Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Mengenal Ali Marsudi, Pemain Senior Wayang Orang RRI Surakarta

Damianus Bram • Senin, 26 September 2022 | 15:00 WIB
JIWA SENI: Ali Marsudi saat siaran tentang budaya di Studi RRI Surakarta. Foto kanan, saat pentas sebagai Arjuna. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)
JIWA SENI: Ali Marsudi saat siaran tentang budaya di Studi RRI Surakarta. Foto kanan, saat pentas sebagai Arjuna. (SILVESTER KURNIAWAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Dua puluh tahun lebih Ali Marsudi, 55, mendedikasikan diri menjadi pelestari wayang orang sejak diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) pada 2000 silam. Dia memang direkrut khusus untuk melestarikan wayang orang dan ketoprak agar tetap eksis. Namun, kini dia menghadapi tantangan baru.

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

Lahir di Blora, 5 April 1967, Ali Marsudi tumbuh menjadi sosok yang cinta akan kesenian tradisional. Kecintaan itu diseriusi dengan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

"Saya lulus dari STSI (sebelum berubah menjadi ISI) 1997. Setelah itu masih ikut pentas bareng beberapa grup kesenian. Kemudian pada 2000 saya daftar CPNS untuk pegawai kesenian. Akhirnya diterima dan ditempatkan di Radio Republik Indonesia (RRI) Solo bareng 14-15 orang waktu itu," kata dia kepada Jawa Pos Radar Solo.

Sepanjang karirnya menjadi pemain wayang orang RRI, Ali dan kawan-kawannya sempat membentuk sejumlah program selain rutinitasnya pentas sebulan sekali. Seperti yang sudah dijadwalkan secara rutin sejak 1960 itu. Untuk wayang orang digelar tiap Selasa pekan kedua setiap bulannya, sementara pentas ketoprak digelar pada Selasa pekan keempat.

"Posisi saat ini saya seksi siaran kesenian wayang orang RRI sekaligus koordinator untuk tim keseniannya. Meski koordinator tetap ikut pentas karena sekarang SDM nya terbatas," beber dia.

Sepanjang berkarir di RRI dia dan kawan-kawannya sukses membuat program yang mampu mempertemukan grup-grup wayang orang dari seluruh Indonesia pada 2011 dan 2014 silam, sebelum akhirnya tak berlanjut sampai saat ini. Meski demikian, apresiasi patut diberikan mengingat program unggulan lainnya seperti Jajah Deso Milang Kori masih eksis sampai hari ini.

"Pada 2011 dan 2014 kami sukses menyelenggarakan Wayang Orang Seribu Bintang (Wasbi). Bahkan 2011 itu sempat pecah rekor MURI. Tapi setelah itu macet. Kalau Jajah Deso Milang Kori masih rutin tiga kali dalam setahun sejak dimulai 2013 lalu," papar Ali.

Menimbang usia yang tak lagi muda untuk terus bisa berkarya, dia ingin pemerintah bisa kembali membuka rekrutmen pelaku seni untuk meneruskan apa yang sudah dilakukan generasinya. Ini penting dilakukan mengingat para pelaku kesenian di RRI telah banyak yang purnatugas dan belum tergantikan oleh pelaku seni baru hingga saat ini.

"Secara umum saya melihat penyelenggaaraan seni tradisi ini mulai bergeliat lagi. Namun yang kami rasakan sendiri di RRI ini SDM-nya makin menyusut karena banyak yang pensiun dan belum tergantikan,” ujar dia.

Harapannya pemerintah mendukung dengan menarik PNS khusus mengurusi kesenian seperti era dia. Sebab, wayang orang dan ketoprak ini merupkan seni tradisi lokal yang harus dilestarikan.

“Wayang orang itu bagus dan layak untuk lestari. Meski banyak tantangan dalam regenerasi," tutup aktor yang sering membawakan karakter Arjuna itu. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#Pemain Wayang Orang #Ali Marsudi #wayang orang #Wayang Orang RRI Surakarta