ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo
Kerajinan batik kayu yang berkembang di Desa Jarum, Kecamatan Bayat sempat terdampak pada pandemi lalu. Apalagi ketika itu diterapkaan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat.
Kondisi itu menjadi pukulan berat bagi Sularto sebagai perajin batik kayu. Bahkan sempat berhenti produksi. Padahal dia memiliki puluhan tenaga produksi yang merupakan ibu-ibu desa setempat.
Saat berpikir keras mencari solusi itu, Sularto memiliki ide menarik ketika melihat turun hujan di sekitar rumahnya. Muncul inspirasi untuk membuat payung batik.
Awalnya, dia meminta sang istri untuk langsung membatik payung tanpa membuat pola terlebih dahulu. Termasuk mencanting dengan menggunakan cat yang sudah dioplos sebelumnya. Bahkan dia sempat bereksperimen sebanyak enam kali hingga akhirnya cat yang digunakan tidak luntur.
“Kemudian saya unggah ke media sosial. Saat itu langsung ada buyer dari India yang tertarik untuk memesan. Itu menjadi awal mula payung batik berkembang,” ujar pria yang akrab disapa Jeprik saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di rumahnya belum lama ini.
Sejak pembelian pertama dari India itu, Jeprik langsung kebanjiran pemesanan dari dalam hingga luar negeri. Bahkan secara rutin mulai mengirimkan produknya ke Hongkong, Australia hingga Amerika. Terutama payung batik yang bermotifkan budaya Jawa seperti tantrum dan kawung.
Berbeda halnya pasar di dalam negeri justru lebih menyukai payung batik dengan warna-warna mencolok. Bahkan motifnya lebih kearah kontemporer berupa flora maupun fauna. Saat ini yang sedang digandrungi di Indonesia yakni payung batik tiga negeri yang menampilkan minimal tiga warna cerah.
Jeprik sendiri juga mengerjakan payung batik didasarkan pada motif yang diminta dari sang pemesan. Misalnya, berkaitan dengan budaya dari negeri tujuan pengiriman kerajinan tersebut. Termasuk siap mencanting sesuai gambar yang dikirimkan.
“Dalam sebulan bisa memproduksi sampai 1.000 payung batik. Tapi kami sebenarnya yang mengikuti pemesanan. Dalam pengerjannya dibantu 45 tenaga kerja,” ucap Jeprik yang juga tetap menjalankan usaha batik kayunya ini.
Jeprik mengungkapkan, jika produk payung batik berbahan seperti payung pada umumnya. Hanya saja kali ini dengan beragam motif batik. Tetap memiliki fungsi agar terhindar dari teriknya panas matahari dan guyuran hujan. Selain itu, bisa digunakan sebagai suvenir pernikahan hingga hiasan dekorasi.
Dia pun memastikan, cat yang digunakan untuk mencanting pada payung batik bertahan hingga 4 tahun. Bahkan ketika payung sudah dalam keadaan rusak warnanya tidak akan mudah luntur. Hal itu sudah dibuktikan pada payung batik yang dia buat pertama sampai saat ini warnanya masih bertahan.
Dalam waktu dekat, Jeprik hendak merambah pasar di Jepang. Saat ini proses pembuata sedang dikerjakan. Menariknya, payung batik yang diproduksinya transparan sesuai permintaan buyer.
“Hadirnya payung batik ini bagian dari inovasi dari sebelumnya di media kayu. Apalagi ini justru mampu menggeliatkan kembali perekonomi dengan keterlibatan ibu-ibu di desa kami,” ujar dia. (*/bun) Editor : Damianus Bram