ANANTO PRIYATNO/ANGGA PURENDA/SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo
SEORANG pria tengah sibuk dengan peralatan las di tangan. Percikan api las terlihat jelas, maklum saat itu malam hari. Dia sedang memperbaiki besi penyangga di sebuah sepeda motor.
“Nah kalau begini kan sudah kuat,” timpal seorang lelaki lain sembari berdiri memegang sepeda motor. “Trims Yok,” sahut dia kepada Priyo, lelaki yang memegang peralatan las.
Priyo lantas kembali mengutak atik penyangga backdrop yang terpasang di halaman depan kantor Radar Solo. Kebetulan, penyangga itu sudah cukup lama terpasang. Jadi banyak besi yang rapuh.
Awalnya Priyo memang tengah mengelas peyangga backdrop, namun belum juga kelar, Mulato, pemilik sepeda motor tersebut menyelanya.
Begitu melihat kedatangan Ananto Priyatno, mantan general manager Radar Solo, kedua orang yang juga staf marketing di Radar Solo pun segera menegur sapa. Mereka bertiga terlibat perbincangan santai. Kecrok-kecrokan ciri khas di Radar Solo kembali tersaji. Mendadak perbincangan ketiganya terhenti.
Sesosok laki-laki berjenggot, keluar dari dalam kantor. Di belakangnya seorang pria bertubuh kurus mengikutinya.
“Pak, Boy sedang kritis di (RSUD) Moewardi. Ini tadi istrinya telepon Doni (staf pemasaran koran). Katanya sekarang di ICU. Ayo pak kita tengok Boy,” ujar Tri Wahyu Cahyono, si lelaki itu. Wahyu, atau yang kerap disapa Brewok ini adalah wakil pemimpin redaksi di Radar Solo.
Boy yang disebut Brewok adalah Rohmanto, kepala kompartemen (biro) Klaten. Sejak lama Boy berjuang melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya. Berulang kali masuk rumah sakit.
“Ayo pak kita ke sana. Biar saya yang nyetir,” ujar Mulato seraya mengambil kunci kontak mobil kantor di pos sekuriti.
Akhirnya, Ananto, Brewok, Mulato, dan Hendra, lelaki kurus yang mengikuti Brewok bergegas ke Moewardi. Saat itu Sabtu (2/4), jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00.
Setelah sempat nyasar, akhirnya kami bisa menengok Boy. Saat itu, dia tengah tertidur di salah satu kamar perawatan bangsal Mawar dan hanya ditunggui Diah Gustri Murdiningtyas, sang istri.
Setelah berbicang dengan istri Boy, sejumlah rekan memutuskan untuk menuju tempat parkir sambil menunggu yang lain. Tak lama kemudian Kabun dan Ireck, rekan kami datang. Dari keterangan Kabun, pemimpin redaksi Radar Solo, kondisi Boy belum stabil. Dia baru saja menjalani kemoterapi. Namun saat itu Boy sudah bisa tertidur. Kami pun segera bergegas pulang.
Kemarin pagi (10/4), kabar duka datang. Boy dipanggil menghadap Yang Kuasa. Innalillahi waa innaillaihi rojiun.
Bagi seluruh karyawan dan manajemen Radar Solo, Boy merupakan sosok fenomenal. Etos kerja, dan loyalitasnya luar biasa. Dia adalah orang yang sangat jujur, kocak, ceria, dan punya kepribadian yang baik.
Boy mengawali karir sebagai seorang wartawan. Saat menjadi kuli tinta, gaya pergaulan Boy yang luwes membuatnya bisa menjalin hubungan baik dengan semua narasumber. Bahkan bupati dan seluruh jajaran di Pemkab Klaten mengenal sosok Boy dengan baik.
Nama aslinya adalah Rohmanto. Dia mendapat sebutan Boy dari Aris Sudanang, mantan general manager Radar Solo. Sebutan itu sebagai bukti atas kepercayaan bos kepadanya. Boy pun senang betul dengan sebutan itu. Hingga sampai akhir hayatnya, semua relasi mengenalnya sebagai Boy.
