RAGIL LISTIYO, Boyolali, Radar Solo
Begitu gending ditabuh, suara Nyi Suyatmi melengking dan memikat. Rekaman video Nyi Suyatmi muda yang membawakan gending Rondo Nunut Banyumasan dalam pementasan wayang kulit Ki Narto Sabdo tak ada cela. Baru satu bait dibawakan, riuh tepuk tangan menyambut. Cengkok dan nada tinggi mampu dibabat habis.
Namun, suara merdu dan melengking Nyi Suyatmi tak akan lagi terdengar. Sejak pensiun di dunia tarik suara pesindenan dia memilih menghabiskan masa tua di rumahnya, Karangsalam RT 04 RW 08, Mudal, Boyolali Kota. Kabar lelayu mengagetkan pada Rabu malam. Sekitar pukul 22.00, pesinden kondang ini berpulang karena sakit.
Kabar duka tersebut dibenarkan Wakil Ketua Koordinator Wilayah (Korwil) Surakarta Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jawa Tengah Sri Susilo. Memori berputar beberapa tahun silam. Nyi Suyatmi pernah menemaninya pentas wayang empat tahun silam. Sinden senior ini selalu bersikap rendah hati. Suyatmi mampu memerankan diri menjadi rekan bahkan guru para sinden muda dengan gaya Surakarta.
"Kenangan paling saya ingat orangnya ramah dan sumeh. Mau pentas ya semua disapa. Gampang banget (orangnya, Red), tidak membeda-bedakan dalang senior dan junior. Sosoknya entengan (tidak sungkan menolong, Red) sama siapa saja. Berbagi ilmu juga tidak pelit. Kalau ada sinden yang baru belajar, malah diajari, wangsalannya begini, cengkoknya begini," kenang dalang yang dikenal dengan sebutan Dalang Thengkleng ini Kamis (19/5).
Susilo menambahkan, meski dikenal sebagai sinden senior, Suyatmi tetap mau menemaninya pentas. Terakhir pementasan wayang kulit bersama pada 2018 silam. Pementasan wayang di Musuk kala itu begitu terkenang. Setelah pementasan, Nyi Suyatmi memilih pensiun karena faktor usia dan fisik.
"Meski nyinden usianya sudah tua. suaranya masih sip. Tidak luntur, cengkok tinggi tetap kuat. Wong, Nyi Suyatmi pernah menjadi pesinden sejumlah dalang kondang. Waktu masih muda itu (pernah menjadi pesinden) Ki Narto Sabdo. Kemudian Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudarsono (almarhum), Purbo Asmoro, Sayoko. Bersama saya juga sering,"
Nyi Suyatmi juga beberapa kali menemaninya pentas wayang. Suaranya sangat khas. Ketika nyinden, Nyi Suyatmi memiliki suara yang lantang dan keras. Bahkan berani memberikan cengkok bebas yang khas. Suyatmi juga mengenang partner seniornya, Ki Narto Sabdo dengan baik. Tiap ada kesempatan, lagu-lagu ciptaan Ki Narto Sabdo akan dinyanyikan.
"Tembang wajib Nyi Sunyatmi itu tembang-tembang karya Ki Narto Sabdo. Karena Nyi Suyatmi bergabung kelompok karawitan Condong Raos, karawitan milik Ki Narto Sabdo. Kalau manggung, wajib bawa lagu Ojo Dipleroki dan Kadung Tresno. Kalau dah nyanyi itu dah bagus sekali," jelasnya.
Bakat menyinden Suyatmi terlihat sejak usianya menginjak 9 tahun. Besar dari keluarga seniman hingga akhir 1970-an dia direkrut dalang senior. Semakin bertambahnya usia, kemampuan fisiknya mulai menurun. Suyatmi memilih gantung micropon dan istirahat dari dunia persindenan. Namun, dia tetap membuka diri pada orang-orang yang ingin berlatih padanya.
Tak ayal, kabar duka tersebut tentu memukul dunia wayang kulit dan pesindenan. Utamanya di Boyolali. Nyi Suyatmi meninggal diusia 66 tahun karena sakit. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka dan dikebumikan pukul 11.00 di Astonoloyo Mudal, Boyolali Kota. (*/bun) Editor : Damianus Bram