Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Anggraini Eka Wulandari, Penggagas Kelas Bahasa Isyarat

Damianus Bram • Minggu, 10 Juli 2022 | 20:00 WIB
BERBAGI ILMU: Anggraini Eka Wulandari mengajarkan bahasa isyarat kepada orang tua yang memiliki anak penyandang tuli di Sekretariat Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
BERBAGI ILMU: Anggraini Eka Wulandari mengajarkan bahasa isyarat kepada orang tua yang memiliki anak penyandang tuli di Sekretariat Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Mengalami keterbatasan pendengaran tak membatasi Anggraini Eko Wulandari, 21, mengajarkan bahasa isyarat. Itu diwujudkan Wulan, sapaan akrabnya dengan membuka kelas bahasa isyarat di Sekretariat Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK). Berikut petikan wawancara dengan Jawa Pos Radar Solo dibantu penerjemah bahasa isyarat.

Apa kabar Wulan? Sejak kapan mengalami gangguan pendengaran?

Sejak lahir pada 2021. Dulu kesulitan berkomunikasi karena tidak bisa dipahami lawan bicara. Jadi harus menuliskan pada kertas. Termasuk menggunakan bahasa tubuh.

Cara memerlancar komunikasi dengan orang lain?

Sangat terbantu sejak adanya handphone. Bisa berkomunikasi menggunakan aplikasi pesan dengan cara mengetik.

Inspirasi membuka kelas bahasa isyarat?

Berawal dari banyaknya masalah komunikasi antara ibu dan anaknya yang penyandang tuli. Mereka tidak bisa berkomunikasi secara langsung. Harus menulis dan mengetik lewat handphone. Misalnya ketika memasak, ibu meminta tolong diambilkan cabai, kan tidak mungkin harus menulis atau mengetik dulu

Respons orang tua dengan hadirnya kelas bahasa isyarat?

Orang tua sangat ingin bisa berkomunikasi dengan buah hatinya yang penyandang tuli dengan lebih simpel. Makanya, mereka meminta kami mengajarkan bahasa isyarat. Kelas bahasa isyarat ini sudah berjalan selama enam minggu.

Cara mengajarkan bahasa isyarat?

Kuncinya diawali dari hati. Kalau tidak pakai hati, pasti tidak akan menyambung komunikasinya. Termasuk harus ada kepedulian dulu. Tahapan belajar bahasa isyarat dimulai dengan alfabet.

Apakah perlu didukung dengan mimik wajah?

Ya harus didukung dengan mimik wajah dan gerak bibir. Tidak hanya gerak tangan. Misalnya ketika marah, ya tetap dieskpresikan sehingga tidak datar.

Harapan beroperasinya kelas bahasa isyarat?

Interaksi dan komunikasi antara orang tua dan anak penyandang tuli maupun orang lain semakin baik. Terpenting mau belajar, sehingga bisa memahami (maksud dari penyandang tuli). Jangan sampai dijauhi, karena teman-teman penyandang tuli juga ingin bergaul.

Aspirasi penyandang tuli yang ingin diwujudkan?

Teman-teman masih kesulitan mengakses pelayanan publik. Seperti di layanan kesehatan. Tenaga kesehatan terkadang kurang memahami maksud komunikasi penyandang tuli. Jadi masih perlu pendampingan orang lain ketika mengakses layanan. (ren/wa/dam)

BIODATA

Anggraini Eka Wulandari

 Tempat Tanggal Lahir

Pendidikan

Hobi

Motto
Editor : Damianus Bram
#Kelas Bahasa Isyarat #Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten #Anggraini Eko Wulandari #Bahasa Isyarat