RUDI HARTONO, Karanganyar, Radar Solo
Lokasi Sendang Bancolono sebenarnya berada di kawasan Magetan, Jawa Timur. Namun lokasi itu masih masuk dalam kawasan pertapaan Eyang Bancelono, yang berada di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Menurut juru kunci pertapaan Bancolono Best Hariyanto, untuk bisa memasuki kawasan sendang ini, harus memarkirkan kendaraan di lokasi yang sudah disediakan. Dan berjalan menuruni anak tanga menuju ke pertapaan sekitar 500 meter.
Setelah sampai di pelataran pertapaan, tamu diwajibkan untuk berdoa dan meminta keselamatan serta tidak boleh melakukan hal-hal yang aneh seperti buang air kecil sembarangan dan berbicara kotor. Lokasi pertapaan masih satu banguan dengan sumber air sendang Lanang.
“Menurut cerita sendang ini dulu sebagai tempat pemandian Raja Brawijaya V yang merupakan raja terakhir Kerajaan Majapahit,” ujar Hariyanto.
Di lokasi itu masyarakat juga meyakini dijaga langsung oleh Eyang Macan Putih atau Eyang Bancolono. Tokoh yang meminta Raja Brawijaya V mandi di sendang itu. Karena itu lokasi ini disebut pertapaan Eyang Bancolono.
Dari lokasi Sedang Lanang, di sebalah timur berjarak kurang lebih 50 meter, juga terlihat salah satu sumber mata air yang dipercaya sebagai petilasan Nyi Gotrah atau disebut sebagai Sendang Putri yang sebelumnya dipercaya sebagai salah satu tempat pemandian selir atau istri dari Raja Brawijaya V.
Ada tiga lokasi di kawasan Bancolono ini. Pertama adalah altar utama Eyang Bancolono atau teras, kemudian tempat pemandian yang dikenal dengan Sendang Lanang. Dan sendang Putri atau tempat pemandian Nyi Gotrah. Antara altar dan dua sendang tersebut dipecah oleh kali dari aliran kawah Condrodimuko yang berada di lereng Gunung Lawu.
“Lokasi altar itu berada di Jawa Tengah, sedangkan dua sendang itu berada di wilayah Jawa Timur,” ujarnya.
Soal air yang diambil gubernur untuk dibawah ke IKN Nusantara di Sepaku, Penajam Paser Utama, Kalimantan Timur, Hariyanto mengaku tidak tahu. Sebab, saat itu dia sedang mengantarkan tamu untuk mendaki ke puncak Gunung Lawu.
"Kalau air itu saya tidak tahu mas, karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya ke saya. Tetapi dari informasi teman - teman penjual makanan di dekat parkiran, awal bulan ada rombongan tiga mobil mewah ke pertapaan. Tanggal 1 Maret itu saya naik, selama tiga hari kemudian tanggal 3 atau 4 saya mendapat infromasi dari teman-teman pedagang, kemungkinan ya itu," ungkapnya.
Hariyanto mengakui, pepunden Bancolono memang banyak dikunjungi. Mereka datang untuk berdoa dan menenangkan diri dengan cara masing-masing. Ada beberapa pengunjung berdoa, kemudian dilanjutkan dengan mandi di dua sumber air.
"Beberapa pejabat sering ke situ, kalau presiden belum pernah. Tetapi sebelumnya ada orang yang mengaku diutus presiden untuk menaburkan bunga di punden itu. Kalau Pak Ganjar pernah sekali ke lokasi, karena beliau penasaran, kenapa banyak orang atau pejabat yang sering mendatangi lokasi ini," ungkapnya.
Mengenai Eyang Bancolono, dari cerita yang diperoleh Hariyanto, merupakan salah satu senopati dari Raja Brawijaya. Saat itu dia pergi ke Gunung Lawu kemudian bertemu leluhurnya, yang merupakan murid kinasih dari Eyang Lawu. Oleh sang leluhur Prabu Brawijaya V diminta mandi di sendang itu.
"Prabu Brawijaya bersama para selir kemudian datang ke sendang ini untuk membersihkan diri dan menghilangkan segala beban kehidupan,” beber Hariyanto. (*/bun) Editor : Damianus Bram