A. CHRISTIAN, Solo, Radar Solo.
Eko Budi Prasetyo telah memodifikasi sebuah kursi roda, yang memudahkan pemuda 22 tahun ini untuk bermanuver. Pemuda tuna daksa ini pun semakin mudah untuk beraktivitas. Dia tak perlu lagi memutar roda kursi rodanya menggunakan tangannya. Dia cukup menggerakkan handel dari batangan besi kedepan dan kebelakang agar bisa bergerak.
Saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di Kantor Yayasan Forum Peduli Difabel Indonesia yang berada di kawasan Sondakan, Laweyan, Eko tengah mengotak-atik kursi roda modifikasinya. Kala itu, dia sedang memperbaiki sistem kelistrikan.
”Tadi arusnya agak terganggu, jadi baterai ke mesin tidak nyambung,” ungkapnya.
Seorang diri, Eko memperbaiki barang tersebut. Sekitar 30 menit diutak-atik, mesin akhirnya bisa penggerak dan sudah mampu beroperasi. Dia pun langsung menjajal kursi roda tersebut.
Eko menjelaskan kerja alat ini cukup mudah. “Jadi kalau mau maju, besinya ini didorong maju. Kalau mau mundur, ya besinya tinggal dimundurkan,” jelasnya.
Dihadapan koran ini, Eko mencoba memperlihatkan cara kerja kursi roda buatannya apabila melintas di jalan. Alat tersebut mampu melesat dan membuat Eko terlihat nyaman. Tanjakan dan turunan bukan menjadi kendala.
“Kalau buat ini otodidak. Cari-cari referensi di Google, dan di YouTube juga. Kemudian saya buat sama ayah saya. Jadi alat ini digabung menggunakan batangan besi. Konsepnya saya, ayah cuma bantu merakitnya saja. Terus untuk menggabungkannya kami ke tukang las,” paparnya.
Untuk menggerakkan mesin, Eko menjelaskan arus listrik berasal dari tiga unit aki dengan masing-masing daya 12 watt. Sehingga menghasilkan arus total 36 watt. Dengan arus tersebut alat ini bisa berfungsi selama kurang lebih tiga jam lamanya. “Nanti kalau baterai habis tinggal di isi ulang dayanya,” katanya.
Lalu, kenapa dia membuat alat tersebut? Eko mengatakan karena dia tak mau merepotkan orang terdekatnya. Meski memiliki keterbatasan, dia tak mau begitu saja berpangku tangan. “Fisik saya memang seperti ini, tapi bukan alasan untuk buat orang susah. Saya berupaya bagaimana bisa mandiri,” ungkapnya.
Dalam melakukan uji coba, lanjut Eko, bukan tanpa tantangan. Dia menegaskan tidak ada inovasi yang sekali buat bisa langsung jadi. Dia sendiri harus mengalami kegagalan sampai empat kali. “Terutama soal keseimbangannya. Saya otak-atik sendiri, akhirnya berhasil,” ungkapnya.
Apakah akan memperbanyak alat buatannya tersebut? Eko mengatakan belum ada wacana. Sebab untuk membuat ini butuh uji coba lagi. “Kemudian harus dipastikan cocok dengan kondisi individu lainnya tidak. Sebab sama-sama tunadaksa, tiap orang kondisinya bisa beda-beda. Salah-salah malah berbahaya resikonya nanti,” ungkapnya. (*/nik) Editor : Damianus Bram