RAGIL LISTIYO, Boyolali, Radar Solo
Ratusan tenongan tertata rapi di atas tikar yang digelar memanjang sejauh 50 meter. Warga Dusun Mlambong, Sruni, Musuk duduk rapi dengan aneka makanan di depannya. Ada satu menu yang selalu ada, yakni ketupat. Lengkap dengan lauk yang bervariasi seperti sate, tahu kupat, opor dan lainnya. Setelah rangkaian doa, warga lantas makan bersama.
Acara dilanjutkan dengan arak-arakan sapi. Diawali dengan topeng tembem cluntang, gunungan jaler hasil bumi, reog topeng ireng dan bersambut arak-arakan ratusan sapi. Satu per satu peternak, pria dan wanita memegang tali sapinya. Ada juga anak-anak yang menunggang sapi. Tiap sapi dikalungkan ketupat maupun hasil bumi seperti wortel, terong, cabai dan lainnya.
Warga Desa Sruni mayoritas bekerja sebagai peternak dan petani. Tiap bakdo sapi, ratusan sapi akan digiring keluar rumah. Dijemur, diberi makan ketupat dan diarak. Meski dua tahun sejak pandemi, tradisi ini tak digelar meriah, namun, tetap dilestarikan. Suka cita ini disambut dengan ratusan warga yang menonton
"Kupat yang kami kalungkan untuk mempercantik sapi menjadi simbol kalepatan (kesalahan, Red). Agar saling memaafkan. Rangkaian acara ini menjadi ungkapan sara syukur kami," ungkap peternak muda setempat, Laisian Bahrun, 27.
Kegiatan ini sekaligus ngalap berkah. Karena sapi dimanfaatkan sebagai sumber penghidupan warga. Baik susu, daging maupun kotorannya. Bagi warga, setelah tradisi bakdo kupat ini ternak akan semakin sehat. Pertanian juga tumbuh subur dan panen melimpah. Memeriahkan tradisi ini, tiga ekor sapi milik Bahrun juga diarak keliling.
"Setelah ini diharapkan bisa ngalap berkah. Yang pasti kalau sapi keluar kandang, sapi akan gerak dan mendapat sinar matahari. Karena selama ini dikandangkangkan terus. Lalu berefek pada hasil peras susu karena sapinya semakin sehat dan senang," katanya.
Sedangkan tokoh masyarakat Desa Sruni Jaman mengamini kegiatan kupatan dan doa bersama menjadi ungkapan syukur. Dilanjutkan dengan arak-arakan sapi dengan kalungan ketupat menjadi simbol kesalahan dan saling memafkan. Tradisi turun-temurun ini berlangsung sejak lama.
Jaman menjelaskan, secara filosofi tradisi ini untuk mempererat kesatuan dan kesatuan masyarakat. Lalu arak-arakan sapi ini agar sapi saling bertemu. Yang awalnya belum bunting lalu timbul birahi dan bisa bunting. Lalu makna lain agar hasil pertanian juga melimpah.
“Karena warga di sini 100 persen memelihara sapi. Selain untuk susu dan daging, kotoran dimanfaatkan untuk pupuk. Penyubur lahan warga," jelasnya.
Tradisi ini juga menarik perhatian pemudik. Salah satunya Rohmat yang tahunan merantau ke Jakarta dan Sumatera. Dia sengaja menunda balik ke tanah rantau untuk mengikuti tradisi kenduri dan arak-arakan sapi ini. Selain untuk bersilaturahmi, tradisi ini menjadi wasilah untuk melestarikan budaya.
"Kangen karena dua tahun nggak ada acara dan Lebaran. Acara arak-arakan sapi ini juga unik, lalu ada keseniannya juga seperti reog," ungkapnya.
Pelestarian tradisi ini mendapat angin segar dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali Darmanto. Bakdo sapi ini menjadi perwujudan suka cita bagi peternak dan hewan ternaknya. Secara praktis, kehidupan masyarakat desa setempat tak bisa dipisahkan dengan ternak.
"Pada hari raya seperti ini masyarakat memperlakukan sapi dengan baik. Ketika sapi suka masyarakat suka, ketika sapinya sedih masyarakat juga sedih. Ini sebagai peninggalan warisan budaya dari pendahulu kita yang wajib hukumnya untuk melestarikan," terangnya.
Dia berharap masyarakat semakin total dalam memelihara sapinya. Tradisi ini bisa menjadi pemantik dan memotivasi masyarakat dalam berternak. "Tugas kita adalah pemajuan (tradisi, Red). Ada pelestarian, perlindungan, pembinaan dan penggunaan," ujarnya. (rgl/bun/dam) Editor : Damianus Bram