SEPTIAN REFVINDA, Solo, Radar Solo
Sejak tiga bulan lalu, Taukhid Amirul Mukminin mantap mengenakan busana tradisional Jawa ketika mengajar di kelas. Aksi tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Selain untuk mengenalkan warisan budaya Jawa kepada para generasi muda, mengenaikan baju adat juga dapat menarik perhatian dan meningkatkan semangat kepada para siswa dalam proses pembelajaran.
Dalam kegiatan belajar mengajar, Taukhid yang juga guru mata pelajaran bahasa Jawa dan seni budaya di Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu (SMAIT) Nur Hidayah Sukoharjo itumengenakan busana berjenis Langenharjan dengan menggunakan beskap landhung. Lengkap dengan blangkon batiknya, dia tampak antusias memberikan penjelasan yang lengkap kepada murid-muridnya di depan kelas sambil menulis di papan tulis.
Aksi totalitasnya itu pun berhasil mencuri perhatian warga sekolah. Tak sedikit para siswa yang menanyakan jenis baju adat yang dipakainya. Dengan senang hati, Taukhid menjelaskan nama dan jenis pakaian adat yang dikenakannya kepada para siswa. Dukungan dan respons yang positif juga ditunjukkan para siswa dan para guru lainnya.
“Anak-anak itu terlihat antusias karena melihat gurunya sudah prepare sebelum mengajar jadi anak-anak semangat untuk belajar. Jika anak-anak semangat maka guru yang mengajar juga makin semangat,” ungkapnya.
Pada awal mengenakan baju adat, ada juga yang melihatnya dengan rasa aneh. Hal tersebut lantaran sesuatu yang belum biasa kadang tampak sedikit berbeda. Saat ditanya apakah tidak ribet mengenakan baju adat saat mengajar? dia menjawab tidak juga. Selama yang dipakai dalam wujud yang sederhana tentu tak seribet kala memakai pakaian adat dengan segala asesoris serta tata rias seperti pada saat pesta perkawinan.
Sebelum mengajar dia membutuhkan waktu selama 10-15 menit untuk berganti kostum dari seragam dinas menjadi pakaian adat. Kegiatan ini rutin dia lakukan sebelum melakukan pembelajaran di kelas. Tak hanya itu, mengenakan baju adat Langenharjan beskap landung di siang hari juga membuatnya terkadang merasa panas.
“Ditambah ini sekolah kami ada dua gedung putra dan putri. Dari gedung satu ke gedung lainnya itu harus naik motor. Jadi agak susah kalau pakai baju adat, tapi tetap luwes saja. Itu juga tidak menyurutkan semangat saya untuk mengajar mengenakan baju adat,” ucapnya
Taukhid memilih jenis busana itu karena ingat dan terinspirasi dari pakaian yang pernah dikenakan tokoh Ki Hajar Dewantara dalam pementasan kelompok ketoprak Wiswakarman Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Bukan tanpa alasan Taukhid mengenakan baju adat tersebut. Berdasarkan filosofi dan sejarah jawa. Bahwa para pemimpin bangsa dulunya diajar oleh guru yang mengenakan baju Langenharjan beskap landhung.
Lebih dari itu, para siswa juga diingatkan dengan kondisi di mana dulunya tidak semua anak bisa sekolah. Mungkin hanya anak yang mempunyai orang tua dari golongan bangsawan atau yang punya uang saja yang bisa sekolah. Maka dari itu, Taukhid berharap meskipun berasal dari masyarakat biasa, siswa yang diajar nantinya bisa sukses dan mempunyai kedudukan tinggi di mata masyarakat.
“Dulu yang diajar mengenakan baju ini hanya anak-anak petinggi dan orang penting. Jadi ini juga sebagai doa, agar generasi saat ini juga bisa tumbuh menjadi pemimpin bangsa yang handal,” tandasnya. (*/bun) Editor : Damianus Bram