Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Moerbono Mochtar, “Dokter Salep” yang Lahirkan Ahli Spesialis Kulit & Kelamin

Damianus Bram • Kamis, 2 Juni 2022 | 15:00 WIB
ENERGIK: Moerbono Mochtar di cabang klinik miliknya. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)
ENERGIK: Moerbono Mochtar di cabang klinik miliknya. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Pernah dijuluki sebagai dokter salep, tidak membuat dokter senior ini mundur. Bahkan dia menjadi pioner yang mengenalkan produk kosmetik di Kota Bengawan. Kini, Namanya malah moncer di kancah internasional.

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo, Radar Solo.

Nama Moerbono Mochtar tidak asing lagi di kalangan dokter spesialis kulit dan kelamin. Tak hanya di Kota Bengawan, bahkan sampai di tingkat internasional. Selain jadi guru hampir semua dokter spesialis kulit di seluruh Indonesia, dokter dengan pembawaan kalem ini juga jadi langganan pasien perawatan kulit wajah.

"Dulu saya pernah dijuluki dokter salep. Karena dulu dokter kulit terkenalnya obatnya kan salep, buat gatal. Itu saja," kenang Moerbono kepada Jawa Pos Radar Solo, di sela-sela grand opening klinik miliknya akhir pekan kemarin.

Moerbono ingin mengubah stigma itu. Bahwa dokter spesialis kulit juga bisa membuat kosmetik. Sejak 1994, dia pun mulai mengenalkan kosmetik ramuannya sendiri. Membuat krim wajah sampai toner cleansing. Kala itu, Moerbono jadi pioner dokter spesialis kulit di Kota Solo yang membuat krim racikannya sendiri.

"Saya bikin sendiri 20 liter cairan untuk toner cleansing. Berember-ember bisa itu. Saya ingin mengenalkan kosmetik ke masyarakat karena waktu itu banyak pelanggan salon yang kena efek samping. Nah, karena saat kuliah spesialis ada pelajaran soal flek dan keluhan kulit lainnya, ya sudah kami tangani saja," bebernya.

Tidak disangka, produk kosmetik racikannya meledak di pasaran. Pemakainya membeludak. Sejak saat itu, peminatan spesialis kulit langsung laku keras. Dari yang dulunya hanya satu atau dua orang saja, menjadi lebih dari 100 orang pendaftar dalam setahun. Dan sampai sekarang, profesi dokter spesialis kulit justru menjadi incaran banyak orang. Mahasiswa rela bersaing dengan ratusan pendaftar lainnya demi bisa meraih predikat dokter spesialis kulit.

"Padahal spesialis kulit itu yang diterima hanya delapan orang. Yang mendaftar ratusan. Jadi peminatan spesialis yang paling favorit," sambung pria kelahiran Pati, 19 Februari 1949 itu.

Saking banyaknya mahasiswa yang belajar spesialis kulit, kini Moerbono punya banyak murid yang menjadi dokter spesialis kulit terkenal. Booming klinik kecantikan di Kota Solo pun diramaikan oleh murid-murid Moerbono. Dia mengaku tidak merasa tersaingi dengan menjamurnya klinik yang didirikan para muridnya.

"Murid saya mulai bikin skin center, silakan. Malah jadi rekanan dan mitra saya. Kalau ada keluhan yang dia tidak bisa menangani ya dikirim ke saya. Kalau yang ringan-ringan, silakan mereka kerjakan," imbuh dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) ini.

Sebagai senior sekaligus pengajar, Moerbono tidak pelit membagikan ilmu ke murid-muridnya. Moerbono bahkan telah tersertifikasi internasional sebagai pengajar dermatology intervensi internasional. Sertifikasi itu berupa medali. Yang semestinya diterima langsung di New York. Namun lantaran kesibukan Moerbono, medali hanya dikirim ke alamat rumahnya.

"Murid-murid saya sudah saya ajari semua ilmu yang saya kuasai. Misalnya, treatment kantong mata. Itu mungkin belum ada lima dokter kulit yang bisa menangani. Treatment liposuction juga belum ada 10 dokter kulit yang bisa. Nah, murid-murid saya calon spesialis kulit ini sudah saya ajari semua. Syaratnya, mereka wajib menyebar ke seluruh Indonesia," ujarnya.

Moerbono memang menegaskan kepada murid-muridnya, bahwa pengabdian sebagai dokter harus dilakukan ke daerah-daerah. Jangan hanya duduk diam di ibu kota saja. Yang terpenting dari profesi dokter adalah pengabdian. Banyak penyakit kulit di daerah yang belum tertangani dengan baik. Sebut saja, eksim, lepra, dan lain sebagainya. Belum lagi penyakit kelamin.

"Meskipun mayoritas pasien datang untuk kecantikan, tapi penyakit kulit dan kelamin juga harus bisa ditangani. Saya pernah menerima pasien dengan penyakit kelamin. Katanya dokter kulitnya tidak mau menangani. Untung bukan murid saya. Kalau murid saya sudah saya panggil, tak marahi. Ya tetap harus diterima penyakit kulit dan kelamin apapun. Meskipun borok tetap harus ditangani," tegasnya.

Moerbono mengaku dia sudah mulai melakukan regenerasi dokter-dokter spesialis kulit. Mereka juga sudah memenuhi perintah Moerbono untuk mengabdi ke daerah-daerah. Ada yang ke Merauke, Halmahera, dan banyak daerah lainnya di seluruh Indonesia. Ke depan, selepas pensiun menjadi dokter, Moerbono ingin terus mengajar. Mengabdi kepada masyarakat sebagai seorang pengajar.

"Saya juga masih mengajar ke mana-mana. Besok saya ke Palembang. Ngajar untuk topik treatment mata panda di sana. Saya tidak mau,  besok kalau pensiun, malah enak-enak, dolan-dolan. Saya tetap mau ngajar," ujar dia. (*/bun)  Editor : Damianus Bram
#Moerbono Mochtar #Ahli Spesialis Kulit dan Kelamin #Dokter Salep