Calathea Bulu Ayam punya keunikan yang tidak dimiliki tanaman hias lainnya. Tanaman ini mampu ber-niktinasti. Alias bisa bergerak rutin di waktu-waktu tertentu. Daunnya akan menguncup ketika memasuki sore menjelang malam hari. Lalu bakal mengembang lagi saat pagi sampai siang menjelang sore hari.
”Nah, karena daunnya bisa menguncup itu seakan-akan seperti orang berdoa yang menangkupkan tangannya. Itulah kenapa tanaman ini sering disebut Prayer Plant. Tanaman yang berdoa,” ungkap pelestari tanaman hias asal Klaten Wahyu Sari Jantiningsih kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (22/9).
Sari, sapaan akrabnya menyebut, selain keunikan itu, Calathea Bulu Ayam juga punya ciri khas pada daunnya yang sangat cantik. Warnanya bervariasi, ada hijau, merah, atau putih. Corak di dalam daunnya pun khas. Ada yang bentuknya garis atau batik berwarna hijau pekat.
”Tanaman ini berasal dari hutan Brazil. Suhunya hangat tapi tetap lembab. Nah, itulah yang membuat tanaman ini sangat suka air. Wajib disiram setiap hari sekali saja. Meskipun dia bisa kena sinar matahari, tapi tidak bisa langsung. Jadi, lebih baik letakkan tanaman ini di indoor seperti di sisi jendela kaca. Atau di outdoor, tapi di bawah pohon yang rindang,” bebernya.
Bagaimana jika tanaman ini terkena sinar matahari langsung? Daunnya bakal mengering, ujung daunnya memutih, akhirnya rusak, dan mati. Sari membocorkan treatment khusus selama merawat Calathea Bulu Ayam. Dari beberapa penelitian dan jurnal, dijelaskan bahwa tanaman ini harus diletakkan di tingkat cahaya yang cukup. Tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi.
”Kalau tingkat cahayanya rendah, malah membuat corak daun warnanya pucat dan pudar. Tapi kalau terlalu tinggi bisa berefek buruk. Muncul bercak putih di daunnya. Nah, solusinya, pasang paranet. Kalau musim hujan, tidak terlalu basah kena hujan. Kalau musim panas, tidak kepanasan juga,” sambungnya.
Sari juga mengingatkan untuk selalu memperhatikan daunnya. Jika nampak mengering, seringlah potong batangnya. Sebab, sering memotong daun bisa merangsang pertumbuhan tunas di batangnya. Sekaligus memberikan nutrisi lebih terhadap pertumbuhan tanaman itu. Karena daun-daun yang layu ketika tidak dipotong akan menghambat pertumbuhan tanaman.
”Pastikan kondisi tempat di mana tanaman itu diletakkan hangat tapi tetap lembab. Sirkulasi udaranya juga harus bagus. Agar tidak mudah layu, sakit, dan mati,” imbuhnya.
Tanaman ini dibanderol dengan harga terjangkau antara Rp 20 ribu sampai Rp 40 ribu per pot. Namun Sari menyebut masih tergolong tanaman hias yang langka di Solo dan sekitarnya. Tanaman ini jarang bisa ditemui di beberapa toko tanaman hias.
”Mungkin plant lover mengira perawatannya susah. Padahal tanaman ini sangat mudah dirawat. Tidak rentan terserang hama juga. Cukup siram sehari sekali saja. Pemupukan dengan pupuk kandang atau humus juga cukup sebulan sekali. Yang rutin dilakukan adalah jangan lupa mengecek kadar air di dalam tanah,” tandasnya. (aya/adi) Editor : Damianus Bram