Jatuh hati dengan pug semakin dirasakan Angelia Niken ketika peliharaannya bertambah banyak. Diawali sang suami yang diminta merawat satu ekor pug berkelamin jantan milik rekannya untuk ditinggal balik kampung ke Pulau Kalimantan.
Kebetulan, di rumah, Angelia memiliki satu ekor pug berkelamin betina. Akhirnya coba dikawinkan dan sukses beranak pinak. "Sudah tertarik (pug) sebelum tahu jenisnya. Sifatnya ramah dan tidak mau jauh dari pemiliknya,” katanya, kemarin (17/9).
Angelia dan suami kemudian membuat kandang untuk memudahkan perawatan si pug. Tak disangka, peminatnya banyak dan harganya relatif mahal. Satu ekor pug usia dua bulan lengkap sertifikat dibanderol Rp 6 juta-an.
“Lumayan menguntungkan buat bisnis. Grup besarnya ada Pug Indonesian Club (Jakarta). Di Kota Solo ada beberapa yang mulai ternak. Rencananya, saya mau impor anjing dari Thailand buat jadi pejantannya," beber ibu muda tersebut.
Warga Desa Ngawen RT 01 RW 04, Purbayan, Baki, Sukoharjo ini tak pelit berbagi ilmu merawat pug. Di antaranya pemilihan kandang. Angelia menyarankan, pug rajin dilepas untuk berlarian di halaman rumah.
"Anjing ini sifatnya sangat ramah dengan orang, dan memang nggak bisa jauh dari pemilik. Jadi kalau pas nggak tidur, ya di lepas di area rumah saja," jelasnya.
Berikutnya perhatikan pola makan, mengingat pug mudah gemuk. Pilih dog food yang rendah protein. "Ada perbedaan pandangan di kalangan pecinta pug. Seperti antidaging ayam. Tapi kalau saya tetap saya kasih sedikit," terangnya.
Tidak kalah pentingnya menjaga kebersihan kandang dan badan pug. Mandi basah bisa dilakukan dua pekan sekali. Yang harus rutin dilakukan adalah menyeka lipatan kulit di wajah. Karena moncongnya pendek, membuat sisa makanan sering nyelip ke lipatan kulit di situ.
Jangan lupa rutin cek mata, karena biasanya sering terjadi luka karena ukuran kelopak mata yang cukup besar. Dari semua saran itu, yang paling penting dipahami bagi pemula adalah keterbatasan fisik pug.
Pug tak betah diajak beraktivitas dalam durasi panjang. Jika sudah ngos-ngosan, sebaiknya kegiatan fisik dihentikan. Ketika dipaksakan, alias overtraining, bisa berbahaya.
"Staminanya ini pendek, karena itu jangan diajak lari kelamaan. Kalau sampai kecapekan atau kehabisan napas, bisa mati tiba-tiba," ungkap Angelia. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram