Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Indahnya Toleransi Agama Warga Bedug, Wonogiri: Puluhan Tahun tanpa Gejolak

Damianus Bram • Jumat, 1 Juli 2022 | 15:00 WIB
SALING MENGHORMATI: Sejumlah tokoh agama setempat berkumpul di vihara. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
SALING MENGHORMATI: Sejumlah tokoh agama setempat berkumpul di vihara. (IWAN ADI LUHUNG/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Toleransi beragama tidak bisa terwujud hanya dengan kata-kata. Praktik ini setidaknya sudah dilakukan sejak puluhan tahun di Dusun Bedug, Desa Gedongrejo, Giriwoyo, Wonogiri.

IWAN ADI LUHUNG, Wonogiri, Radar Solo

Aktivitas warga Dusun Bedug berjalan seperti biasanya. Suasana pedesaan sangat terasa di dusun yang terletak di tenggara dari pusat kota Wonogiri ini. Warga yang ramah menyambut setiap tamu yang datang. Antarwarga juga saling bercengkrama yang membuat kehidupan warga makin guyub.

Perbedaan keyakinan di antara warga di dusun itu tidak menghalangi budaya saling membantu dan berinteraksi. Budaya ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam.

Kepala Desa Gedongrejo Untung Suharin mengatakan, warga desanya sangat heterogen. Ada tiga agama yang dianut oleh warganya yakni Islam, Katolik dan Budha

"Paling terlihat di Dusun Bedug. Di dusun ini ketiga agama itu ada. Termasuk rumah ibadahnya," beber dia Selasa (28/6).

Meski memiliki perbedaan kepercayaan, warga di Dusun Bedug tetap hidup berdampingan, guyub rukun. Belum pernah ada gesekan antar umat beragama di dusun tersebut.

Di setiap hari raya masing-masing agama, selalu ada partisipasi dari umat agama lainnya. Untung mencontohkan, saat salat Idul Fitri, umat agama lain ikut melakukan pengamanan dan mengatur lalu lintas di sekitar lokasi pelaksanaan salat Id.

"Itu berlaku juga saat umat Budha memperingati Waisak dan umat Katolik saat Natal tiba. Semua guyub rukun," kata Untung.

Memori Untung kembali saat dia masih kecil. Seingat dia, mayoritas warga di Dusun Bedug memeluk agama Budha. Namun karena sulitnya proses administrasi pernikahan, penganut agama Budha mengalami penyusutan. Kemudian setelah menikah ada yang memilih ikut agama suami atau istrinya.

"Tapi, sekitar tahun 90-an, waktu itu saya menikah sudah bisa masuk di catatan sipil. Wong saya juga dulu beragama Budha dan nikah secara Budha, tapi sekarang saya memeluk agama Islam," papar dia.

Ketua Vihara Maitri Ratna yang berdiri di Dusun Bedug, Sukino menuturkan, di dusun itu setidaknya ada 39 kepala keluarga (KK) atau 70 orang lebih yang memeluk agama Budha. Berdasarkan catatannya, pada 1965, ada 265 KK di dusun itu yang memeluk agama Budha. Namun pada 1980-an, mulai terjadi penyusutan.

"Kalau dari cerita nenek moyang kami, agama Budha bisa masuk ke wilayah ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Majapahit," kata dia.

Menurut Sukino, faktor menyusutan penganut agama Budha karena sulitnya proses administrasi saat pernikahan. Tak heran di masa itu banyak warga yang tidak nemiliki surat nikah. Namun, sekitar 1972 pernikahan bagi warga pemeluk Budha sudah bisa tercatat.

Menurut Sukino, meski beda-beda agama namun kerukunan di dusun setempat selalu adem ayem. Toleransi antar umat beragama sangat terjaga.

"Sudah biasa, misal ada umat kami (Budha) di sini  menikah dengan umat Islam yang saat ini mayoritas, terus dia pindah Islam juga tidak masalah," kata Sukino.

Hal senada diutarakan Lina Kristiani, pemeluk agama Katolik di Desa Gedongrejo. Dia mengaku jika di dalam keluarganya agama yang dianut berbeda-beda. Kedua orang tuanya menganut Budha, sedangkan dia dan suaminya Katolik lalu adiknya beragama Islam.

"Misal Natal ya ikut Natalan, kalau Lebaran ikut Lebaran. Pas Waisak ikut merayakan Waisak. Tapi, paling meriah waktu Lebaran. Kami yang tidak memeluk agama Islam ikut anjangsana ke rumah-rumah warga," ujar dia. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#Dusun Bedug #Toleransi Agama di Dusun Bedug #Toleransi Agama Warga Bedug #Warga Bedug