Beberapa kali dia terpilih menjadi karyawan teladan di Radar Solo. Di antaranya menerima gelar the best of the best employee. Gelar itu bukan isapan jempol. Dedikasi dan etos kerja Boy memang luar biasa. Di saat dia harus berjuang melawan kanker dan keluar masuk kamar operasi, Boy tetap bekerja.
Setelah beberapa tahun menjadi jurnalis, Boy kemudian diangkat menjadi kepala kompartemen Klaten. Bertugas untuk menjaga lalu lintas berita di Klaten. Tak hanya itu, dia juga mengembangkan sisi bisnis di wilayah tersebut. Semua tugas-tugas itu dijalani Boy dengan baik.
Di bawah Boy, kompartemen Klaten tumbuh baik. Dari sisi bisnis dan penetrasi beritanya. Bahkan beberapa kali, kompartemen yang dipandeganinya mencatatkan kenaikan omzet yang fantastis. Boy pun menjadi tulang punggung utama penetrasi bisnis Radar Solo di wilayah Klaten.
Suatu ketika, begitu Boy keluar dari rumah sakit, Ananto sempat ngobrol yang inti pembicaraannya tidak lagi membebani Boy dengan target agar lebih fokus pada penyembuhan penyakitnya. Namun dengan santai Boy menjawab : “Tenang bos, semuanya sudah saya rencanakan. Ini nanti kita dapat kerja sama dari sini, sini, dan sini,” timpal Boy.
Sedemikian luar biasanya etos kerja Boy. Sampai pada saat ulang tahun ke-20 Radar Solo, di tengah kondisi kesehatannya yang menurun, Boy tetap bekerja demi perusahaan.
“Sementara kami yang kondisi kesehatannya lebih stabil kadang tak bisa menyamai pencapaian Boy. Kami menjadikan Boy sebagai panutan dalam bekerja. Meski secara struktural posisi saya lebih tinggi dibanding Boy, namun saya menganggap belum ada apa-apanya dengan kinerjanya,” papar Ananto. Selamat jalan Mas Boy, teman dan panutan kami.
Semangat Boy dalam bekerja juga diakui Angga Purenda. Wartawan yang ditugaskan di Klaten. “Hari ini agendanya mau ke mana ngga (Angga)? Tetap jaga kesehatan lho. Maaf aku belum bisa ke Klaten. Itu yang selalu terucap setiap kali menelepon saya,” ujar Angga. Tapi sejak kemarin, panggilan telepon itu sudah tidak terdengar lagi.
Kali terakhir Angga mendapat tugas dari Boy untuk peliputan pada 31 Maret lalu melalui aplikasi pesan WhatsApp (WA). Setelah itu, tidak ada lagi penugasan yang diungkapkannya melalui telepon maupun pesan WA.
Selama ini, Diah Gustri Murdiningtyas, sang istri yang sehari-hari merawat Boy. Baik ketika di rumah pribadinya di Kartasura, di rumah sakit, maupun menemani saat ada urusan pekerjaan.
“Saya masih ingat betul saat kali pertama menjadi wartawan dan bertugas di Klaten pada 2015 yang langsung dibimbing Mas Boy. Mulai dari menulis hingga membuat angle berita yang menarik. Termasuk bagaimana menggali informasi dari narasumber,” ucap Angga.
Di mata Angga, Boy sebagai wartawan sekaligus kepala kompartemen yang berdedikasi tinggi. Dalam keadaan sakit pun tetap terjun ke lapangan. Di tengah sakitnya, tetap berkoordinasi sekalipun hanya melalui sambungan telepon.
“Biasanya Mas Boy telepon saya pada pagi hari sebelum berangkat liputan. Hal yang selalu ditanyakan terkait agenda peliputan maupun memberikan tugas. Di akhir pembicaraan selalu bilang minta maaf belum bisa datang ke Klaten untuk bisa koordinasi secara langsung karena kondisi sakitnya itu,” paparnya.
Di luar urusan pekerjaan, imbuh Angga, Boy selalu menanyakan kabar keluarga Angga yang ada di Sleman, DIJ. Terutama perkembangan anaknya yang masih berusia 2,5 tahun. Begitu juga menanyakan kabar ayah Angga yang menderita stroke.
