Di Jawa Tengah, ada tradisi kembulan, yakni makan bersama dengan alas daun pisang yang ditata berjajar memanjang. Serupa dengan itu, yakni mayoran yang kerap dilakukan para santri di pondok pesantren (ponpes).
Nah, menambah keakraban dan kebersamaan selama Ramadan, kembulan atau mayoran bisa dilakukan saat berbuka puasa bersama (bukber). Bisa dengan keluarga, teman, atau para kolega. Tradisi makan bersama dengan banyak tangan dalam satu piring besar, sesungguhnya merupakan ajaran Rasulullah SAW.
“Bahwasannya para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: (Mengapa) kita makan tetapi tidak kenyang? Rasulullah balik bertanya: Apakah kalian makan sendiri-sendiri? Mereka menjawab: Ya (kami makan sendiri-sendiri). Rasulullah pun menjawab: Makanlah kalian bersama-sama dan bacalah basmalah, maka Allah akan memberikan berkah kepada kalian semua (HR Abu Dawud).
Meskipun dianjurkan bukber dengan kembulan atau mayoran, makan bersama, tapi jangan sampai mendatangkan mudarat. Di antaranya makan terlalu berlebihan yang berujung mubazir. Diusahakan, makanan yang tersaji dibagi secara merata.
Hal-hal yang menyangkut mudarat lainnya, yakni makan bersama sambil ghibah atau menggunjing. Yakni aktivitas membicarakan keburukan orang lain.
“Berbuka bersama itu bagus. Bisa diisi dengan membicarakan kajian agama, solusi masalah keluarga, masalah umat, termasuk urusan bisnis. Terpenting dan harus dijaga adalah, tidak melalaikan salat berjamaah (Magrib) setelah makan bersama,” terang Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Timur Tengah Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof. Dr. Istadiyantha, kemarin (7/4).
Dosen Program Studi (Prodi) Bahasa Sastra Arab (BSA) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta Hamdan Maghribi menambahkan, ghibah atau menggunjing bisa berujung fitnah. “Karena apa yang keluar dari mulut kita adalah cerminan yang ada di dalam. Dan apa yang kita ucapkan, akan memengaruhi hati dan sikap,” katanya. (mg1/mg4/fer) Editor : Damianus Bram