SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
Bermodal pesangon pensiun dini dari tempat kerjanya, Denok mulai melakukan berbagai kegiatan yang fokus pada pemeliharaan lingkungan hidup dan pengelolaan tanah. Dari sana dia mulai menawarkan gagasan-gagasan dalam perbaikan lingkungan hidup dan tata kelola sampah kepada masyarakat di sekitarnya.
"Saya mulai awal 2015 setelah saya berhenti bekerja. Kalau dihitung sebetulnya juga baru delapan tahun ini. Di awal-awal murni pakai uang sendiri (uang pensiun dini dari pekerjaan, Red). Setelah aktif menjadi narasumber berbagai pelatihan, fee pembicara saya gunakan untuk kegiatan," beber dia.
Sejak 2015 sampai saat ini sedikitnya ada 135 bank sampah portable yang telah dia buat di berbagai titik di Kota Bengawan dan sejumlah kabupaten sekitar. Untuk memastikan bank sampah itu bisa berjalan dengan baik, minimal Rp 1 juta harus disiapkan dalam bentuk barang dan peralatan yang diperlukan. Ini dilakukan agar tidak membebani masyarakat setempat yang hendak mempraktikkan pengelolaan sampah melalui bank sampah portable.
"Saya akui kalau digandeng pihak swasta atau jadi pembicara oleh pemerintah saya tidak mau dibayar murah karena uangnya memang digunakan untuk memperluas program bank sampah portable sampai ada di 135 titik ini. Targetnya minimal ada satu bank sampah portable di setiap RW di Kota Solo," papar Denok.
Di balik prestasi yang membanggakan itu ada sejumlah cerita unik yang mewarnai perjalanan seorang pegoat lingkungan seperti Denok. Awal-awal mulai gerakan ini, dia kerap ditolak oleh berbagai pihak termasuk petugas tingkat kelurahan yang dulu dia sodori program pengelolaan sampah pada 2015. Minim pengalaman dan latar belakang pendidikan yang jauh dari persoalan lingkungan hidup membuat banyak orang meragukan kemampuannya kala itu.
"Sebelum saya mulai gerakan di kampung saya sendiri ini awalnya saya mulai masuk ke kelurahan-kelurahan. Saya tawarkan program pengelolaan sampah agar jika nanti saya mulai turun ke lapangan tidak dipermasalahkan di kemudian hari. Ternyata ditolak semua. Saya sempat merasa sakit hati," kenang dia.
Penolakan-penolakan itu justru membuat Denok makin ngotot dalam merealisasikan keinginannya dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Dimulai dari lingkungan terdekatnya Denok mulai mendapat tempat di masyarakat. Lama kelamaan dia mulai menemukan orang-orang yang memiliki keinginan dan kegigihan yang sama dalam merawat lingkungan hidup dan pengelolaan sampah. Akhirnya sedikit demi sedikit dia mulai bisa membentuk kelompok-kelompok dan pegiat-pegiat lingkungan di berbagai titik di Kota Solo yang fokus pada program bank sampah portable.
Kegigihan dalam mengelola sampah ini ternyata juga sempat mendapat tentangan dari sebagian kelompok orang yang tidak senang dengan aktivitasnya. Bahkan sampai menjurus kepada intimidasi.
“Orang-orang yang tidak suka ini tidak hanya berbicara di belakang saya, tapi sampai datang ke rumah untuk menekan dan menginterogasi saya, bahkan sampai gebrak-gebrak meja di depan ibu saya yang umurnya kala itu sudah 75 tahun. Saya makin tertantang untuk terus maju," ujar Denok.
Terkait program bank sampah portable, Denok mengatakan, selain membuat lingkungan sehat dan nyaman, juga bisa berdampak pada ekonomi masyarakat.
"Jargon kami itu, pilah sampah jadi berkah. Kalau bisa dikelola dengan baik berkahnya juga bisa dirasakan banyak orang," jelas dia.
Soal pencapaian saat ini, Denok memandang penghargaan-penghargaan itu merupakan bonus dari apa yang telah dia kerjakan selama delapan tahun terkahir. Meski dia tak memungkiri masih penasaran dengan penghargaan Kalpataru.
"Pencapaian pribadi, saya sudah terbitkan satu buku dan ini proses buku kedua, lalu juga sudah dapat penghargaan. Kalau ditanya mau apalagi ya saya pengin mengarahkan lokasi bank sampah-bank sampah ini bisa diarahkan ke kampung iklim,” ujarnya.
Obsesi ini tidak berlebihan. Sebab, Presiden Jokowi sempat menargetkan sampai 2024, terbentuk 20 ribu kampung iklim. Padahal, sampai hari ini baru 8 ribu. Dan Solo baru menyumbang 20 titik kampung iklim. Maka butuh kerja sama semua pihak untuk menciptakan kampung iklim-kampung iklim baru. (*/bun) Editor : Damianus Bram