Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Resah Kualitas Udara Buruk, Lima Siswa SMA di Boyolali Ciptakan Filter Zat Perusak Ozon

Damianus Bram • Selasa, 11 Oktober 2022 | 15:00 WIB
INOVATIF: Lima siswa SMAN 3 Boyolali memperlihatkan alat yang diklaim bisa untuk memfilter zat perusak ozon. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
INOVATIF: Lima siswa SMAN 3 Boyolali memperlihatkan alat yang diklaim bisa untuk memfilter zat perusak ozon. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Keresahan kualitas udara yang buruk memotivasi lima siswa SMAN 3 Boyolali untuk mencari solusi. Mereka membuat alat filter udara yang mengandung chloro fluoro carbon (CFC). Atau zat yang merusak ozon. Alat filter yang dinamai Deterovement ini berguna untuk mengurangi pemanasan global.

RAGIL LISTIYO, Boyolali, Radar Solo

Bertempat di laboratorium kimia, lima cerobong dari peralon dipamerkan. Alat ini dikembangkan oleh Octavia Putri Dewi, Cintya Anggraini, dan Defita Rahayu. Semuanya kelas XII. Kemudian Firstyan Chandra Kurniawan dan Muhammad Yahya Ramadhan. Keduanya kelas XI. Mereka lantas merakitnya menjadi cerobong peralon sepanjang 120 sentimeter. Peralon-peralon tersebut juga terdapat kabel-kabel ketik yang dirangkai.

Hasil uji coba belasan kali ini membuahkan hasil memuaskan. Keresahan mereka muncul setelah banyak membaca hasil riset. Tentang semakin menurunnya kualitas udara. Terutama di kota-kota besar Indonesia. Mereka mulai membaca jurnal di internet melalui Google Scholar. Membaca penelitian yang membahas tentang pengendalian CFC. Karena selama ini, CFC hanya dilepas di udara tanpa filter.

Salah satu anggota tim, Yahya mengatakan, ide membuat alat filter ini muncul dari keresahan yang mereka rasakan. Mereka mulai mencari di internet dan membaca banyak jurnal ilmiah. Namun, hanya sedikit yang meneliti tentang cara mengatasi CFC. Mereka lantas mengembangkan untuk pembuatan alat filter. Menariknya, proses penyaringan udara ini hanya memakan waktu lima menit.

Yahya menjelaskan, zat ini biasa ditemukan pada AC, kulkas, pabrik dan lainnya. Saat CFC naik ke udara akan terkena UV dan pecah menjadi chlorin (CL). Saat itu CL akan merusak O3 atau ozon. Hal tersebut akan terus terjadi sampai CL bertemu metana. Zat metana memang counter dari CFC. Ketika kedua zat tersebut bertemu, akan luruh kembali ke tanah. Hal tersebut akan mengulang siklus CFC lagi.

Udara yang mengandung CFC merupakan zat pemecah ozon. Sehingga zat ini akan merusak lapisan ozon yang merupakan tameng di atmosfir. Otomatis membuat sinar matahari yang masuk ke bumi akan semakin banyak. Hal tersebut membuat suhu makin tinggi dan meningkatkan pemanasan global.

"Awalnya kami baca-baca artikel bagaimana cara mengatasi pemanasan global. Lalu kami cari literatur di internet, bagaimana cara mengatasi filter chlorin. Dan ternyata, jurnalnya di intenet masih jarang. Jadi kami benar-benar cari rumusan baru untuk membuat alat filter ini," terangnya saat ditemui di sekolah, Senin (10/10).

Internet, memberikan kemudahan bagi siswa-siswa tersebut. Mereka dapat menjelajah dan menemukan solusi. Pengembangan ide deterovement tak serta merta muncul. Mereka terbantu dengan adanya akses internet. Guna mengakses berita dan informasi. Maupun jurnal-jurnal ilmiah terkait filter zat perusak ozon ini.

Awalnya, mereka membacai berita-berita menurunnya kualitas udara. Seperti di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Rasa penasarannya membuat mereka berselancar secara maya untuk menemukan solusi. Yakni, mencari cara mengurangi CLC di atmosfer. Hingga mereka mulai mengakses jurnal-jurnal ilmiah di Google Scholer. Dari sana mereka mendapat ide untuk mengembangkan deterovement.

