SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo
Sebelum menjadi pengusaha wahana permainan yang sukses, Muntohar sempat menjalani hidup yang tidak mudah. Politikus Partai Gerindra kelahiran Demak, 6 Agustus 1975 ini sempat putus sekolah dan jualan teh botol pada masa mudanya. Ia pun sempat menjadi pedagang bakso keliling dengan omzet cukup untuk makan harian sebelum akhirnya moncer sebagai pengusaha wahana permainan sampai hari ini.
“Saya pernah jualan teh botol di Keben, Jogjakarta (Kamandungan Lor/Plataran Keben, kompleks Keraton Kasultanan Jogjakarta, Red). Saya juga pernah dagang bakso keliling sebelum akhirnya mulai masuk ke bisnis permainan ini,” kata dia.
Mulai 2003 titik kebangkitan dalam kehidupannya. Berawal dari melihat usaha kereta mini milik orang, Muntohar mulai mendalami bisnis permainan itu. Hasil dagang bakso pun ditabung untuk membeli sejumlah wahana mulai dari kereta mini, ombak banyu, dan komedi putar. Dia bersama 20 karyawannya mulai bersafari keliling desa-desa di wilayah Demak dan sekitarnya sebelum akhirnya nama Diana Ria Enterprise makin dikenal masyarakat.
“Dalam suatu event saya lihat usaha kereta mini milik orang. Saya lihat tiketnya itu seribu rupiah, penumpang 15-40 orang, durasi 30 menit. Saya tertarik, akhirnya saya bikin kereta mini dan mulai gabung ke pengusaha mainan. Teryata berhasil dan terus berkembang sampai hari ini. Sekarang saya punya enam set wahana permainan dengan karyawan lebih kurang 300-an orang,” jelas dia.
Pejalanan bisnis wahana tak selalu mulus, kendala pun kadang ditemukan seperti kerugian sampai Rp 400 juta pada pandemi lalu. Meski demikian, Muntohar selalu komitmen dengan apa yang dilakukan. Kerugian itu tidak dia bebankan kepada tenant maupun karyawan sehingga kepercayaan bisnis selalu bisa dijaga dengan apik. Buktinya, Pasar Malam Sekaten di Solo yang dihelat dari pertengahan September sampai pertengahan Oktober ini diminati banyak peserta sekalipun biaya sewa jauh dari tahun sebelumnya.
“Kalau mau untuk besar modalnya juga harus besar. Saya sewa alun-alun ini mulai dari Rp 20-25 jutaan (beberapa tahun lalu, Red) sampai ratusan juta (tahun ini, Red) itu tetap banyak peminatnya,” ujarnya.
Dia belajar manajemen ini dari event-event yang pernah dia ikuti. Prinsipnya tempat bagus itu pasti biayanya juga besar. Peminatnya banyak karena event-nya memang menguntungkan.
“Perputaran uang di sini bisa ratusan juta, mungkin bisa sampai Rp 1 miliar dalam sehari kalau pas puncak acara,” kata dia.
Salah satu keyakinan dia sukses dalam Pasar Malam Sekaten tahun ini adalah keberaniannya untuk menggunakan dua alun-alun sekaligus. Wahana permainan, perdagangan, dan kuliner di alun-alun utara, sementara konser musik, wahana permainan, perdagangan, dan kuliner di alun-alun selatan. Konsep memecah keramaian ini sebagai antisipasi Covid-19 sekaligus tenant-tenant agar sama-sama bisa meraup untung maksimal. Sebanding dengan besarnya biaya sewa yang dikeluarkan. Dengan begitu perputaran ekonomi yang sempat mampet saat pandemi bisa kembali bergeliat.
“Idenya memang untuk memaksimalkan potensi. Sekaten yang lekat dengan tradisi ini harus bisa dikemas dengan lebih baik agar bisa mendatangkan keuntungan yang lebih besar kepada masyarakat, makanya saya masukkan juga konser musik di dalamnya,” ujarnya.
Dengan begitu, perdagangan dan bisnis hiburan sama-sama jalan, kuliner juga ramai pengunjung. Belum lagi parkir dari warga sekitar. “Jadi sesuai dengan namanya, pasar rakyat ya untungnya juga bisa dirasakan masyarakat,” tutup Muntohar. (*/bun) Editor : Damianus Bram