ANGGA PURENDA, Solo, Radar Solo
Sebuah halaman dengan gedung di lahan seluas kurang lebih 1.000 meter persegi menjadi tempat titipan sepeda motor bagi warga hendak pergi ke Pasar Pedan. Tapi siapa sangka gedung yang terletak di Desa Keden itu dahulunya tempat pertunjukan seni ludruk hingga ketoprak. Bahkan disewa untuk menjadi bioskop pertama di Pedan.
Kini kondisi gedung bekas bioskop itu sudah tidak terawat oleh pemiliknya sehingga tampak terbengkalai. Meski begitu, dari luar masih tampak tempat untuk menempelkan poster film saat itu sedang diputar. Bahkan loket sebagai tempat untuk penjualan tiket zaman dulu juga masih bisa dilihat.
Jawa Pos Radar Solo sempat mencoba masuk ke dalam gedung bekas biokop itu melalui jendela dengan bantuan anak tangga. Tampak deretan kursi berundak untuk tempat penonton menyaksikan film kesayangannya masih berjajar rapi. Hanya saja kondisinya sudah mengalami kerusakan cukup parah karena memang tak terawat.
Sedangkan bagian ruangan proyektor untuk memutar film juga masih tampak. Hanya saja dinding depan yang digunakan sebagai layar saat bioskop itu masih aktif sudah ambrol. Bagian langit-langit juga sudah mengalami kerusakan di sana-sini yang sekarang justru menjadi sarang tikus terdengar dari suaranya hewan pengerat tersebut.
Usai berkeliling di gedung bioskop itu koran ini langsung ditemui oleh seorang warga setempat bernama Suripto, 68. Dia mengaku pernah menonton film di bioskop Dewi. Saat itu dia masih berusia 15 tahun tetapi sering kali menyaksikan tokoh kesayangan yakni Rhoma Irama hingga Amitha Bachchan berakting dalam film.
"Saya masih ingat betul sebelum era 1980-an saat itu masih hitam putih. Selain bioskop Dewi ini ada juga Gajah Mada dan Elita. Tapi bioskop Dewi ini yang pertama ada di Kecamatan Pedan,” ujar Suripto sambil terus mengingat-ingat hal yang pernah dialaminya itu.
Suripto menceritakan, saat awal bioskop dulu justru film nasional yang berjaya dan menjadi box office. Terutama berbagai judul film yang menampilkan tokoh Rhoma Irama sebagai pemeran utamanya. Selain itu film India dengan tokohnya Amitha Bachchan juga selalu dinanti-nanti untuk diputar di bioskop.
Bisokop Dewi bisa menampung 500 penonton sekaligus untuk setiap kali pemutaran film. Meski dalam sehari sudah dijadwalkan lima kali pemutaran tetap saja selalu penuh penonton. Mereka cukup antusias menyaksikan bintang kesayangannya. Saat itu harga tiket bioskop mulai dari Rp 25 sampai Rp 150 dengan menyesuaikan tempat duduk.
“Suasananya saat itu cukup ramai setiap kali pemutaran film. Meski kursinya dari rotan yang sering kali ada kutunya tetap aja ramai. Saat itu juga penonton diperbolehkan untuk membeli makanan dan minuman dari luar yang boleh dibawa masuk,” kenang Suripto.
Penonton film yang datang ke bioskop Dewi tidak hanya datang dari Kecamatan Pedan saja. Tetapi juga dari Kabupaten Gunungkidul berdatangan dengan menyewa moda transportasi umum seperti colt demi mencari hiburan di Pedan. Apabila antusias cukup tinggi pihak bioskop akan menambah jadwal pemutaran filmnya.
“Dulu juga ada yang namanya midnight show. Jadwal itu ada ketika ada libur hari raya seperti Idul Fitri, Natal maupun tahun baru. Jadi nonton film hingga dini hari tetapi penontonya masih juga ramai,” ucapnya.
Beruntung Jawa Pos Radar Solo bertemu dengan mantan karyawan bioskop Dewi yakni Naryo, 69, warga Desa Keden, Kecamatan Pedan. Dia masih ingat betul antusias masyarakat untuk menyaksikan film di bioskop sangat tinggi. Meski kursi sudah penuh terisi tapi tetap saja memaksa untuk masuk.
“Jadi saat itu ada yang memilih berdiri di sela-sela kursi antarpenonton selama pemutaran film itu karena tidak kebagian kursi. Mereka memaksa tetap masuk ke gedung bioskop karena sudah datang dari jauh-jauh untuk menonton film,” ucap Naryo saat ditemui di rumahnya.
Sosok Rhoma Irama tetap jadi daya magnet tersendiri bagi penonton yang rela berdesak-desakan menonton film di bioskop Dewi. Begitu juga film action seperti kungfu tetap jadi pilihan masyarakat saat ini. Sementara itu film terakhir yang diputar di bioskop tersebut menampilkan aktor Al Pacino.
“Sejak era 1990-an ketika stasiun TV sudah ada membuat penonton yang datang ke bioskop mulai menurun. Sebelum akhirnya bioskop Dewi tutup pada era itu,” ucap Naryo.
Meski saat ini Klaten belum memiliki bioskop dengan fasilitas modern, menurutnya sulit untuk bisa berjaya kembali jika didirikan bioskop di Kota Bersinar. Apalagi saat ini pasarnya berbeda dari sebelumnya.
“Dulu bioskop itu menjadi hiburan kalangan menengah ke bawah, tapi sekarang kalangan menengah ke atas. Maka itu hanya bisa bertahan di kota-kota besar saja seperti Solo dan Jogja,” ujar dia. (*/bun) Editor : Damianus Bram