Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Kiprah Sarwidi Angkat Batik Tulis Pewarna Alam

Damianus Bram • Minggu, 3 Juli 2022 | 22:00 WIB
ALAMI:  Batik tulis pewarna alam karya Sarwidi, warga Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten yang diminati banyak kalangan. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
ALAMI: Batik tulis pewarna alam karya Sarwidi, warga Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten yang diminati banyak kalangan. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN - Perkembangan kerajinan batik tulis dengan perwarna alam di Klaten tak bisa dilepaskan dari sosok Sarwidi, 50. Pria kelahiran Desa Jarum, Bayat 2 Maret 1972 itu telah menghasilkan berbagai motif tradisional yang dibuatnya sejak 2006. Bagaimana dia mengawali karyanya? Berikut petikan wawancara dengan Jawa Pos Radar Solo.

Bagaimana kabarnya Pak Sarwidi ? Sibuk apa?

Baik. Terus berkarya. Sekalipun sempat lesu akibat pandemi, tetapi tetap berkarya dengan membatik beragam motif. Ada enam perajin batik dari ibu-ibu sekitar. Sekarang tambah tiga orang. Harapannya bisa meningkatkan kesejahteraan warga.

Awal mula menjadi perajin batik?

Pascagempa Jogja 2006, ada pelatihan di Balai Besar Kerajinan dan Batik di Jogja. Dilatih selama enam hari. Mulai dari membuat motif, pewarnaan, hingga mengecap batik. Akhirnya memutuskan menekuni sebagai perajin batik. Modalnya menjual becak laku Rp 1,5 juta. Uangnya untuk membeli bahan dan peralatan membatik. Kebetulan selama enam tahun pernah jadi tukang becak di Jogja.

Alasan memilih batik tulis pewarna alam?

Kebetulan saya pernah menjadi buruh batik printing dengan warna sintetis. Jadi sudah tahu dampaknya, sehingga saya tidak ingin generasi penerus merasakan hal yang sama. Selain itu, saya ingin batik pewarna alam dengan memanfaatkan tumbuhan di lingkungan sekitar rumah agar seperti mahoni, kulit pohon manga hingga jelawe tetap lestari.

Progres transaksi batik tulis pewarna alam?

Sudah tiga bulan ini mulai menggeliat kembali. Kebetulan awal minggu ini akan ada kunjungan asal Temanggung ke showroom dan tempat produksi. Dulu saya pernah memberikan pelatihan ke mereka dan terdapat permasalahan terkait pewarna alam, sehingga ingin belajar. Begitu juga di pertengahan bulan ini ada kunjungan rombongan dari Jepang setelah melandainya Covid-19. Tapi sebenarnya sudah delapan tahun aktif menjalin komunikasi.

Kok bisa tembus Jepang?

Ada desainer asal Jepang yang menekuni batik Indonesia. Itu memang diwariskan kepadanya oleh keluarganya yang sudah turun temurun. Hingga akhirnya melakukan penelitian batik di sejumlah kota di Indonesia. Lalu ke tempat saya menjadi lokasi terakhir dan justru tertarik serta membeli beberapa potong kain batik karya saya. Dari situ dia selalu mengambil produk saya untuk dipasarkan di Jepang. Termasuk dipercaya untuk membuatkan motif pada baju tradisionalnya yang dikirim ke saya.

Motif batik yang sering dibuat?

Motif awal seperti daun papaya, daun mangga, dan krokot. Ada juga motif pesanan. Antara lain batik salakan, wahyu tumurun, serta motif khas Solo dan Jogja. Termasuk motif abstrak, wayang dan bunga.

Tantangan memproduksi batik tulis pewarna alam? 

Warnanya tidak ngejreng seperti batik lainnya. Saya butuh waktu sekitar satu tahun untuk mempelajari batik pewarna alam ini. Bagaimana batik warna-warna jadul bisa ditingkatkan kualitasnya hingga akhirnya pewarnaan yang kita inginkan tercapai.

Pesan bagi anak muda yang hendak terjun menjadi perajin batik tulis pewarna alam?

Harus berani mengembangkan dengan berbagai inovasi. Mulai dari motif hingga proses pewarnaannya. Berkarya sesuai kemampuan masing-masing sehingga tetap lestari. (ren/wa/dam) Editor : Damianus Bram
#Batik Tulis Pewarna Alam #Perajin Batik Tulis #Batik Tulis #Perajin Batik Tulis Klaten