup. Tapi saya berharap bisa segera lagi buat kerajinan sangkar burung lagi demi kebutuhan harian keluarga,” harap Surono.

Dia juga berharap pemerintah segera memberi solusi lokasi alternatif agar dia bisa mendapat tempat yang nyaman dan bisa membuat sangkar burung lagi demi ekonomi keluarga. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#Rumah Ambrol di Laweyan #kali jenes #Erosi Tebing Kali Jenes #Korban Longsor Rumah Bantaran Kali Jenes