“Pesan yang masih saya ingat sampai saat ini dari almarhum agar tetap jaga kesehatan dan memberi waktu untuk istri dan anak saya. Termasuk menguatkan dalam merawat ayah saya,” ucapnya.
“Panggilan telepon sebelum saya berangkat bekerja dari Mas Boy, akan selalu saya rindukan setelah ini. Terima kasih Mas Boy atas bimbinganmu dan segala bentuk perhatianmu selama ini kepada saya dan keluarga saya. Selamat jalan Mas Boy,” imbuh Angga.
Doni, staf pemasaran koran Radar Solo tak bisa menyembunyikan dukanya. “Dua pekan lalu aku dapat kabar Mas Boy mau kemoterapi di RSUD dr. Moewardi. Pada waktu itu semangat untuk sembuhnya tinggi banget. Tapi malam minggu (2/4), aku dapat telepon dari istrinya, katanya Mas Boy kritis. Teman-teman kantor merapat ke rumah sakit," kenangnya.
Sejak sakit, Boy mempercayakan beberapa pekerjaannya dibantu Doni. Termasuk membantu mobilitas berobat.
Salah seorang sahabat karib Boy, Kabun Triyatno yang juga pemimpin redaksi Radar Solo jadi saksi perjuangan Boy melawan penyakitnya. Keduanya akrab sejak masih sama-sama membujang. Bahkan sempat tinggal bersama dalam satu kos selama dua tahun. Sejak dulu, sifatnya selalu sama. Tidak pernah marah, loyal, dan royal.
"Boy orang yang baik. Sangat baik. Orangnya selalu semangat. Optimistis. Tidak pernah menyerah. Bahkan di saat-saat dia berjuang, bolak-balik kemoterapi, dia masih memikirkan kondisi perusahaan. Terakhir kali saya mengantar ke rumah orang tuanya, Boy masih sempat tanya gimana kabar kantor? Dia juga masih lantang bilang semangat untuk sembuh," urainya.
Sebagai sesama wartawan senior, Kabun tahu betul daya juang Boy sebesar apa. Itulah yang membuat Kabun yakin Boy bakal sembuh. Namun takdir berkata lain.
Senada diungkapkan Manajer Keuangan Radar Solo Resita Rika Aryani. "Mas Boy ini walaupun dalam kondisi sakit, selalu memikirkan kantor. Kondisi kantor seperti apa. Selalu berupaya membantu dan memastikan perusahaan baik-baik saja. Sosok yang sangat bisa diandalkan. Kami sangat kehilangan," katanya.
Tak hanya jadi andalan, sosok Boy yang care dan selalu berpikir positif juga bakal dirindukan Resita. Tak melulu soal pekerjaan, Boy selalu berinteraksi dengan sesama rekan kantor di luar urusan pekerjaan. Sering kali Boy membelikan makanan untuk teman-teman kantor. "Mas Boy ini royal dan loyal sekali sama teman-teman," imbuhnya.
Direktur Radar Solo Marsudi Nurwahid P mengakui sosok Boy punya semangat dan tanggung jawab terhadap pekerjaan sangat tinggi.
"Di akhir hayatnya, walaupun kondisi sakit, Mas Boy masih memikirkan tanggung jawab pekerjaannya. Saat masih sehat, Mas Boy juga orang yang baik, sopan, dan jadi teladan buat teman-teman dan juniornya," katanya.
General Manager Radar Solo Andi Aris sepakat bahwa Boy adalah panutan sejak masih sehat hingga detik-detik terakhir hidupnya. Kontribusinya untuk perusahaan sangat besar. Dedikasinya tinggi.
“Tak heran kalau banyak relasinya sering berkunjung ke kantor. Bahkan waktu Boy menikah dulu, bupati Klaten yang menjabat saat itu datang ke rumah almarhum yang cukup terpencil. Yang luar biasa lagi waktu sedang sakit, beliau tetap memberikan sumbangsih yang luar biasa buat kantor. Salut buat mas Boy," pungkasnya.
Selamat jalan Mas Boy. Sakitmu telah diangkat. Beristirahatlah dengan tenang. Terima kasih telah mengajarkan kami perihal semangat berjuang yang tak pernah padam. Kami di sini selalu mengenang semua kebaikanmu. (*/wa) Editor : Damianus Bram