Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kulit Ikan Pari Bernilai Jual Tinggi, Hadirkan Tas yang Jadi Langganan Ibu Negara

Damianus Bram • Minggu, 9 Oktober 2022 | 19:00 WIB
UNIK: Wawan Purnowo memperlihatkan tas dari kulit ikan pari buatannya. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
UNIK: Wawan Purnowo memperlihatkan tas dari kulit ikan pari buatannya. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Berbagai kerajinan bisa dibuat dari berbagai bahan, salah satunya ternyata bisa dari kulit ikan pari. Cukup menarik karena bisa diaplikasikan jadi berbagai bentuk kerajinan menarik, yang cukup artistik.

Pengalaman di tempat kerja, menjadi bekal berharga bagi perajin kulit ikan pari asal Dusun/Desa Sambon, Banyudono, Boyolali Wawan Purnowo, 46. Tempat tinggalnya, disulap menjadi ruang produksi, sekaligus toko yang memamerkan berbagai macam produk dari bahan kulit buatannya. Mulai dari tas, dompet, sabuk, tempat lipstik, dan lainnya. Customernya ternyata dari berbagai background. Mulai dari mantan Bupati Boyolali Sri Moeljanto, hingga Ibu Negara Iriana Joko Widodo.

"Pernah disamperin Bu Iriana pas Pak Jokowi  (Presiden Joko Widodo) masih jadi wali Kota Surakarta. Waktu itu sama teman-temannya, lalu datang lagi September 2017. Nah pas itu, mau cari souvenir nikahan Kahiyang, tapi kami gak bisa produksi. Dan dia beli lima sampai enam buah tas, dan dompet. Kami awalnya gak ngeh itu Bu Iriana, karena datang berdua saja sama sopirnya. Kami mikirnya, masak cuman datang sendiri. Lalu kami beranikan diri tanya, ternyata benar itu Bu Iriana. Alhamdulillah beliau borong beberapa produk," ujar Wawan Purnowo pada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (7/10).

Saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di kediamannya, Wawan memamerkan beberapa tas yang dibuat. Tak hanya dari kulit ikan pari ternyata, namun juga ada yang dari kulit ular juga. Jenis kulit ikan pari berbentuk seperti kombinasi batu-batu teksturnya. Tiap tas dan dompet, akan ditonjolkan batu permata berbentuk lonjong lancip.

Wawan memanfaatkan limbah potongan kulit ikan pari. Yang awalnya dibiarkan mangkrak tak tersentuh. "Limbah potongan kecil-kecil kan banyak. Jadi saya coba manfaatkan, dikreasikan dengan digabungkan potongan-potongannya. Lalu diberi warna. Sehingga menarik. Saat ini yang motif seperti itu justru banyak juga yang minat," terangnya.

Selama tiga bulan terakhir dia sudah menghabiskan 100-an lembar. Karena saat ini, dia masih memanfaatkan limbah-limbah potongan kulit.

Untuk proses pengerjaannya, ternyata harus hati-hati dan teliti. Terutama dalam proses penyamakan selama 8-10 hari. Setelah itu dilanjutkan dengan penjemuran. Pengerjaannya juga harus cepat agar ikan tak busuk.

"Jika langkah salah, dan ikan membusuk, maka batu-batu di kulit ikan bisa lepas. Dalam pengulitan ikan, dia juga mendatangkan pekerja dari Jogjakarta. Dan prosesnya dilakukan di rumah. Limbah daging dan tulang sebenarnya bisa dimanfaatkan. Tapi selama ini cuma kami timbun saja, biar gak bau," jelasnya.

Wawan juga mengkaryakan anak-anak magang dari ISI Surakarta. Mereka melukis tas kulit ikan pari dengan motif cantik bergambar flora, fauna, dan motif menarik lainnya. Pengecatan menggunakan cat mobil.

Soal harga jual cukup bervariatif, namun tentu harganya cukup tinggi. Hal ini wajar karena bahan dasarnya juga sudah cukup mahal.

Untuk tas harga mulai Rp 700 ribu-Rp 2,8 juta, lalu dompet seharga Rp 220 ribu-Rp 700 ribu, sabuk Rp 350 ribu-Rp 800 ribu, dan tempat lipstik seharga Rp 250 ribu. Penjualan kerajinan ini merambah pasar nasional dan internasional.

"Untuk bahannya saya ambil dari Jepara. Harganya berbeda-beda tergantung permata yang lonjong di punggung ikan pari. Untuk ikan pari betina dengan ukuran permata 8 inci seharga Rp 40 ribu, 9 inci Rp 55 ribu, dan 7 inci Rp 25 ribu. Karena kulitnya itu ada semacam batunya yang nilainya tinggi. Kalau ada yang lepas batunya, nilainya sudah berkurang," jelasnya.

Saat ini ternyata dia masih menggarap pesanan dari luar negeri untuk tempat lipstik. Ada sebanyak 50 buah. Saat ini, dia bisa mendapatkan untung Rp 20 juga hingga Rp 25 juta per bulan untuk penjualan puluhan barang. Namun, itu baru bisa menutup break event point (BEP), alias belum mendapatkan untung. Hal ini lantaran efek pandemic, mengingat sebelum pandemi dia bisa mendapatkan Rp 60 juta-Rp 70 juta.

Di lain sisi usaha yang dirintis ini sudah ditekuni sejak 2008. Namun tak selamanya berjalan mulus. Dia mengakui melakukan berbagai upaya untuk bisa bangkit dan melebar jangkauan penjualannya. Selama pandemi, dia hanya mengandalkan penjualan online. Bukan hanya dengan harga yang murah, namun juga sampai dengan membuat program beli 1, gratis 1. Tujuannya, untuk menyelamatkan empat karyawannya. Dan bisa produksi lagi. Pandemi ini, juga menjadi momentum untuk berinovasi.

"Pandemi benar-benar susah, produksi libur 3-4 bulan. Mulai bangkit lagi Maret 2021, tapi penjualannya tidak bisa mengangkat, karena hanya bisa untuk bertahan saja. Lalu setelah Lebaran tahun ini, mulai mengangkat lagi. Sekarang mainnya online. Selain itu sekarang mulai banyak tamu yang datang ke sini," ungkapnya. (rgl/nik) Editor : Damianus Bram
#Kulit Ikan Pari #perajin kulit ikan pari #Wawan Purnowo #Tas Kulit Ikan Pari