Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Lebih Dekat dengan Komunitas Surakarta Walking Tour

Damianus Bram • Rabu, 20 Juli 2022 | 15:00 WIB
PECINTA SEJARAH: Anggota Komuni Surakarta Walking Tour memandu di gerbong Sepur Kluthuk Jaladara. (DOK. PRIBADI)
PECINTA SEJARAH: Anggota Komuni Surakarta Walking Tour memandu di gerbong Sepur Kluthuk Jaladara. (DOK. PRIBADI)
RADARSOLO.ID - Berwisata menjelajahi Kota Solo tapi bingung mau ke mana saja, jangan khawatir. Minta saja bantuan kepada Surakarta Walking Tour. Karena komunitas yang anggotanya mayoritas muda-mudi ini, siap memandu wisatawan dengan sukarela.

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo.

Surakarta Walking Tour baru terbentuk 2017 lalu. Awalnya, merupakan salah satu divisi baru yang terbentuk dari Komunitas Laku Lampah. Sebelumnya dikenal sebagai Komunitas Blusukan Solo pada 2012 silam.

“Menghormati ketua dan founder sebelumnya yang sudah meninggal dunia, komunitas ini tidak ada yang menjabat di posisi itu. Namun semangat beliau masih kami jaga, untuk meneruskan dan membuat komunitas ini tetap bertahan. Jadi, kami sekarang ini sebagai estafet dari motor yang sebelumnya,” kata salah seorang pegiat Surakarta Walking Tour Muhammad Apriyanto, kemarin (19/7).

Surakarta Walking Tour sejatinya merupakan side project Komunitas Laku Lampah. Namun, geliatnya justru lebih aktif dari komunitas utama. Mengingat para pegiat Surakarta Walking Tour berasal dari beragam disiplin ilmu. Seperti sejarah, budaya, arsitektur, komunikasi, dan sebagainya.

Anggota komunitas ini rutin mengamalkan ilmu masing-masing, sebagai bahan cerita kepada wisatawan. Terutama saat bertugas sebagai guide.

“Latar belakang kami ini beda-beda, kebanyakan usia 25-30 tahun. Tapi ada satu kesamaan, yakni sama-sama menyenangi produk heritage. Dari sini kami mencoba mengajak masyarakat supaya mengerti, dan akhirnya ikut mencintai serta memelihara situs-situs yang ada di Kota Bengawan,” imbuh Apriyanto.

Komunitas ini sering mengemas kegiatan dalam bentuk perjalanan wisata singkat. Terutama membedah situs-situs bersejarah di Kota Solo. Apakah selama memandu wisatawan mereka memikirkan money oriented?

“Tidak sama sekali. Karena masing-masing anggota juga punya pekerjaan dan penghasilan sendiri. Justru kami rela menyempatkan waktu menjadi tour guide bagi para wisatawan. Terutama yang tertarik akan bangunan bersejarah di Solo,” ungkapnya.

Trip yang dilakoni anggota Surakarta Walking Tour cukup beragam. Mulai dari jalan kaki mengunjungi berbagai destinasi heritage, bersepeda, naik bus Werkudara, hingga Sepur Kluthuk Jaladara.

“Bagi yang ikut trip jalan kaki dan sepeda, cukup bayar seikhlasnya. Uangnya masuk kas komunitas. Tapi jika ingin naik bus Werkudara atau Sepur Klutuk Jaladara, ada biaya tambahan untuk tiket naiknya. Lain lagi kalau ingin privat tour dan minta disediakan konsumsi, ya ada biaya sendiri,” beber pria lulusan Prodi Ilmi Sejarah, Fakultas Ilmu Bidaya Universitas Sebelas Maret (UNS) ini.

Tak sekadar tour guide, anggota Surakarta Walking Tour juga dibekali pengetahuan mumpuni terkait heritage di Kota Bengawan. Bahkan mereka harus riset dulu ke destinasi tujuan, untuk menguatkan cerita dan edukasi kepada wisatawan yang didampingi.

“Solo ini punya banyak potensi untuk ditonjolkan, terutama sejarah dan budayanya. Kami rajin mencari lokasi-lokasi baru untuk dibedah bersama. Nah, anggaran riset ini diambil dari uang kas. Kasnya ya dari iuran wisatawan seikhlasnya,” urai Apriyanto.

Sudah hampir lima tahun eksis, sepak terjang Surakarta Walking Tour bukan tanpa kendala. Tak jarang mereka mendapat penolakan dari masyarakat, terutama para pemilik bangunan heritage. Pernah saat membawa rombongan, mereka ditolak mentah-mentah. Berdalih pemilik bangunan ogah kedatangan banyak orang asing.

“Penah juga, pemilik rumah sudah mengizinkan. Tapi saat yang datang orang banyak, langsung ditolak. Untungnya tidak semuanya seperti itu. Ada juga yang dengan senang hati menerima kunjungan kami,” papar Apriyanto.

Sisi baiknya, Surakarta Walking Tour mampu mengedukasi terkait kekayaan budaya dan sejarah Kota Solo. Meskipun kemasan trip-nya ringan, namun wisatawan justru mendapat pengetahuan lebih mendalam. Sekaligus menanamkan kesadaran pada pemilik bangunan bersejarah, termasuk masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitar haritage.

“Tak jarang uang sukarela dari peserta tur, kami serahkan kepada pemilik rumah atau bangunan yang dituju.  Jadi sekarang pemilik bangunan dan masyarakat sekitar lebih peduli untuk memelihara dan merawat. Sekaligus mereka mendapat pemasukan saat ada kunjungan wisatawan seperti ini,” tuturnya. (*/fer) Editor : Damianus Bram
#Komunitas Surakarta Walking Tour #Tour Guide #Surakarta Walking Tour