Di Taman Satwa Taru Jurug (TSJT), tercatat sembilan ekor buaya muara. Panjang yang terkecil sekitar 1,5 meter dan yang paling besar lebih dari 5 meter.
“Buaya muara ini salah satu spesies paling besar di Indonesia. Ukurannya bisa mencapai lebih dari 6 meter,” terang dokter hewan TSTJ Nalia Yustika Indani.
Dengan ukuran tubuh itu, satwa dengan nama latin crocodylus porosus ini menjadi predator yang disegani. Saat mencari mangsa, daya jelajahnya luas.
"Di alam liar, buaya muara bisa memangsa apa saja yang ukurannya lebih kecil. Tapi kalau di TSJT diberi pakan ayam dan lele. Yang dewasa, sekali makan bisa habis lima ekor ayam dengan durasi pemberian pakan satu pekan sekali,” beber Nalia.
Dalam beberapa kasus, buaya muara menjadi tersangka utama penyerangan terhadap manusia. Karena itu, satwa ini lekat dengan istilah man-eater crocodile (pemangsa manusia).
"Cukup agresif dibandingkan buaya lainnya. Sebab itu, sangat tidak disarankan bagi masyarakat memelihara buaya secara pribadi," pesannya.
Beberapa ekor koleksi buaya muara di TSTJ merupakan sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dari masyarakat. Ada yang dipelihara dalam satu kandang, ada yang dipisah untuk menghindari saling serang.
Kandang buaya muara di TSTJ dilengkapi kubangan air untuk berendam. Termasuk tempat untuk berjemur. "Hari-harinya mayoritas dihabiskan untuk berendam. Sesekali keluar kubangan untuk berjemur. Fungsinya menghangatkan tubuh dan memenuhi kebutuhan vitamin D dari sinar matahari," terang Nalia. (ves/wa) Editor : Damianus Bram