Dokter hewan TSTJ Siti Nuraini mengatakan, unta punuk satu akrab disebut unta arab. Persebarannya dari Afrika Utara, Timur Tengah, anak benua Inda dan Australia.
Dahulu, satwa tersebut digunakan untuk mengangkut barang bawaan ketika melintasi gurun pasir. Unta dengan nama latin camelus dromedarius ini berbeda dengan dua spesies lainnya. Fisiknya lebih besar dan hanya memiliki satu punuk.
"Jenis lainnya ada unta punuk dua, yaitu camelus bactrianus atau dikenal unta baktria, dan camelus ferus atau untra baktria liar," jelas Nur, sapaan akrab Siti Nuraini.
Di TSTJ, kandang unta punuk satu memiliki area cukup luas. Dilengkapi gundukan pasir yang berfungsi membersihkan badan dengan cara bergulung. Pengelola TSTJ hanya memandikan unta dengan air ketika bulunya terkena kotoran.
Unta dikenal memiliki daya tahan tinggi hidup di wilayah kering dan beriklim gurun. Itu karena kandungan air yang tinggi di bawah lapisan kulitnya. Maka jangan heran ketika unta bisa menghabiskan 100 liter air dalam sekali minum.
"Tapi karena sudah hidup di konservasi. tentu perilakunya ada yang berubah. Kami selalu sediakan drum penuh air,” ungkapnya.
Kenapa banyak pengunjung TSTJ suka berinteraksi Unta? Nur mengatakan, hewan ini cenderung ramah dengan manusia. Unta lebih tenang ketika diberi makan dan diajak berfoto. Bahkan aktivitas menunggang unta banyak diminati wisatawan.
“Yang perlu waspadai adalah ketika jantan masuk musim kawin karena cenderung lebih agresif. Soal usia, maksimal 25-30 tahun. Tapi di penangkaran bisa lebih panjang karena keamanan dan pakan terjamin," pungkas Nur. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram