Golden Lotus Banana punya jantung yang bentuknya mirip teratai berwarna emas. Berbeda dengan pohon pisang pada umumnya, yang jantungnya menghadap ke bawah dan berwarna merah. Nah, di Golden Lotus Banana ini, jantungnya menyerupai bunga teratai. Tegak ke atas berwarna kuning keemasan.
”Tapi sayangnya, tanaman punya saya sudah dua tahun tidak tumbuh bunganya. Jadi saya tidak bisa kasih lihat Golden Lotus Banana yang ada teratainya. Memang butuh treatment khusus untuk bisa merangsang pertumbuhan bunganya,” ungkap plant lover asal Klaten Ruli Hermawan kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (7/10).
Selama dua tahun ini, Ruli mengamati tanaman Golden Lotus Banana koleksinya perlu ditanam di tanah lebih dulu agar bisa berbunga. Sebab selama ini dia hanya menanam di pot. Meskipun pot yang digunakan semakin besar menyesuaikan ukuran tanaman. Tapi ternyata tidak cukup membuat tanaman ini berbunga.
”Jujur, kalau saya kendalanya kesibukan sehari-hari. Jadi belum bisa fokus merawatnya sampai berbunga. Karena ketika kita menanam di pot, konsekuensinya harus memberikan unsur mikro dan makro yang dibutuhkan tanaman. Sehingga tanaman tetap bisa tumbuh optimal. Berbeda kalau ditanam di tanah, tanaman bisa mencari kedua unsur itu sendiri,” sambungnya.
Lalu, apa yang harus dilakukan jika ingin tanaman ini berbunga di pot? Ruli menyebut perlu melakukan treatment khusus. Dengan menggunakan pupuk bunga. Tujuannya, men-trigger tanaman ini agar cepat berbunga. Atau bisa juga dirangsang dengan hormon giberelin. Caranya, dengan disiram atau disemprot agar si bunga bisa tumbuh.
”Pertanyaan lainnya, kalau ditanam di tanah, apakah bisa jadi pohon pisang ya besar? Tentu tidak. Namanya pisang kerdil, mau ditanam di tanah pun tidak bisa besar. Ini kan semacam bonsai. Tidak bisa setinggi pohon pisang pada umumnya. Nah, kelebihannya, pisang kerdil ini kondisi daunnya lebih lebar dan bagus. Karena dapat nutrisi lebih banyak,” terangnya.
Sayangnya, populasi tanaman ini di area Solo dan sekitarnya sangat jarang. Tidak banyak plant lover dan nursery yang memiliki tanaman ini. Rudi mengaku memang peminat tanaman ini tergolong kolektor. Alias hanya orang-orang pehobi tanaman unik dan langka saja yang punya si pisang kerdil.
”Pisang ini berasal dari dataran Yunan di Tiongkok. Nah, kebetulan dulu saya dapatnya juga beli dari teman, asalnya dari Batam. Kemungkinan dia dapat dari daerah asalnya di Tiongkok, karena dia masih keturunan Tionghoa. Jadi mungkin ada relasi dari dataran Tionghoa yang bawa tanaman ini ke Batam,” ujarnya.
Kendati datang dari jauh, tanaman ini diklaim tidak rewel. Malah cenderung bandel. Hanya cukup disiram setiap hari dan letakkan di tempat yang teduh. Ruli pernah membandingkan, meletakkan si pisang kerdil ini di lokasi yang panas. Hasilnya, daun cepat mengering dan mati. Berbeda di lokasi yang teduh, daunnya lebih indah. Asal rajin dipotong juga dahan yang sudah menua.
”Biaya perawatannya juga terjangkau. Gunakan media tanam standar, asal poros. Kebutuhan selain pemupukan, ada pestisida. Namanya jenis pisang kadang ada ulat di daunnya. Nah, sering dilakukan pengawasan di bagian daun. Karena ulat cukup senang makan daun pisang. Ada juga kutu putih. Jadi pestisida untuk menghilangkan kutu putih juga diperlukan,” imbuhnya.
Soal harga untuk ukuran sedang sekira Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. (aya/adi) Editor : Damianus Bram