RAGIL LISTIYO, Boyolali, Radar Solo
Masuk ke Dusun Kalidadap di Desa Urutsewu, Ampel, Jawa Pos Radar Solo terhenti di tempat peribadatan umat Budha, Vihara Virya Dharma Loka. Kemudian sekitar 100 meter ke utara, berdiri musala yang menjadi rumah ibadah umat Islam berdiri kokoh. Lokasinya tepat di samping rumah umat Budha dan Kristen. Tampak pula masyarakat tengah asyik mengobrol. Tak terpengaruh dinding egosentris latar belakang yang berbeda.
Desa Urutsewu memiliki 6.857 jiwa penduduk. Ada lima agama dan satu aliran kepercayaan yang dipeluk masyarakat setempat. Ada Islam, Kristen, Katholik, Hindu dan Budha. Selain itu, tempat ibadah juga lengkap. Masjid, mushala, vihara, pura hingga gereja. Masyarakat hidup berdampingan, saling menjaga dengan toleransi tinggi.
Budaya guyup rukun ini sudah dijalankan puluhan tahun. Di Dusun Kalidadap terdapat tiga agama yang dianut. Yakni Budha dengan 25 kepala keluarga (KK), Islam 20 KK dan Kristen 5 KK. Dua tempat ibadah, yakni vihara dan masjid juga berdekatan. Hanya berjarak 100 meter saja. Tak ada masyarakat yang mengeluhkan hal sepele. Apalagi perihal toa masjid dan musala.
"Kehidupan masyarakat aman, kerukunan dan toleransinya baik.
Setiap ada kegiatan selalu saling mendukung. Kalau ada salah satu kegiatan yang lain ikut hadir. Apalagi di sini mayoritas juga Budha dan Islam, jadi ada dua tempat ibadah," terang Sumarni, ketua Rukun Tetangga (RT) Dusun Kalidadap, Urutsewu, Ampel, Selasa (31/5).
Masyarakat mampu menjaga ego dan batasan. Tak mengatur-atur perihal peribadatan. Namun, memberikan ruang-ruang untuk bercengkrama. Ketika umat Budha punya hajat, umat Islam dan Kristiani tak segan membantu. Baik dalam membersihkan lingkungan tempat peribadatan, memasak untuk acara besar hingga hajatan.
Ketika Lebaran tiba, tak hanya umat Muslim yang ikut merayakan. Umat Kristen dan Budha juga ikut open house. Saling bersilaturahmi ke rumah-rumah. Begitu juga sebaliknya. Ketika umat Budha dan Kristen merayakan hari raya, umat Islam juga diundang. Toleransi juga diwujudkan dalam pengelolaan potensi dusun yang memiliki kolam lele.
"Ketika acara-acara keagamaan pasti saling mendukung. Acara kondangan semua ikut. Kalau hari raya saling undang dan saling datang. Kami juga saling mengamankan dan menjaga ketika umat menjalani ibadah," jelasnya.
Sedangkan regenerasi anak-anak ini dituangkan dalam pembinaan masing-masing umat. Seperti di Islam ditanamkan melalui Taman Pendidikan Alquran (TPA). Juga di sekolah Budha dan remaja gereja.
"Semoga kedepannya tidak saling bersinggungan. Tetap guyup rukun dengan toleransi tinggi," harapnya.
Salah satu pemeluk agama Budha Yatini mengaku, toleransi masyarakat sangat tinggi. Ingatannya berlabuh saat umat agamanya memiliki hajat besar 6 Januari lalu. Saat itu, upacara peribadatan dan perayaan hari jadi Vihara Virya Dharma Loka. Ternyata, umat Islam dan Kristen datang membantu membersihakan vihara dan meramu makanan.
"Saat ultah vihara gotong royong dan bantu bersih-bersih, memasak. Pas ada acara Waisak maupun ulang tahun vihara saat sembahyang juga dijaga. Kita undang juga pada hadir. Toleransinya sangat tinggi, semua bisa menyatu jadi saling kerja sama dan gotong royong bareng. Bahkan, kalau peringatan peribadatan Idhul Fitri kami ikut merayakan, ikut sowan dan memberi ucapan selamat," terangnya.
Kadus 1 Desa Urut Sewu, Ampel, Parmin mengamini kerukunan warga. Ada lima agama dan satu aliran kepercayaan yang dianut warga. Beruntungnya, latar belakang yang berbeda ini tak menimbulkan gesekan-gesekan. Justru semakin mengeratkan. Masyarakat mampu memahami batasan agama yang tidak perlu dilalui. Mereka juga paham bagaimana cara merawat toleransi.
"Di sini sangat rukun, karena kalau ada salah satu umat punya hajat yang lain mendukung dan membantu. Baik Hindu, Budha maupun Islam, Kristen, Katholik maupun yang aliran kepercayaan.Mereka semua hidup rukun tidak ada masalah," terangnya.
Desa Urutsewu memiliki keberagaman agama. Terdiri dari Islam dengan jumlah pemeluk 6.343 jiwa, Kristen sebanyak 204 jiwa, Katholik sebanyak 54 jiwa, Budha sebanyak 181 jiwa, Hindu sebanyak 74 jiwa dan aliran kepercayaan satu orang. Keberagaman ini juga didukung dengan fasilitas tempat ibadah yang lengkap. Bagi masyarakat, Pancasila tak hanya menjadi hafalan. Namun, juga pedoman hidup bermasyarakat. (*/bun) Editor : Damianus Bram