Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Thrift Shop, Ibarat Beli Kucing dalam Karung

Damianus Bram • Minggu, 2 Oktober 2022 | 19:00 WIB
RAMAH KANTONG: Pengunjung tampak memilih baju di toko Second Original Boyolali. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
RAMAH KANTONG: Pengunjung tampak memilih baju di toko Second Original Boyolali. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
BOYOLALI - Barang bekas bisa bernilai jual tinggi, terutama pakaian, celana, jaket dan lainnya. Saat ini thrift shop tengah menjamur, dan jadi jujukan fashion beberapa anak muda. Pakaian bekas dari luar negeri tersebut, ternyata harga jualnya dirasa cukup ramah di kantong penikmatnya.

Eksistensi jadi hal penting dalam kehidupan. Tingginya nilai konsumtif anak-anak muda dalam berbusana juga membuat bisnis thrift semakin menjamur. Tak salah jika bisnis thrift shop semakin banyak muncul di beberapa kota dan di beberapa titik. Tingginya animo pengusaha muda menjual barang bekas, salah satunya juga lantaran aksi thrifting mulai jadi seperti gaya hidup baru yang dilakukan oleh beberapa orang.

Melakukan thrifting bisa dengan mengunjungi pasar loak, atau membeli ke thrift shop. Baik offline maupun online. Barang yang dijual jelas sebagian besar tidak dalam kondisi 100 persen, karena merupakan produk bekas pakai. Walau begitu semua barang yang dijual jelas masih layak pakai.

Salah satu sosok yang tengah menekuni bisnis ini adalah Taufik Idayah, 35. Dalam sebulan, dia bisa meraup untung hingga Rp 90 juta hingga Rp 120 juta.

Saat ditemui di tokonya, Second Original Boyolali di selatan lampu merah Siswodipuran, Boyolali Kota, pria berkacamata ini tengah mengenakan rompi kotak-kotak. Dengan secangkir kopi di tangannya, Taufik duduk di kursi lipat outdoor biru.

Beberapa kali, dia memperlihatkan berbagai jenis dan merek jaket musim dingin. Dia juga menunjukan gudang penyimpanan yang penuh dengan sandang bekas pakai.

Ada yang sudah di-laundry, ada pula yang masih kusut bekas dari pasar. Berbagai jenis sandang, dari mulai kaos oblong, sweater, jaket, celana, topi dan tas ada di tokonya. Mulai dari merek casual, seperti Supreme, Dickies dan lainnya. Juga pakaian dan jaket outdoor seperti The North Face, Millet, Columbia dan lainnya.

"Awal mula pada 2011 merantau di Tangerang. Awalnya cuma penikmat, saya kan kerja di klinik yang pakaiannya formal. Lalu suka beli flanel second, sebulan bisa lima pics," jelasnya pada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (29/9).

Lalu, pada 2012, porsi kerjanya turun. Pendapatannya juga menurun. Dia akhirnya memanfaatkan waktu luang untuk bergerilya. Kulakan barang thrift shop di Bandung dan Jakarta. Paling sering berbelanja di Pasar Senen, Jakarta. Dia berangkat pukul 5.30 dan tiba pukul 10.00. Dia langsung mencari baju dan jaket outdoor hingga pukul 13.00. Tanpa pulang, dia langsung menuju tempat kerjanya.

"Karena pulang pergi (PP) kereta itu memakan waktu dua jam. Makanya langsung ke klinik. Tetap hunting barang, karena thrift itu hobi. Dan kini akhirnya malah menjadi mata pencaharian pokok. Malah perbandingan dengan gaji 1:4," jelas pria yang kini bekerja di salah satu RSUD Boyolali.

Pada 2013, dia pindah ke Batam. Di sana dia bisa mendapat banyak barang bagus. Dengan kualitas baik. Bahkan, dalam sebulan kala itu dia sudah bisa mengantongi Rp 17 juta. Namun, belum genap satu tahun, dia diminta pulang ke Boyolali. Dia putuskan bekerja sebagai tenaga medis.

Merasa jenuh, sejak 2016 dia mendirikan toko offline. Awalnya di belakang SMK Ganesha, kemudian pindah di depan Puskesmas Boyolali 1. Dan terakhir di selatan lampu merah Siswodipuran. Toko miliknya bernama Second Original Boyolali.

Awalnya, dia hanya hanya fokus menjual pakaian outdoor, lalu meluas ke pakaian casual. Berlanjut melengkapi barangnya dengan koleksi topi, tas dan lainnya. Selain toko offline, dia memasarkan secara daring. Dia memiliki lima karyawan yang membantu. Mereka mengelola beberapa toko online.  Barang yang dijual mulai dari kaos Rp 100 ribu dapat tiga, hingga paling mahal jaket brand seharga Rp 2,5 juta.

"Sekarang semua tak jual, tapi fokus di outdoor. Karena basic saya orang outdoor. Apalagi di sini brand internasional. Kalau saya pegang akun Kaum Urbanis (@kaum_urbanis.2nd di akun Instagram), lalu yang lain juga pegang @preloved_psbb, @TTC_Boy, Top Adventure juga dikelola anak-anak. Saya yang penting kebutuhan mereka terpenuhi. Mereka kelola jujur, saya sediakan barangnya," ungkapnya.

Tiap akun tersebut, memiliki pangsa pasar sendiri. Apalagi barang yang disediakan sudah disortir. Dia biasa membeli ketika ada toko lain yang berjualan live streaming, ataupun memesan dari penjual dalam bentuk bal karung seberat 100 kilogram. Satu bal bisa berisi 180-220 jaket dengan harga Rp 5 juta. Dia harus memilih 30-40 pcs dengan harga beli setengah harga satu bal. Sekali belanja, dia bisa menghabiskan Rp 2,7 juta yang berisi bisa 30-40 pcs.

"Itu saya memilih sendiri. Itu ibaratnya seperti beli kucing dalam karung. Jadi kalau misal gak ada 30 pcs yang bagus, mau gak mau tetap ambil. Karena modal kurang dari Rp 300 ribu bisa terjual Rp 1,7 juta," terangnya.

Saat ini, dalam sehari dia bisa menjual 15-25 pcs. Dengan harga ratusan hingga jutaan rupiah. Sedangkan dalam sebulan, dia menjual hingga 600 barang.

Untuk jaga kualitas, sebelum barang dijual, selalu di-laundry terlebih dahulu untuk jaga kualitasnya.

"Untuk omzetnya, dalam sebulan bisa dapat Rp 90 juta-Rp 120 juta. Kalau penjualannya sekarang, antara toko online dan offline seimbang, sama-sama menghasilkan. Bahkan perbandingannya juga 50:50," pungkasnya. (rgl/nik) Editor : Damianus Bram
#Thrift Shop #Bisnis Pakaian Bekas Impor #Pakaian bekas #jual pakaian bekas import