RAGIL LISTIYO, Boyolali, Radar Solo
Tahun lalu, tradisi larung kepala kerbau digelar cukup sederhana. Hanya diisi agenda kondangan dan sedekah bumi. Sebagai upaya meminimalkan kerumunan, mencegah penyebaran kasus terkonfirmasi positif Covid-19.
Kali ini, tradisi serupa digelar lebih meriah. Mengingat aturan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) diperlonggar. Nantinya, tradisi larung kepala kerbau akan dijejali sejumlah kegiatan menarik. Mulai dari pentas budaya, hingga kidungan di Joglo Mandala 1, Desa Lencoh.
Berjubelnya rangkaian kegiatan ini, pastinya membutuhkan anggaran tak sedikit. Untungnya, warga Desa Lencoh sudah mengantisipasinya dengan iruan . termasuk mendapat bantuan dari pihak ketiga, terutama untuk membeli kerbau.
“Warga desa kompak iuran. Supaya ritual sedekah gunung atau larung kepala kerbau pada malam 1 Suro bisa berjalan lancar,” kata Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan Desa Lencoh Bagiyo, kemarin (28/7).
Rangkaian kegiatan akan diawali pentas reog, sore ini pukul 15.00-18.00. Disusul upacara sesaji kepala kerbau, pukul 20.00. Selama rangkaian upacara, diisi kirab sesaji kepala kerbau. Kirab mengambil rute Dusun Temusari, Desa Lencoh menuju Joglo Mandala 1. Dilanjutkan pembukaan, tari gambyong, dan pembacaan doa-doa sesaji alias kidungan.
“Setelah menginjak tengah malam, kepala kerbau dan gunungan sedekah bumi dikirab menuju Pasar Bubrah di lereng Merapi. Sama seperti tahun kemarin. Cuma tahun ini ada kegiatan budayanya, berupa tari tradisional,” imbuh Bagiyo.
Sebelum melaksanakan tradisi larung kepala kerbau, pemerintah desa (pemdes) setempat sudah berkoordinasi dengan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM). Mengingat kondisi Merapi masih level III alias siaga. Apalagi pendakian ke puncak Merapi masih ditutup untuk umum.
“Khusus untuk acara larung kepala kerbau, hanya 10 orang saja yang diizinkan naik ke puncak Merapi. Itupun dengan pengawasan ketat pihak BTNGM,” urai Bagiyo.
Terkait waktu yang dibutuhkan untuk naik ke Pasar Bubrah, sekitar 1,5 jam. Ke-10 orang yang diperbolehkan naik ke puncak, akan membawa kepala kerbau dan gunungan raksasa. Lengkap dengan rasulan dan sesaji.
“Begitu sampai di Pasar Bubrah, kepala kerbau, gunungan, dan sesaji hanya ditaruh saja di sana. Karena ritual doa sudah dilakukan di bawah. Jadi lebih ringkas dan sederhana,” terang Ketua Adat Desa Lencoh Paiman Hadi Martono.
Normalnya, ada tujuh buah gunungan kecil plus sembilan buah tumpeng yang dibawa ke puncak. Sebagai simbol tujuh nabi dan sembilan wali. “Ini ungkapan rasa syukur kami kepada Tuhan YME, atas berkah bumi dan masyarakat guyub rukun. Selain itu, karena hidup di lereng Merapi, semoga kami dijauhkan dari bencana,” ujarnya.
Sementara itu, tradisi larung kepala kerbau dan sedekah gunung ini, rutin digelar warga Desa Lencoh tiap malam 1 Suro. Sebelum pandemi, Pemkab Boyolali sempat menggelontorkan aggaran untuk tradisi ini. Namun setelah pandemi, anggaran tersebut ditiadakan.
“Tahun ini dapat anggaran stimulan dari pembuat film dokumenter asal Italia, untuk membeli kerbau dari pasar hewan di Demak, Jawa Tengah. Besok (hari ini) disembelih. Kepala kerbau untuk kirab, dan dagingnya dimanfaatkan warga. Tradisi ini memang menjadi kearifan lokal tiap tahun,” papar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Boyolali Supana. (*/fer) Editor : Damianus Bram