ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo
Tak seperti biasanya aula Masjid Raya Klaten begitu ramai kemarin pagi. Tampak panggung, meja dan kursi tertata rapi. Terdapat berbagai hiasan di setiap sudut ruangan yang didominasi warna hijau layaknya di acara resepsi pernikahan.
Aula itu ternyata digunakan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Klaten untuk menggelar acara pernikahan massal. Terutama bagi warga yang sudah berumah tangga tetapi belum melakukan ikatan secara syari maupun regulasi. Total ada 12 pasang pengantin yang ikut serta dalam acara tersebut.
Belasan pasang itu sudah menyiapkan diri sejak pagi untuk menjalani proses rias di Gedung Sunan Pandanaran RSPD Klaten. Termasuk mengenakan pakaian pengantin adat Jawa Solo. Mereka lantas diarak ke aula Masjid Raya Klaten untuk melakukan ijab kabul dengan menaiki becak hias menempuh sekitar 200 meter.
Acara yang bertajuk Baznas Mantu dibuka oleh MC dengan menggunakan bahas Jawa. Diawali dengan pasrah temanten kemudian dilanjutkan ke tempat ijab kabul yang disediakan untuk masing-masing calon. Di antara mereka ada Ranto Wardoyo, 84, dan Wartini, 57, sebagai pasangan pengantin tertua yang menikah.
Sebelum mengucap ijab kabul tampak Ranto belajar membaca kalimat pada kertas yang tertempel pada meja. Bersyukur saat pelaksanaan ijab kabul, Ranto begitu lancar dalam sekali mengucapkan tanpa mengulanginya. Ranto dan Wartini pun sah menjadi pasangan suami-istri meski sebenarnya tujuh tahun hidup serumah.
“Tentunya senang (akhirnya menikah). Tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata,” ucap Ranto yang sehari-harinya sebagai petani sekaligus mencari rerumputan untuk pakan ternak ini, Senin (12/9).
Jauh sebelum Ranto menjalani pernikahan secara sah dengan Wartini, dia sudah menjalani pernikahan hingga tiga kali. Termasuk dengan Wartini sebenarnya juga menjalani pernikahan siri. Hingga akhirnya mereka berdua sempat berpisah selama 25 tahun dan berumah tangga dengan pasangannya masing-masing.
Kini dengan difasilitasi Baznas Klaten, Ranto memilih menikah dengan Wartini secara sah diakui negara. Dia tidak mempersoalkan cantik atau tidaknya sang istri untuk memutuskan berumah tangga. Tetapi Ranto membutuhkan teman dalam kehidupan sehari-harinya.
“Dulu saya kenal Mbah Putri (Wartini) karena ke rumahnya. Saya bilang ke saudara kakaknya kalau dia saya ambil sebagai istri. Hingga akhirnya disetujui,” ucap Ranto yang sudah dikarunia seorang anak dengan Wartini.
Ranto hanya mengharapkan pernikahan dengan Wartini terus langgeng. Hidup bersama dengan rukun menghabiskan masa tuanya. Apalagi keduanya sudah saling mengenal karakter karena menjadi kedua kalinya berumah tangga.
Ranto menceritakan, jika sang istri dinilainya begitu perhatian dengan membuatkan teh setiap pagi. Bahkan tak segan sang istri juga selalu menemani saat mencangkul di sawah.
“Alhamdulillah hidupnya selalu gayeng. Jadi tidak hanya hari ini saja. Tetapi setiap harinya juga gayeng,” ucap kakek yang memiliki 14 anak, 35 cucu dan 15 cicit dari pernikahannya ini.
Dalam pernikahan itu, Ranto memberikan mahar kepada Wartini berupa seperangkat alat salat senilai Rp 300 ribu. Begitu juga uang tunai senilai Rp 500 ribu. Seluruh mahar yang diberikan itu difasilitasi oleh Baznas Klaten. Ranto memang tidak mengeluarkan uang seperse pun karena seluruhnya gratis.
Sementara itu, Wartini hanya melempar senyum berulang kali ketika ditanyai kesannya atas pernikahannya dengan suaminya. Meski begitu, kini mereka memutuskan untuk meneruskan berumah tangga dengan menetap di Desa Sedayu, Kecamatan Tulung. (*/bun) Editor : Damianus Bram