Di atas meja, Yahya menunjukkan lima peralon terpisah. Dua peralon sepanjang 15 sentimeter dan dua pralon lainnya sepanjang 30 sentimeter. Peralon pertama menjadi corong untuk menyedot polusi yang mengandung CFC. Pada peralon kedua terdapat kipas untuk mendorong udara menuju cerobong pertama. Yang terdapat sinar ultraviolet (UV). Pada proses ini, CFC yang terkena UV akan bereaksi dan memecah chlorin dengan karbon.

Lalu udara didorong masuk pada cerobong penyaringan kedua. Berupa busa yang terdapat larutan natrium hidroksida (NaOH). Larutan ini akan memfilter udara yang mengandung CL. Dan ketika dibuang, udara dalam keadaan netral atau bebas CL. Temuan ini tak semudah membalikan telapak tangan. Mereka melakukan ujicoba hingga 14 kali. Bahkan satu pak kertas pH juga habis.

"Jadi kami menemukan NaOH itu juga proses panjang. Makanya biayanya juga cukup tinggi. Kami buat sendiri untuk NaOH dengan soda api dan aquades. Formulanya juga kami hitung sendiri dengan rumusan kimia. Berkali-kali juga gagal, tapi ini bisa ketemu. Lalu, udara yang sudah kita filter juga kami uji lab-kan. Apakah hasilnya sudah netral atau masih mengandung CL atau sudah netral," ungkapnya.

Siswa lainnya, Defita, mengaku menghabiskan uang hingga Rp 1,9 juta. Proses uji coba alat filter CFC ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Meski mereka cukup terbantu dengan adanya internet. Sebagai sumber untuk pembuatan alat filter ini. Alat yang mereka kembangkan ini bisa dimanfaatkan untuk skala besar, terutama pabrik. Dengan efisiensi biaya dan penggunaannya.

"Pemilihan NaOH sebagai alat filter karena kami mencari bahan yang murah dengan efektivitas tinggi. Kalau digunakan untuk rumahan belum efektif karena biayanya mahal ya. Tapi, alat ini lebih bisa diterapkan untuk pabrik maupun perusahaan dengan penggunaan AC besar. Namun, pemberian NaOH harus dialiri terus menerus atau penggantian secara berkala. Dan ukurannya tentu lebih besar daripada ini," katanya.

Alat filter CLC ini mampu membawa prestasi bagi mereka. Sebab, alat temuan mereka sukses berlaga diajang karya ilmiah internasional. Berkat akses internet yang memadai, mereka bisa mengikuti ajang WICE 2022. Pelaksanaan karya ilimiah ini digelar secara daring. Persiapan matang dan ide cemerlang membuahkan medali perunggu.

Alat filter yang dinamai Deterovement ini berguna untuk mengurangi pemanasan global. Guna menyaring CFC yang berdampak negatif pada atmosfir. Alat ini juga menarik perhatian dunia. Mereka berhasil memboyong medali perunggu dalam kompetisi ilmiah World Invention Competition Exhibition (WICE) 2022 di Malaysia pekan lalu. Mereka berhasil menyisihkan 344 tim dari 25 negara. Baik dari perwakilan tingkat SMA maupun universitas.

Prestasi mereka juga mendapat apresiasi Kepala SMAN 3 Boyolali Bambang Prihantoro. Apalagi seluruh tahapan kompetisi ilmiah WICE 2022 menggunakan bahasa Inggris. Siswa mampu mempresentasikan alat filter CLC dengan baik. Bahkan dalam kegiatan penjurian, para siswa berhasil memberikan jawaban yang kritis.

"Kami mengapresiasi capaian tim KIR. Dan kami motivasi agar siswa secara rutin mengikuti lomba KIR nasional dan internasional. Selain itu, juga menggunggah siswa lainnya untuk bernalar kritis dan kreatif," ujarnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram
#SMAN 3 Boyolali #Filter Zat Perusak Ozon #chloro fluoro carbon #zat yang merusak ozon