SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
Tiga tahun lalu ibu-ibu di Kampung Nayu RT O2 RW 05 Kelurahan Joglo, Banjarsari ini mengolah sebuah pekarangan di belakang kantor kelurahan setempat. Gerakan itu akhirnya melahirkan Kelompok Wanita Tani Ngudi Makmur yang kini jadi percontohan bercocok tanam di lahan sempit perkotaan.
Aktivitas bercocok tanam di area 50 meter persegi itu menghasilkan berbagai sayur mayur yang bisa dikonsumsi warga setempat. Gerakan yang dimulai 2019 lalu itu akhirnya mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pada September 2020 terbentuklah kelompok wanita tani di RT 02 RW 05 itu.
"Dari pekarangan kecil di belakang kelurahan akhirnya ketua RT usul untuk memanfaatkan sebuah lahan kosong milik warga. Kebetulan pemilik tanah sudah mengizinkan lahan itu bisa dimanfaatkan oleh ibu-ibu di sini. Sejak saat itu area ini jati lahan pertanian KWT Ngudi Makmur," kata Ketua KWT Ngudi Makmur Magareta Pety Aryani, 53, ditemui koran ini, kemarin (15/3).
Lahan kosong milik warga itu mulanya merupakan area terbengkalai yang biasa dipakai warga untuk membuang sisa material bangunan dan sampah rumah tangga. Saat area itu boleh digunakan untuk KWT Ngudi Makmur, warga mulai kerja bakti untuk membersihkan lahan.
Bongkahan bangunan mukai dipindahkan dan tanahnya pun mulai diratakan. Sebagai langkah awal para ibu-ibu setempat mulai mengolah tanah dengan pemupukan baik dengan pupuk kandang maupun pupuk kompos. Setelah mengulang-ulang kegiatan itu dalam beberapa waktu, lahan di bekas area terbengkalai itu terbilang cukup baik untuk bercocok tanam.
"Awalnya kami pakai polybag untuk menaman sayur mayur ini, tapi setelah tanahnya siap mulai langsung di tanahnya. Ternyata hasilnya baik dan tanahnya pun cukup produktif," kata dia.
KWT Ngudi Makmur mengawali berbagai kegiatan itu secara otodidak sengan mencoba berbagai cara penanaman sampai bisa menghasilkan. Upaya itulah yang akhirnya ditangkap pemerintah dengan memberikan bantuan pelatihan hingga pendanaan untuk kelompok tersebut. Bantuan-bantuan dari pemerintah itu akhirnya dimanfaatkan untuk pembangunan rumah bibit, area pembelajaran dan latihan, serta untuk membeli kebutuhan pertanian mulai dari bibit hingga peralatan yang dibutuhkan.
"Sayur mayur yang sudah bisa kami tanam dan panen beragam. Mulai dari berbagai jenis terong, selada, kangkung, kacang, dan sebagainya. Belakangan kami juga mengembangkan ke makanan olahan, jadi bukan hanya sayurnya yang dijual tapi juga berbagai produk lain seperti keripik kangkung yang dicampur tepung terigu, dan berbagai olahan lainnya," terang Pety.
Dari sejumlah penganan olahan yang dihasilkan dari produk pertanian, KWT Ngudi Makmur cukup terkenal dengan olahan bunga telang. Ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok tani ini memang ingin berinovasi lebih jauh. Mereka pun mulai mencari informasi tentang manfaat bunga telang bagi kesehatan.
"Setelah kami cari tahu ternyata bunga telang ini banyak manfaatnya dan tidak perlu perawatan khusus yang tidak butuh perawatan. Dari sana kami mulai kembangkan berbagai penganan olahan bunga telang," kata dia.
Olahan bunga telang KWT Ngudi Makmur ini terkenal dengan wedang telang, teh telang, sirup, dan permen telang mereka. Bahkan keberhasilan ini membuat orang dari luar daerah penasaran ingin belajar.
“Tapi yang paling menggembirakan itu karena cara-cara ini akhirnya diikuti oleh warga sekitar. Mereka akhirnya mulai menanam dan bisa ikut produksi berbagai olahan untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga masing-masing," ujar Pety.
Upaya yang sudah dirintis dalam tiga tahun terakhir ini pun semakin banyak diikuti warga. Saat ini banyak warga di RT 02 RW 05 Joglo mulai menanam sayur mayur untuk dikonsumsi secara mandiri. Beberapa yang lainnya mulai merintis usaha dengan bekerjasama dengan KWT Ngudi Makmur. Dan hebatnya keberadaan kelompok wanita tani itu kini mulai bisa ditularkan di RW-RW lainnya di wilayah Kelurahan Joglo.
"Akhirnya ketelatenan ibu-ibu di KWT Ngudi Makmur ini bisa memelopori gerakan bertani di lahan sempit, bisa membawa ketahanan pangan secara mandiri dan menumbuhkan ekonomi kreatif di tengah warga. Bonusnya lingkungan semakin asri dan sedap dipandang mata," tutur dia. (*/bun) Editor : Damianus Bram