Inovasi itu lahir di Sanggar Seni Sarotama Jalan Gunungsari, Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar. “Awal dibuat sekitar 2020. Almarhum Pak Manteb (Manteb Soedarsono dalang) pernah membelinya,” ujar Singgih Sri Cundomanik, ketua Sanggar Seni Sarotama, Kamis (13/10).
Pembuatan debok antibosok ini menjawab kegelisahan para pengasuh sanggar mengingat mereka cukup banyak dan sering membutuhkan debok untuk mengajari anak-anak mendalang. Seiring pesatnya pembangunan kota, untuk mendapatkan debok tidak gampang. Selain itu harganya tak murah.
“Sebelumnya kami memanfaatkan debok asli bekas dipakai wayangan malam Jumat Kliwon di TBJT (Taman Budaya Jawa Tengah). Habis pertunjukan, digotong ke sini untuk belajar anak-anak mendalang. Tapi nggak bisa dipakai lama karena busuk,” beber dia.
Cara membuang debok pisang juga tidak alakadarnya agar bau busuknya tak menyebar. Oleh pengasuh Sanggar Seni Sarotama, debok di-suwir-suwir lalu dijemur, baru dibuang. “Lama-lama waktunya habis hanya untuk ngurusi debok. Tapi memang debok yang asli lebih ramah lingkungan,” tutur Singgih.
Gayung bersambut, Arif, salah seorang wali murid Sanggar Sarotama hobi mengulik peralatan kesenian. Pengasuh sanggar kemudian menyedorkan bahan sintetis yang teksturnya mirip debok.
Oleh Arif, bahan sintetis tersebut dirakit sedemikian rupa agar fungsinya mendekati debok pisang. “Dahulu sambungannya masih direkatkan pakai lakban. Balungan (bagian tengah debok sintetis) menggunakan bambu. Jadi kurang rapi dan belum pakai pewarnaan,” ujar Singgih.
Pilot project debok antibosok terus dikembangkan. Dua bulan kemudian, dengan bahan yang sama, bentuknya bisa sangat mirip debok asli. Balungan tidak lagi menggunakan bambu. Cara perekatan diganti lem, sehingga lebih kuat dan rapi.
Bahan yang kami gunakan ini mudah ditusuk dan wayang bisa menancap kuat. Meskipun sering digunakan (kerap ditusuk gagang wayang kulit), bisa awet selama satu tahun. Kalau sudah banyak lubangnya, tinggal diputar saja. Yang tadinya bagian atas, ditaruh bawah,” beber Singgih.
Terjauh, konsumen debok antibosok ini berasal dari Palembang. Harganya dipatok Rp 175 ribu per meter. Yang dibeli almarhum Ki Manteb Soedarsono, imbuh Singgih, sepanjang 4,5 meter.
Sejak kali pertama dibuat, bahan yang digunakan sebagai pengganti debok tidak pernah berubah. Hanya saja cara pembuatannya dibuat lebih rapi dan elegan. Termasuk melapisi debok antibosok dengan cat agar warnanya mirip debok asli, yakni kombinasi semburat hijau dan cokelat. “Teknik pengecatan dilakukan dua kali,” ujarnya.
Ditambahkan Singgih, alternatif pengganti debok asli ada yang menggunakan jerami. Namun, dia menyebut cengkeraman tusukannya kurang kuat, sehingga wayang tidak dapat berdiri kukuh.
Apakah debok antibosok ini juga digunakan untuk pentas wayang kulit berskala besar? Singgih menyebut, debok antibosok merupakan alternatif. Terutama di masa pembelajaran daring kepada anak-anak Sanggar Seni Sarotama.
Kalau marem (puas)-nya, ya tentu pakai debok yang asli. Tapi debok antibosok ini lebih ringkas dan ringan,” katanya.
Pengamatan Jawa Pos Radar Solo, debok antibosok menggunakan bahan seperti busa. Sekilas, bentuk fisiknya sangat mirip dengan debok aslinya. Tapi ketika diangkat, jauh lebih ringan.
Terkait bahan apa saja yang digunakan dan bagaimana cara pembuatannya, Singgih berkelakar, rahasia perusahaan. (mg1/mg2/mg3/wa) Editor : Damianus Bram