Anton Widodo mulai merintos usaha kayu pada 2019. Pemuda asal Magetan, Jawa Timur ini mendapatkan istri asli Kota Susu. Meski memiliki ijazah sarjana hukum perguruan tinggi ternama di Solo, dia memilih usaha kayu. Sama seperti orang tuanya dulu.
"Dari kecil keluarga semua di bidang kayu. Akhirnya ikut tertarik usaha ini, karena dari situ bisa menikmati hasilnya. Memang sejak kecil, sudah ikut orang tua di Magetan saat nebang kayu. Dari situ mulai dikenalkan jenis-jenis kayu," kata pemilik toko kayu di jalan Solo-Selo-Borobudur ini.
Di Magetan, keluarganya memiliki toko kayu. Saat muda ayahnya selalu mengajak membeli kayu yang masih bentuk pohon. Diajari pula cara memilih kayu yang tua, kokoh dan sehat alias tidak bolong-bolong. Setelah itu, kayu dipotong-potong dengan ukuran tertentu. Utamanya sebagai bahan bangunan. Baru dijual ditoko sendiri.
"Akhirnya buka usaha di sini dan mulai merintis 2019. Sebenarnya masih bimbang mau merintis usaha di sini (Boyolali). Karena dari Magetan ke sini belum ada teman, kenalan dan langganan, juga butuh modal banyak. Tapi saya nekat. Buka modalnya saya jual motor ninja, laku sekitar Rp 25 juta buat modal beli kayu glugu satu truk. Saya ambil di Trenggalek," katanya.
Kayu glugu ini terbagi menjadi dua ukuran. Yakni 4 meter seharga Rp 150 ribu, dan ukuran 3 meter harga Rp 110 ribu. Karena minim info di lapangan, ternyata kayu glugu tersebut tak laku. Mayoritas masyarakat Cepogo dan Boyolali tidak menyukai kayu jenis itu. Akhirnya, kayu glugu hanya ngendon di toko mulai teteren atau rusak.
"Kayunya jadi enteng banget. Jadu saya bawa pulang ke Magetan. Saya modal lagi, uang tabungan saya belikan kayu wiu, sengon, mahoni di Salatiga. Ternyata ramai di sini," terangnya.
Anton biasanya kulakan kayu di Salatiga. Sudah dalam potongan kayu untuk bangunan dengan berbagai ukuran. Jika kulakan langsung, Anton bisa memilih kayu-kayu yang kualitasnya baik. Namun, jika dikirimkan ke tokonya, terkadang diselipkan kayu-kayu yang kualitasnya kurang baik. Seperti bengkok, lalu tidak rata dan lainnya.
"Kayu yang kualitas kurang baik saya potongi untuk dibuat kandang kambing. Intinya usaha kayu gak ada ruginya. Kandang kambing juga laku dan ramai. Karena baru trend ternak kambing. Bikin kandang ini saya belajar sendiri lewat di YouTube," jelasnya.
Harga kandang kambing tergantung ukuran. Untuk ukuran 1,5 x 1 meter persegi dijual Rp 400 ribu. Kemudian ukuran 2 x 1,2 meter persegi seharga Rp 600 ribu. Di sisi lain, lokasi tokonya juga dekat dengan pasar hewan Jelok. Kayu dan kandang kambing terjual hingga Klaten, Jogjakarta, Salatiga hingga Solo. Dia juga siap mengirim ke lokasi pemesan. Jika jaraknya jauh, maka dikenakan ongkos pengiriman.
"Kebanyakan penjualan paling laku itu dari online, saya pasarkan lewat Facebook. Ternyata nyantol sampai luar daerah. Sekarang omzet saya perbulan bisa mencapai Rp 10 juta. Saya juga dibantu dua pekerja. Meski masih ada tanggungan sewa toko dan kreditan mobil, usaha kayu tetap menguntungkan," ujarnya. (rgl/bun) Editor : Damianus Bram