Sejak kapan tertarik dunia seni?
Dari kanak-kanak. Semakin serius saat masuk ke sekolah seni, di STSI Surakarta pada 1988.
Apa ada keturunan darah seni?
Secara kuat tidak ada. Orang tua juga bukan keturunan seniman. Tapi sejak lahir, tinggal dan tumbuh di lingkungan yang senang kesenian. Di Dusun Kotakan, Desa Bakalan, Kecamatan Polokarto sampai sekarang terkenal dengan kampung seni. Banyak seniman, banyak sanggar-sanggar.
Seni apa saja yang berkembang?
Sejak dulu karawitan. Semakin lama, banyak warga luar kota yang datang ke Dusun Kotakan.
Basic seni yang didalami?
Gamelan, pedalangan bisa sedikit, karawitan, puisi, musik kontemporer, ketoprak, dan geguritan. Yang paling kuat di gamelan.
Karya yang dihasilkan?
Cukup banyak. Ada Sukoharjo Kuto Gamelan, The Amazing Gamelan yang merupakan karya kolaborasi tari dan gamelan serta geguritan.
Pernah pentas di luar negeri? Menampilkan seni apa?
Sejak 2004 sering pentas di luar negeri. Salah satu karya saya adalah opera Dewi Sri. Ada musik gamelannya, tari, semua ada. Termasuk membawakan kidung Dewi Sri, Wayang Padi, lalu Kebo Kinul. Pada 2005, saya keliling Eropa. Mulai Jerman, Belanda, Prancis, dan Swiss bersama rombongan 11 orang.
Penampilan teranyar di tingkat internasional?
Januari lalu dalam rangka Hari Perdamaian Dunia. Berlanjut workshop gamelan dan tembang Jawa di kedutaan besar dan kampus di Amerika.
Pengalaman paling berkesan?
Saat di Ekuador, situasi masih Covid-19 dan sedang tinggi di sana. Menu makanan kurang cocok. Nggak ada nasi. Hampir semua makanan hambar, nggak ada rasanya. Sering hujan, nggak deras sih. Jarang terlihat sinar matahari. (kwl/wa) Editor : Damianus Bram