Potensi dari bisnis penyewaan wahana permainan anak-anak, seperti odong-odong, mobil-mobilan, dan banyak wahana permainan lainnya, ternyata cukup profit.
Usaha wahana permainan anak ini cukup menjanjikan. Dengan modal Rp 10 juta sampai Rp 30 juta, dalam setahun sudah bisa balik modal.
Bisnis yang berkaitan dengan anak kecil ini bisa menjadi peluang usaha yang kini masih terbuka lebar. Dalam 5 tahun terakhir, bisnis persewaan wahana mainan anak cukup populer.
Usaha ini bertebaran di kawasan sekitar alun-alun kabupaten/kota, taman-taman kota, dan ruang-ruang publik lainnya. Untuk di Kabupaten Sukoharjo, persewaan wahana permainan anak banyak juga ditemui di Alun-alun Satya Negara, Taman Pakujoyo, hingga di Taman Wijaya Kusuma.
Beragam wahana bisa menjadi pilihan usaha, mulai odong-odong, komedi putar, kereta kelinci, mobil-mobilan remote, skuter, otoped, pancingan ikan mainan bahkan permainan menembak dan mandi bola. Wahana-wahana ini didesain khusus untuk bisa dibawa kemana-mana menggunakan sepeda motor atau bisa praktis diangkut dengan mobil.
"Saya sudah lama (bisnis ini). Sudah 4 tahun usaha wahana permainan ini," ungkap Eko Parwoto, 64, salah satu pemilik usaha persewaan wahana mainan anak di Taman Pakujoyo, Sukoharjo Kota.
Di Taman Pakujoyo, Eko mengelola kereta odong-odong dan otoped. Usaha yang pertama dijalankannya yakni kereta odong-odong, dengan tenaga listrik, kereta yang hanya empat rangkaian itu hanya berjalan memutar di rel berbentuk oval. Dalam satu gerbong kereta, hanya bisa digunakan untuk satu anak.
"Saya beli mainan ini di Jawa Timur, lumayan mahal, sekitar Rp 22 juta. Tapi praktis, bisa diangkut dengan mobil," katanya.
Kemudian, yang lagi hits adalah otoped skuter. Mainan ini banyak dijual di toko-toko mainan. Per unitnya Rp 1.200.000 untuk kualitas menengah. Ada yang kualitasnya dibawah Rp 900.000. Eko memiliki enam unit otoped skuter.
Cara mainnya layaknya otoped, tapi digenjot menggunakan tumit. Dengan biaya sewa atau biaya tiket per anak Rp 5000 selama 15 menit, usaha ini sudah lama balik modal.
"Ya kalau ditotal Rp 30 jutaan. Ya sudah balik modal. Tapi saat ini sepi. Cari Rp 50 ribu perhari saja sulit. Padahal, kalau normal Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu perhari bisa dikantongi," ujarnya.
Untuk wahana jenis lain, misalnya pancingan ikan modalnya bisa lebih murah lagi. Cukup menyediakan kolam terpal kecil, mainan ikan dan pancing. Modal tak lebih dari Rp 5 juta juga sudah bisa untuk usaha yang hasilnya dapat menopang kebutuhan hidup rumah tangga.
"Pangsa pasarnya ya anak-anak usia 3 sampai 5 tahun. Itu target dan sasarannya," ucap Eko.
Untuk biaya perawatan, Eko mempunyai trik tersendiri. Misalnya untuk otoped miliknya, kalau yang menyewa anak laki-laki, akan diawasi betul-betul. Tapi, kalau yang menyewa anak perempuan, Eko akan membiarkan saja sampai anak bosan.
"Wah, kalau yang nyewa laki-laki cepet rusak. Dipakai ngetril-ngetril. Saya sudah beberapa kali ganti ban, dan mahal itu harga ban-nya. Kalau perempuan kan lebih halus mainnya. Lebih hati-hati," ungkapnya.
Menurut Eko, usaha persewaan wahana permainan anak ini masih akan selalu eksis hingga 5 sampai 10 tahun kedepan. Tentunya dengan menghadirkan model-model terbaru mainan anak. Tentu harus disesuaikan dengan perkembangan zaman juga.
Eko mengaku, usaha ini semakin bisa berkembang apabila pemerintah juga bisa ikut banyak membangun taman-taman kota atau ruang-ruang publik.
"Yang sulit itu membuat pasarnya. Persewaan macam ini sudah tidak laku kalau keliling. Sekarang biasanya mangkal, di taman-taman kota, alun-alun dan tempat-tempat publik lainnya," pungkasnya. (kwl/nik) Editor : Damianus Bram