Di era digitalisasi banyak aspek usaha ikut kena imbasnya. Salah satunya tentu apa yang dirasakan oleh usaha fotokopi. Walaupun tentu persentase yang menggunakan jasa ini tidak anjlok sangat besar.
Saat ini memang budaya melakukan fotokopi masih terjaga dengan baik, karena masih banyak kebutuhan ataupun tugas yang memang mengharuskan untuk tetap melakukan fotokopi untuk menggandakan sebuah file. Walaupun tak bisa dibohongi juga untuk beberapa kelompok seperti tugas anak-anak SMA, perguruan tinggi, hingga masyarakat umum saat ini file bisa di-copy dengan mengirimkan file PDF melalui pesan elektronik seperti WhatsApp ataupun via email.
Tapi tetap saja mereka yang menggunakan jasa fotokopi tetap masih banyak peminatnya, seiring kebutuhan yang memang mengharuskan mereka untuk memfotokopi sebuah data.
Jenis usaha satu ini memang terbilang cukup menguntungkan, sebab masih banyak orang yang membutuhkan sebagai syarat pemenuhan berbagai pendaftaran. Menggandakan buku-buku pelajaran juga masih lazim dilakukan oleh pelajar. Bahkan ada juga melakukan fotokopi untuk memperbanyak laporan, tugas kantor, makalah dan sebagainya.
"Masih banyak juga peminatnya, bahkan cenderung naik," ungkap Dwi Wahyuni, 34, pengelola Fotocopy Mbah Asmo, yang ada di Sukoharjo kota.
Jelas, fotokopi lebih hemat daripada memperbanyaknya dengan cetak mesin atau printing. Selisih harganya bisa sampai 50 persen. Menggandakan dokumen melalui mesin fotokopi tetap menjadi pilihan untuk menghemat anggaran.
"Kalau fotokopi perlembar Rp 250, kalau print Rp 500 perlembarnya," ungkapnya.
Menurut Eni, modal usaha untuk memulai usaha fotokopi bisa dimulai dengan budget Rp 30 juta sampai Rp 50 juta. Modal ini untuk pengadaan mesin, genset, etalase dan kertas, sewa tempat dan biaya operasional lainnya.
"Dengan modal Rp 50 jutaan sudah bisa jalan. Tempat menjadi faktor paling berperan. Minimal harus dekat dengan sekolah dan perkantoran," ungkapnya.
Jika kita bicara peluang dari bisnis fotokopi, tentu sejatinya cukup prospek. Tentu dengan berbagai catatan didalamnya. Salah satu yang paling penting tentu dari sisi strategisnya lokasi toko fotokopian, dan tentunya antusiasme masyarakat di sekitar untuk menggunakan jasa fotokopi.
Eni mencontohkan, fotokopi yang dikelolanya berada di lingkungan sekolah dan perkantoran. Meski banyak kompetitor di sekitarnya, namun masing-masing usaha tetap memiliki pasarnya sendiri-sendiri.
"Kalau kami, buka sampai jam 12 malam. Program kami salah satunya adalah menggratiskan fotokopi lelayu. Gratis 100 persen," ujarnya.
Bisa dibilang investasi untuk membangun bisnis ini lumayan ringan. Namun perlu diingat ada banyak hal pendukung yang sepertinya jadi sebuah kewajiban ada di tempat fotokopian. Apalagi kalau bukan pemilik jasa ini juga menjual berbagai peralatan alat tulis. Mulai buku, pulpen, pensil, dan berbagai komponen pendukung lainnya yang berbau tulis maupun gambar. Bahkan saat ini semakin jauh berkembang, dimana tempat fotokopian juga bisa menerima jasa untuk digital print.
“Selain tempat fotokopian, kalau di kami juga bisa untuk ngetik data dan diprint," ujarnya.
Untuk fotokopi saja, Eni mengaku perbulan penghasilan kotor Rp 10 juta, belum lagi ditambah dari menjual alat tulis kantor (ATK), pengetikan, print dan scan. Dalam sebulan, cukup bisa menggaji sembilan karyawan dan membiayai operasional usahanya.
"Asal pilihan lokasinya tepat, dengan 1 mesin fotokopi saja bisa kok menutup biaya operasional per bulan," ungkapnya.
Kendala yang dihadapi usaha fotokopi ini hanyalah mati lampu, namun bisa disiasati dengan genset. Menurut Eni, biasanya operasional terbesar selain gaji adalah untuk pajak listrik, yang mencapai Rp 3 juta per bulan.
"Kendalanya ya mesin rusak atau ngadat dan mati lampu. Mesin rusak bisa mengakibatkan hasil fotokopi juga rusak," bebernya.
Usaha ini juga tidak perlu ruangan yang terlalu besar, sebab hanya butuh ruangan yang bisa meletakkan satu atau dua mesin fotokopi serta etalase untuk menjajakan ATK sebagai pelengkap. Dengan begini, modal yang disiapkan tidak terlalu besar. (kwl/nik/dam) Editor : Damianus Bram