Stasiun Telawa berada di jantung Juwangi, tepatnya di Desa Pilangrejo. Perjalanan menuju Stasiun Telawa cukup mudah. Namun, akses dari Boyolali Kota menuju Juwangi menempuh perjalanan hingga 2,5 jam.
Dari timur rutenya Bangak, Banyudono-Sambi-Simo-Klego-Karanggede-Wonosegoro dan sampai di Juwangi. Bisa juga lewat jalur tengah, melalui Kemusu dan tembus Juwangi. Sedangkan dari barat bisa melalui Sruwen, Kabupaten Semarang ke timur. Meski perjalanan cukup jauh, namun sepadan dengan bangunannya yang syarat sejarah.
Stasiun kereta api kelas III ini terletak pada ketinggian +63 meter di atas permukaan laut. Merupakan Daerah Operasi IV Semarang. Begitu tiba, mata akan dimanjakan dengan bangunan stasiun yang khas kolonial. Pintu masuk menuju peron cukup tinggi. Dinding bangunan juga tebal dan ditambah ornamen penghias. Menariknya, bangunan ini masih asli dan hanya mengalami renovasi minor.
Stasiun ini memiliki tiga jalur kereta api. Telawa menjadi persinggahan jalur utara Semarang-Solo. Di sisi utara berbatasan dengan hutan jati. Bangunan stasiun dibuat dua tingkat. Ornamen kayu juga menghiasi bawah atap bangunan.
Pemerhati sejarah dan cagar budaya Warin Darsono, 34, mengungkapkan, stasiun ini dulunya dikenal sebagai Stasiun Juwangi. Dibangun dengan runtutan pembangunan stasiun-stasiun sebelumnya. Yakni dari Semarang menuju Vorstenlanden. Awalnya, diperuntukan bagi kereta uap untuk pengangkut hasil bumi. Seperti palawija, tebu, kayu jati hingga kapur bakar dari Telawa.
Sebab, Juwangi juga penghasil kayu jati. Bahan bakar terbaik bagi lokomotif-lokomotif uap masa itu. Tak jauh dari stasiun, terdapat sebuah bangunan Belanda atau dikenal dengan Loji Papak. Bangunan ini untuk rumah administratur perkebunan. Loji Papak semacam ini di Jawa Tengah cukup langka. Hanya ada di Gundih, Telawa, dan satunya di Salatiga.
”Stasiun ini dibangun dan difungsikan sekitar 1880-an. Dengan gaya bangunan Indis (penggabungan budaya belanda dan Indonesia,Red), dan dibangun pada masa kolonial Nederlandsche Indische Spoorweg (NIS). Seiring perkembangan zaman, stasiun ini dilewati kereta pengangkut penumpang,” terangnya pada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (19/8).
Keberadaan Stasiun Telawa cukup penting. Karena statusnya bukan sebuah halte saja, namun sudah menjadi stasiun. Salah satu moda transportssi yang utama pada masa kolonial. Terutama untuk transportasi jarak jauh.
”Boven pada fasad (Muka bangunan,red) Stasiun Telawa merupakan bagian yang cukup unik. Terdapat ornamen kayu yang dipergunakan sebagai lubang sirkulasi udara. Serta beberapa struktur penguat kayu sebagai penguat sekaligus menjadi ornamen penghias arsitektur bangunan. Bentuk stasiun ini jika kita amati hampir mirip juga dengan Stasiun Bringin, Kabupaten Semarang,” katanya.
Kemudian di atap pada muka bangunan depan koridor terdapat pula ornamen penghias dari kayu yang disebut dengan Untu Walang. Saat ini, Stasiun Telawa masih difungsikan. Rata-rata perantau asal Juwangi dan sekitar akan menggunakan stasiun ini. Namun, saat pandemi operasionalnya sempat dihentikan. Kereta api hanya melintas dan tidak ada pemberhentian. Namun, keberadaan Stasiun Telawa menjadi bukti sejarah. Betapa ramai dan potensialnya Juwangi pada masa itu. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram