Peraih medali perak para badmionton di event Paralimpiade Tokyo 2020 ini memiliki obsesi ingin menguasai arena pertandingan lingkup global. Selama diberi kesehatan dan kemampuan mumpuni untuk bersaing, dia akan terus berjuang demi bangsa dan negara
“Saya akan berusaha untuk itu. Karena bagaimanapun sejak jadi atlet, targetnya adalah meraih prestasi internasional,” ungkap atlet kelahiran Sidoarjo, Jatim saat ditemui di GOR Badminton di kawasan Solo Baru ini.
Suryo mengajak kaum muda Indonesia untuk selalu berbuat baik. Apapun bidangnya demi bangsa dan negara. Termasuk, di bidang para badminton. Potensi atlet para badminton Indonesia itu sangat besar. Tinggal memoles dan berlatih keras, pasti akan ada hasil.
“Karena itu, latihan itu perlu. Banyak yang berebut untuk gabung pemusatan latihan nasional (pelatnas) seperti saya dan teman-teman. Jadi gunakan kesempatan agar bisa lolos,” bebernya.
Soal perkembangan para badminton di tanah air, Suryo melihat saat ini sudah semakin maju. Hanya saja, perlu ada pembaharuan. Baik itu metode atau faktor lainnya. Sebab, setiap tahun pasti ada metode baru.
“Semakin berkembangnya zaman, semakin banyak metode baru bermunculan. Selain atlet, tim kepelatihan juga harus terus belajar,” tuturnya.
Semangat dan totalitas atlet kelahiran 1995 ini dalam mengharumkan nama bangsa memang patut diacungi jempol. Berbagai deretan prestasi telah disumbangkan Suryo. Mulai dari kejuaraan provinsi, kejuaraan nasional, ASEAN Para Games hingga kompetisi kelas dunia, termasuk paralimpiade.
Badminton memang sudah jadi belahan jiwanya. Maklum saja, kiprah Suryo dalam dunia olahraga tepok bulu sudah dimulai sejak usianya 7 tahun. Kala itu, kondisinya masih normal. Dia tergabung dalam klub Hi-Qua Wima di Surabaya. Berbagai lomba pun dijajali.
Kemampuannya dilirik oleh Kabupaten Merauke, Papua. Dia direkrut untuk ikut Arafura Cup pada 2006. Namun, kecelakaan sepeda motor menimpanya di Merauke. Tangan kirinya harus diamputasi. Suryo terpukul pastinya. Bukan hal mudah untuk menerima keadaan tersebut. Perlu waktu tiga tahun untuk bangkit.
“Waktu itu mental saya belum jadi. Masih minder kalau keluar. Padahal banyak teman datang ke rumah mengajak sekolah. Tapi saya belum mau. Sempat home schooling tiga bulan. Akhirnya bisa balik lagi ke sekolah dan kumpul bersama teman,” ceritanya.
Sulit baginya untuk menumbuhkan mental dari kondisi normal ke disabilitas. Tiga tahun itu, dia sama sekali tak bermain bulu tangkis. Dia berpikir, adaptasi keseimbangan dengan kondisinya sangat susah. Biasanya dia menggunakan dua tangannya.
Pada 2009, jalan baru terbuka baginya. Suryo kembali merajut mimpinya sebagai pebulu tangkis dalam National Paralympic Committee (NPC) Indonesia.
“Ayah (Slamet Riyanto) saya memberi tahu bahwa ada kompetisi khusus disabilitas, yakni Pekan Paralimpiade Nasional (Papernas) di Jogjakarta. Saya memutuskan ikut kompetisi itu. Alhamdulillah juara. Persiapannya bisa dibilang mepet, cuma sebulan. Saat latihan saya merasa beda. Metodenya beda dari sebelumnya. Namun sebulan itu tidak down lagi, saya cukup antusias,” bebernya.
Selang dua bulan, ada papernas di Bandung. Ini sebagai ajang seleksi nasional untuk mewakili Indonesia dalam ASEAN Para Games 2010 di Tiongkok. “Alhamdulillah, saya juara lagi. Nah, 2010 itu masuk pelatnas NPC hingga saat ini,” ungkapnya.
Seterusnya, Suryo terus berlatih dan mengikuti kejuaraan hingga saat ini. Mulai 2012 dia tak lagi mewakili Jawa Timur. Sebab, dia pindah domisili ke Solo.
Ketika ditanya hal paling unik selama perjalanan karirnya. Suryo mengaku saat mewakili Indonesia di kelas Men Singles SU5 bersama Dheva Anrimurthi pada ajang Paralimpiade okyo 2020. Suryo sukses menambah raihan medali perunggu Indonesia.
Tidak semua pemain bisa tampil di Paralympiade. Kualifikasinya saja sangat ketat. Hanya ranking tujuh terbaik dunia yang bisa isi slot. Suryo menduduki peringkat ketiga, sedangkan ranking pertamanya Dheva.
“Sebenarnya aturan baku itu satu negara satu pemain. Kebetulan Indonesia memiliki pemain di kelas SU5 itu dua, saya dan Dheva. Saya bimbang, pada saat kualifikasi dikabari bahwa kemungkinan cuma satu yang lolos,” ungkapnya.
Perasaan ketar-ketir tidak bisa dibendung. Namun, Suryo terus berusaha. Hingga akhir kualifikasi dia ikuti 10 event. Peringkatnya masih tetap di posisi ketiga. Dia bersyukur dapat wild card dan bisa ikut terbang ke Jepang. Di sisi lain, Indonesia tetap mengajukan slot tambahan. Sebab, memang ada haknya.
“Memang ranking 1-3 wajib main. Seneng banget sih saat mendapat kabar tersebut. Saya baru dengar kabar itu H-2 minggu pertandingan. Sedangkan saya pelatnas kurang lebih satu tahun. Dalam waktu itu saya tidak tenang,” bebernya.
Suryo bakal terus menambah medalinya untuk Indonesia. Terbaru, dia akan mengikuti World Champion di Tokyo. Dia akan berangkat pada 29 Oktober bersama sebelas temannya mewakili Indonesia. (nis/bun) Editor : Damianus Bram