Lidah biru panana semakin eksotis karena berpadu dengan corak sisik berwarna abu-abu kehitaman. Polanya mirip ular.
"Semua genus tiliqua memiliki lidah berwarna biru. Tapi yang endemik Indonesia warnanya cenderung lebih gelap. Untuk sisiknya menyerupai ular. Berbeda dengan kadal dari genus yang sama dari Benua Australia. Biasanya (lidah) berwarna lebih terang seperti kemerahan dan lainnya," urai Tegar Awan Sabrang Cakrawala, pecinta kadal panana.
Karena bentuk fisiknya tersebut, sebagian masyarakat menganggap kadal yang dikenal dengan sebutan bengkarung lidah biru itu ditakuti warga lokal.
Dari literasi atau kisah-kisah yang diceritakan, ada warga meninggal akibat digigit kadal lidah biru. “Kalau punya saya ini locality-nya dari Tanimbar (Maluku). Ada juga dari Papua, Merauke, Irian Jaya, dan lainnya. Memang mayoritas dari Indonesia bagian timur. Saya pernah dengar, di sana disebut ular berkaki,” urainya.
Tapi bagi pecinta panana, kadal ini dinilai cepat akrab dengan manusia, mudah diajak berinteraksi, begitu pula dengan perawatannya. Untuk kandang bisa memakai boks kontainer atau akuarium. “Yang penting tersedia air minum dan jangan lupa pilih alas yang baik," pesannya.
Mengingat tiliqua gigas merupakan hewan omnivora, Tegar memilih udang yang bermanfaat memaksimalkan warna dan keindahan sisik. Jangan lupa beri selingan buah-buahan. Di antaranya pisang.
Para keeper panana harus mengetahui cara memberi pakan yang tepat agar si kadal selalu lahap. "Kalau saya, pagi direndam sambil di jemur selama 30 menit. Biar kadalnya buang air dulu. Baru dikasih makan. Variasi pakan bisa daging ayam potong atau daging ikan," beber owner Repiles itu.
Di alam liar, kadal panana bisa hidup dengan usia cukup panjang. Saat siap kawin, tanda bercak sperma akan muncul di feses. Setelah pembuahan, kadal panana butuh waktu selama tujuh bulan untuk melahirkan anaknya.
"Jenis ini ovovivipar. Anakannya akan keluar dalam bentuk kadal. Kalau dalam bentuk telur, bisa dipastikan proses pembuahannya gagal,” terangnya.
Setiap melahirkan, tiliqua gigas bisa mengeluarkan delapan ekor anak. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan reptil lainnya yang bisa menghasilkan puluhan hingga ratusan telur.
Karena itulah, si lidah biru sempat menjadi hewan yang dilarang pemerintah untuk dipelihara. Namun status konservasinya diubah pada 2016, sehingga panana bebas dipelihara, diperjualbelikan, dan dibudidayakan.
Harga satu ekor anakan panana sekitar Rp 200 ribu. Untuk kelas kontes bisa mencapari Rp 2 juta – Rp 3 juta per ekor. Yang paling mahal jenis albino. Tembus Rp 35 juta per ekor untuk ukuran remaja. Dibawahnya ada melanistic (hitam pekat) Rp 25 juta per ekor untuk usia remaja. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram